"Cantik," puji Anizhar dengan suara rendah.
Satu kata yang keluar dari mulut Anizhar tak ayal membuat Amora terbatuk pelan. Perempuan itu langsung menaruh buket bunga yang dia pegang dengan gerakan canggung.
"Gak lucu. Lo terlalu aneh kalau mau serius sekarang," ucap Amora, menyilangkan tangan di dada, pandangannya tetap tertuju ke luar jendela.
Sementara Anizhar menyandarkan tubuhnya ke kursi kemudi. Matanya tak lepas dari Amora yang enggan menatapnya. "Gue nggak minta lo ngerti sekarang, Amora. Gue gak keberatan untuk membuktikan semuanya secara bertahap sampai lo percaya." Suaranya rendah, nyaris seperti desahan.
Amora menghela napas. "Terserah, lagipula gue gak keberatan kalau suatu saat nanti kita bercerai."
Anizhar menatapnya lekat-lekat dengan rahangnya mengeras. "I promise that will never happen," jawab Anizhar tegas.
.O.
"Lo harus datang ke acara peresmian rumah sakit di Jogja. Gue udah pesan tiket pesawat jam 10:00. Jadi, lo bisa antar Amora dulu ke tempat Yoga," ucapan Varga terdengar tegas hingga membuyarkan lamunan Anizhar tentang kejadian kemarin malam.
"Om Absena juga akan hadir," lanjutnya.
Salah satu sudut mulut Anizhar terangkat. "Si tua bangka itu selalu saja seenaknya."
Varga hanya menghela napas, dia sudah terbiasa dengan sikap permusuhan yang ditunjukan oleh Anizhar kepada ayah kandungnya. "Lo gak perlu khawatir. Selama lo hadir, om Absena akan puas." lanjut Varga dengan tangan menepuk pundak Anizhar beberapa kali.
"Hm, gue harus bilang ke Amora juga," gumam Anizhar yang masih dapat didengar oleh Varga.
Varga menoleh sekilas, sesaat pemuda itu tertegun melihat keraguan pada eksperesi Anizhar yang jarang ia lihat. "Perlu gue bantu?" tawarnya sesuai sadar.
Anizhar menggeleng. "Gak perlu. Biar gue urus."
Varga menganggukkan kepala. "Gue yakin Amora pasti paham. Kalau lo khawatir, gue bisa minta bantuan Sira untuk jagain Amora."
"Sira?" Langkah Anizhar terhenti, alisnya terangkat.
"Sahabat Amora. Cewek yang minta bantuan ke kita waktu itu."
Mata Anizhar sedikit melebar dengan kepala yang naik turun dengan pelan. Dia sedikit ingat dengan sahabat satu-satunya istrinya itu. Beberapa kali, Bi Susi pernah melapor jika sahabat Amora datang ke rumah. "Oh. Sejak kapan lo dekat sama dia?" tanyanya penasaran.
Varga mengedikkan bahu dengan santai. "Entahlah, dia sedikit imut."
Mendengar itu alis Anizhar sempat terangkat heran. "Gue gak nyangka lo bakal ngomong kayak gitu." ucapnya sebelum kembali menggerakkan kedua kaki kokohnya menyusuri lorong, disusul oleh Varga di belakangnya.
Saat mereka tiba di kelas, suasana kelas yang terasa sangat ramai membuat alis Anizhar meninggi. Anizhar menyapu pandangannya ke seluruh kelas. Beberapa siswa tampak bergerombol sambil bercakap-cakap dengan antusias di bangku pojok belakang dekat jendela. Suara riuh mereka bercampur hingga memenuhi ruangan.
Anizhar dan Varga mendekat ke salah satu siswa yang tidak ikut bergerombol. “Ada apa di sana?" tanyanya datar menunjuk bangkunya yang dikelilingi oleh segerombolan murid.
Murid itu, seorang anak laki-laki berambut ikal, mendongak kaget begitu menyadari siapa yang bertanya. "An-anu zhar, itu a-ada pa-car lo," ucapnya patah-patah.
"Pacar?" Anizhar mengernyit, pandangannya langsung beralih ke Varga yang tampak santai.
Varga mengembuskan napas. "Chana," ucapnya melihat ekspresi bingung Anizhar.
KAMU SEDANG MEMBACA
APRICITY
Roman pour Adolescents"Lo hamil tapi gak tahu siapa ayahnya. Bahkan lo ga mikir gimana lo bisa hamil. Kalau ga tolol apa namanya, bego?" ──── Amora Keylani, gadis beruntung yang memperoleh beasiswa prestasi di Biantara High School. Hidupnya yang biasa-biasa saja membuat...
