41. APRICITY

1.9K 100 24
                                        

Hujan baru saja reda ketika Amora tiba di sebuah kafe yang telah mereka sepakati. Udara pagi yang terasa lembap, menyisakan aroma tanah basah yang samar menyelinap di antara hembusan angin. Dari balik kaca besar, ia melihat Delvin sudah duduk di pojok ruangan dengan segelas cangkir minuman.

Amora membawa tubuhnya melangkahkan masuk. Lonceng kecil di atas pintu berdenting lembut membuat Delvin sontak menangkap sosok Amora. Tatapan mereka bertemu, lelaki itu berdiri dan mempersilahkan sahabat kecilnya untuk duduk.

"Akhirnya kamu datang."

Amora hanya mengangguk. Ia menurunkan tasnya dan duduk di hadapan wajah yang sudah lama tidak ia temui tanpa sepatah kata pun.

"Ada apa?" tanya Amora tanpa memberi waktu bagi pria itu berbasa-basi.

Delvin tersenyum tipis, kedua bola matanya menyimpan jejak kerinduan yang tidak dapat disembunyikan. Selanjutnya ia berbicara, "gue mau minta maaf, Mor. Atas semua kesalahan gue di masa lalu." Suaranya berat menahan emosi. "Gue tahu gue salah karena ninggalin lo sendirian di Panti. Gue melanggar janji kita. I broke our promise."

Amora tersenyum lembut, tangannya diam-diam sibuk memainkan jam tangan di bawah meja. "Gue udah memaafkan lo dari lama. Gue justru bersyukur karena lo bisa hidup seperti yang kita selalu impikan selama ini. Menjadi seorang pangeran, benar?"

"Mor..." Delvin menatapnya dalam. "Tapi seharusnya lo juga jadi tuan putri, hidup berdampingan sama pangeran itu. Gue nyesel ninggalin lo saat itu."

"Keputusan lo waktu itu untuk ikut mereka udah yang terbaik, Vin. Salah satu dari kita berhak bahagia dan gue ngerti."

Delvin menatapnya lama, lalu bertanya lirih,
"Apakah lo juga bahagia, Mor?"

Amora mengangkat pandangan, menatap pria itu dengan alis sedikit berkerut. "Apa maksud lo?"

Delvin tak langsung menjawab. Pandangannya turun perlahan, menatap ke arah perut Amora yang tampak membulat di balik dress longgar berwarna pastel. Ia menarik napas dalam, lalu berkata lirih, "Gue minta maaf sebelumnya. Gue udah lancang nyari tahu tentang lo tanpa izin. Gue cuma...gue cuma pengen tahu kabar lo dan gue tahu, kalian menikah bukan karena cinta, tapi karena keadaan kan?"

Amora terpaku. Tatapannya kosong sesaat sebelum ia bisa merangkai kata. "Vin-"

Delvin memotong cepat. Ia menggenggam tangan Amora. "If you don't like Anizhar, I'm ready to replace him. Gue nggak tahan lihat lo menderita, Amora. Gue nggak bisa pura-pura bahagia disaat tahu lo nggak bahagia!"

"AMORA!"

Belum sempat Amora menjawab, suara menggelegar bagaikan petir memanggil namanya. Tubuh Amora menegang seketika. Ia menoleh refleks dan di ambang pintu berdiri Anizhar dengan wajah tegas, rahang mengeras, dan tatapan marah-kecewa yang terbaca.

Langkah Anizhar berat memasuki cafe. Suara sol sepatunya terdengar jelas di lantai kayu kafe yang kini terasa terlalu sunyi. Beberapa pengunjung mulai memperhatikan mereka.

Amora berdiri, begitu pula Delvin.

"Anizhar-"

"Apa yang lo lakukan di sini, Amora?" Suara Anizhar rendah dan tajam. Ia menggenggam tangan istrinya, menarik Amora perlahan ke belakang punggung untuk melindunginya dari tatapan Delvin.

Kilatan mata tajam Anizhar menubruk tepat titik tengah mata Delvin

Delvin membalas tatapan itu dengan tenang. "Jangan sakiti Amora, gue cuma pengen ngobrol sama dia."

Anizhar melangkah maju, jaraknya kini tinggal sejengkal dari pria itu. "Ngobrol? Setelah lo bilang mau 'gantiin' gue di depan istri gue?" Nada suaranya naik setingkat.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 24, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

APRICITY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang