"Bagaimana, dok? Apakah sahabat saya dan kandungannya baik-baik saja?" tanya Sira dengan nada penuh kekhawatiran, kedua tangannya saling meremas.
Dokter itu tersenyum tipis, mencoba menenangkan. "Kondisi kandungannya baik-baik saja, untuk selanjutnya saya anjurkan perbanyak istirahat dan menjaga pola makan. Untuk mual yang dialami itu normal, mengingat usia kandungan masih trimester awal. Saya akan meresepkan obat untuk membantu mengurangi keluhannya."
Sira menghela napas lega mendengar penjelasan dokter, meskipun kekhawatiran di hatinya belum sepenuhnya hilang.
Namun, reaksi Anizhar justru bertolak belakang. Urat di leher lelaki itu tampak menegang, matanya penuh emosi. "Normal?! Lo yakin dia baik-baik aja setelah muntah sebanyak itu?! Kalau anak gue celaka, lo mau tanggung jawab, hah?!" Cengkeramannya di lengan dokter membuat suasana di ruangan terasa menegang.
"Anizhar, tenang!" Varga segera melangkah maju, meraih lengan Anizhar, mencoba melonggarkan cengkeramannya. "Lo enggak bisa kayak gini. Dokter lebih tahu tentang kondisi Amora!"
Anizhar menoleh tajam ke arah Varga, napasnya terdengar berat. "Dia bilang ini normal, Ga! Tapi lo lihat sendiri tadi di restoran, Amora muntah sampai lemas kayak gitu. Gimana kalau sampe anak gue kenapa-kenapa?!"
Suaranya meninggi, penuh tekanan. "Asal lo tahu, anak itu enggak boleh dalam bahaya. Dia keturunan Shailendra!"
Plak!
Sebuah tamparan keras dari Sira membuat ruangan menjadi senyap. Anizhar terpaku, menatap Sira dengan tidak percaya.
"Brengsek! Lo cuma peduli sama janin itu?!" Sira menatapnya tajam, matanya berkilat marah. "Lo pikir Amora cuma alat buat ngandung anak lo?! Dia yang sakit, dia yang muntah sampai lemas, tapi lo cuman peduli sama janin itu! Bagaiman dengan Amora?!"
Anizhar menyugar rambutnya kebelakang, mendekatkan tubuhnya ke arah Sira sambil menunduk sedikit untuk menatap tajam sahabat istrinya itu. "Dengan memperdulikan anak gue, berarti gue juga khawatir atas kondisi Amora. Mereka sepaket."
Sira tertawa pendek, penuh sinis. "Sepaket? Lo kira sahabat gue barang yang bisa lo giniin?" Kedua matanya berkilat berani membalas tatapan tajam Anizhar. "Bangsat, kalau lo ga bisa ngurus sahabat gue, biar gue yang urus!"
Mata Anizhar membara. "Lo terlalu berani, Sira!" suaranya berat penuh emosi.
Sira mengalihkan pandangannya dengan dingin, lalu berjongkok di sisi ranjang Amora. Wanita hamil itu tidur dengan tenang, seolah tidak terusik oleh keributan yang terjadi di sekitarnya.
Varga kembali menepuk bahu Anizhar, kali ini lebih tegas. "Tenangin diri lo, Zhar. Mereka baik-baik aja. Percaya sama dokter Agus."
Ketegangan di wajah Anizhar terlihat jelas. Dia menyapu wajahnya dengan kasar, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah penuh emosi.
"Sial!" gumamnya sebelum meninggal kamar dengan penuh emosi.
.O.
Anizhar menatap langit malam dari balkon kamar dengan ekspresi datar, sesekali meneguk alkohol dari gelas di tangannya. Taburan bintang di langit gelap terlihat tidak menarik di matanya, bertolak belakang dengan suasana hatinya yang berkecamuk. Angin malam yang berhembus dingin hingga menyapu wajahnya alih-alih membuat tenang justru membuat kepalanya semakin panas.
"Minum?" Suara Varga memecah kesunyian. Pemuda itu berdiri di ambang pintu balkon, tangan terlipat di dada, menatap punggung sahabatnya dan sebotol alkohol di meja secara bergantian.
Varga melangkah mendekat, ikut bersandar di pembatas balkon. "Amora udah bangun. Lo nggak mau lihat dia?"
"Enggak perlu." Anizhar menjawab singkat, meneguk alkoholnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
APRICITY
Teen Fiction"Lo hamil tapi gak tahu siapa ayahnya. Bahkan lo ga mikir gimana lo bisa hamil. Kalau ga tolol apa namanya, bego?" ──── Amora Keylani, gadis beruntung yang memperoleh beasiswa prestasi di Biantara High School. Hidupnya yang biasa-biasa saja membuat...
