29. APRICITY

5.6K 188 43
                                        

Kemenangan Anizhar dirayakan dengan sangat meriah oleh Chana. Gadis itu mengundang semua pendukung Anizhar untuk makan-makan di restoran all you can eat, termasuk Amora dan Sira yang tak kuasa menolak. 

Di ujung ruangan, Anizhar dan Chana duduk bersama di satu kursi. Di sisi mereka, Varga dan Reylin juga terlihat duduk berdampingan. Sementara itu, Amora dan Sira bergabung dengan para pendukung lain di meja terpisah. 

"Dia pacarnya Varga, ya?" tanya Amora, mengikuti arah pandang Sira.

Sira menggeleng. "Enggak tahu." 

Bahunya merosot lemas. "Semoga bukan, deh." 

Mendengar itu, Amora langsung tertarik. "Lo cemburu? Bukannya kalian udah tukeran kontak? Tanya aja lewat WA." 

"Enggak sedekat itu. Gue sama dia cuma beberapa kali saling reply story atau bahas soal lo." 

Amora langsung melotot. "Apa yang kalian bahas tentang gue?" 

Sira panik menyadari kesalahannya. "Cuma hal biasa, Mor, enggak aneh-aneh. Rahasia lo juga masih aman sama gue, suer!" Sira mengangkat dua jari, berusaha meyakinkan. 

"Awas lo kalau ember!" ancam Amora. 

"Enggak! Sumpah!" Sira melakukan gerakan mengunci mulut. 

Amora mendengus, mengambil segelas air mineral di depannya untuk membasahi tenggorokan. Sejak memasuki restoran, perutnya terasa tidak nyaman. Lebih tepatnya, sangat tidak nyaman karena aroma daging yang menguar memenuhi ruangan. Begitu masuk, Amora hampir muntah dan bahkan sempat pergi ke toilet selama beberapa menit. 

"Lo mual lagi?" tanya Sira sambil memperhatikan Amora yang menyemprotkan minyak kayu putih ke tisu. 

"Enggak kok." 

"Bohong. Pulang aja yuk!" Sira hendak berdiri, tapi tangannya segera ditarik oleh Amora. 

"Gue enggak apa-apa, Sira," Amora meyakinkan sahabatnya. "Lo kalau mau makan, makan aja. Gue masih kenyang." 

"Kenyang apaan? Lo tadi bilang cuma makan roti doang pagi ini. Pasti sekarang lo enggak napsu lihat daging, kan?" tebak Sira. 

"Enggak kok—" 

"Ada apa, Sira? Kok kalian enggak ikut makan? Nih, ambil!" 

"Iya, Kak Meta. Nanti aja," Sira menolak halus tawaran seorang perempuan bernama Meta. 

Di tengah obrolan, mereka sempat berkenalan. Rupanya, Kak Meta adalah seorang mahasiswa di salah satu top universitas di Indonesia sekaligus alumni Biantara High School. 

Seorang pria bernama Dimas, pacar Kak Meta, menimpali, "Sini gue ambilin beberapa. Jangan sungkan. Silakan dinikmati mumpung gratis." 

"Betul!" Kak Meta mengangguk setuju.

"Omong-omong, Chana baik banget ya, ngajak kita makan-makan di sini. Selain baik, cantik juga. Cocok sama Anizhar yang tampan dan kaya. Iya kan, Beb?" Kak Meta menyenggol lengan pacarnya. 

"Iya, Beb. Mereka juga couple goals di Biantara," jawab Dimas. 

"Wah, romantis banget!" Kak Meta bertepuk tangan kecil, tampak kagum. 

"Nih, daging buat kalian. Dimakan ya, gue udah capek manggang nih!" Dimas berkata dengan nada bercanda. 

Amora dan Sira mengangguk canggung. 

"Makasih, Kak," ujar Amora. 

"Jangan cuma makasih, Mor. Dimakan juga. Lo doyan daging kan?" ucap Meta. 

APRICITY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang