39. APRICITY

4.5K 193 8
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Amora tidak segera membalas pesan dari Delvin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Amora tidak segera membalas pesan dari Delvin. Dia masih memikirkan apakah harus menyetujui ajakan Delvin untuk bertemu atau tidak. Kalaupun memang bertemu, mungkin dia hanya bisa melakukannya secara diam-diam.

Amora menghela napas, melirik keberadaan buket bunga mawar jumbo yang tergeletak di sudut kamar.

Bunga itu merupakan pemberian Anizhar. Entah sejak kapan lelaki itu mempersiapkannya, tepat pukul 10 malam seorang kurir mengantarkan buket bunga mawar itu ke pintu rumah mereka. Saat itulah Amora sedikit percaya bahwa Anizhar benar-benar serius dengan ucapannya.

Dan sejak kemarin malam, Amora terus berpikir cara agar ratusan mawar merah itu tidak sia-sia berada di tangannya. Sayang rasanya jika bunga secantik itu dibiarkan layu.

Ia meletakkan ponselnya dan bangkit perlahan, satu tangan menopang perut bundarnya. Jari telunjuknya menekan tombol di sisi tempat tidur, tak lama kemudian seorang wanita paruh baya dengan pakaian maid masuk.

"Bibi, tolong bongkar saja buket mawar itu. Taruh di vas-vas bunga dan letakkan satu di kamar ini," pintanya sambil tersenyum.

"Baik, Non," jawab wanita itu dengan anggukan sopan.

Tidak lama kemudian beberapa maid lain datang menyusul dan buket bunga mawar yang indah itupun dibawa keluar dari kamarnya. Tidak lama kemudian, setelah buket mawar merah itu dibawa pergi sosok Anizhar justru muncul dan masih dalam balutan seragam sekolahnya.

"Mau dibawa kemana?" tanyanya, merujuk pada buket bunga mawar yang semalam ia siapkan untuk Amora.

"Uhm, gue minta bibi untuk naruh mawar-mawar itu ke dalam vas. Lo keberatan?" Mengingat Anizhar yang melihat bunga itu dikeluarkan, Amora khawatir lelaki itu merasa tersinggung dengan tindakannya.

Namun, sebaliknya Anizhar justru menggeleng dan meletakkan tangan kanannya untuk mengusap puncak kepala Amora. "Selama lo suka, gue ga keberatan."

Perlakuan manis Anizhar yang datang secara tiba-tiba tak ayal membuat ujung daun telinga Amora memerah. Gadis itu segera bergerak mundur membuat tangan Anizhar menggantung di udara.

APRICITY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang