"Mau coba yoga ibu hamil, nggak?" tanya Anizhar tiba-tiba begitu menemukan sosok Amora yang tengah asik memberi makan Banny—kelincinya.
Amora yang sebelumnya tengah asik memberi makan kelincinya pun mendongak. "Hum, boleh?" tanya Amora ragu, pasalnya dia juga bosan dirumah tanpa melakukan banyak pekerjaan. Ditambah Anizhar sangat melarangnya menginjakkan kaki di dapur.
Anizhar mengangguk. "Ya. Istri kenalan gue buka kelas yoga ibu hamil, kalau lo mau gue bisa daftarin sekarang," tutur Anizhar dengan pandangan lurus ke arah Amora yang tengah duduk di rumput.
"Mau, gue juga bosan di rumah mulu," sahut Amora dengan nada semangat.
Alis Anizhar meninggi, ia menatap curiga. "Lo ga akan memanfaatkan kebaikan gue untuk kabur kan?"
Amora langsung memasang wajah masam, merasa tersinggung. "Ide bagus. Nanti gue coba kabur diam-diam," jawabnya dengan nada santai, tapi penuh sarkasme.
Anizhar menatapnya tajam. "Jangan macam-macam," ucapnya dengan nada tinggi. "Kalau sampai lo kabur, gue nggak bakal segan patahin kedua kaki lo."
Amora menelan ludah, merasa bulu kuduknya meremang mendengar ancaman Anizhar. Kemudian ia memilih untuk mengalihkan perhatian pada Banny, kelinci kecilnya yang tampak sibuk mengunyah sayuran.
"Gue cuma bercanda, Zhar," ujar Amora akhirnya, meski nadanya terdengar datar.
Anizhar terdiam sejenak, matanya menyipit seperti mencoba mencari tanda-tanda kebohongan di wajah Amora. Setelah beberapa saat, dia akhirnya mengembuskan napas panjang dan melonggarkan ekspresinya. “Bagus kalau lo ngerti,” katanya dingin. Akan tetapi, matanya tetap memandang Amora dengan sorot tajam.
Amora mendengus pelan, merasa lelah menghadapi sikap paranoid lelaki itu. "Kalau gue jadi kelinci, mungkin gue udah lompat keluar dari kandang ini," gumamnya, cukup pelan agar Anizhar tak mendengarnya sembari mengelus kepala Banny.
"Apa lo bilang?” tanya Anizhar dengan tatapan menyipit.
“Bukan apa-apa,” jawab Amora cepat, tidak ingin memulai debat lagi dengan pria menyebalkan itu.
Anizhar memandangnya beberapa detik sebelum melirik ponselnya. "Besok lo bisa mulai yoga jam 9 pagi. Gue bakal minta sopir buat anterin lo."
“Ya ya, terserah lo,” ujar Amora, mencoba terdengar tidak peduli. Akan tetapi, senyumnya perlahan mengembang ketika ia membayangkan dirinya bisa keluar dari rumah meskipun hanya satu hingga dua jam.
Melihat senyumnya, Anizhar mendengus. "Jangan bikin gue nyesel daftarin lo."
Amora mendongak dengan ekspresi menggoda. “Tenang aja, Bos. Gue bakal jadi murid yoga paling rajin yang pernah lo temui."
Namun, Anizhar hanya melengos pergi tanpa menanggapi. Amora menatap punggungnya yang semakin menjauh, lalu kembali mengelus kepala Banny. Dalam hati, ia mulai bertanya-tanya bagaimana kelas yoga besok akan berjalan. Tidak sabar menantikannya.
.O.
Saking semangatnya keluar rumah guna mengikuti kelas yoga besok, Amora sampai-sampai mencari berbagai informasi terkait kelas yoga untuk ibu hamil. Perempuan itu juga menonton beberapa video yoga yang ada di YouTube sambari memakan cemilan berupa potongan buah-buahan yang baik untuk ibu hamil.
Amora sedang asyik menonton video yoga yang dia tonton lewat televisi. Dalam video itu, seorang instruktur yoga memperagakan gerakan-gerakan sederhana untuk ibu hamil. Dia mencoba meniru gerakan sederhana yang disebutkan sang instruktur.
"Tarik napas dalam-dalam…hembuskan perlahan." gumam Amora mengikuti instruksi, meskipun sesekali ia berhenti untuk mengambil buah.
Namun, fokusnya tiba-tiba terpecah ketika bel rumah berbunyi. Ia melirik jam di dinding. Bi Susi baru keluar lima menit. Nggak mungkin dia balik secepat ini, pikirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
APRICITY
Teen Fiction"Lo hamil tapi gak tahu siapa ayahnya. Bahkan lo ga mikir gimana lo bisa hamil. Kalau ga tolol apa namanya, bego?" ──── Amora Keylani, gadis beruntung yang memperoleh beasiswa prestasi di Biantara High School. Hidupnya yang biasa-biasa saja membuat...
