Membuat Anizhar jatuh cinta kepadanya terdengar mustahil. Daripada repot-repot melakukan segala cara guna menarik perhatian lelaki itu, lebih baik Amora tidur saja setiap hari. Mengisi daya untuk menghadapi sikap dominasi pria itu. Toh, mereka menikah bukan karena cinta, tetapi karena bayi dalam kandungannya.
Lagipula Anizhar sejauh ini hanya mempedulikan kondisi sang bayi, mengabaikan dirinya yang sering kali tertekan karena sikap sombong dan parno nya. Sebenarnya utama penyebab dirinya stress adalah pria itu. Kalau saja bukan Anizhar, dia tidak akan membahayakan kandungannya. Semua salah pria itu, tetapi Anizhar tidak sadar.
Menyebalkan
Seperti saat ini, meski pria itu tidak berada di rumah Anizhar seolah memiliki seribu satu cara membuat Amora menggerutu.
[Iblis 👿]
[Bisa ga sih Lo ga usah ngeyel kalau gue larang?]
[Lo ga peduli sama dia?]
[Kalau lo terkena minyak panas atau kompor meledak waktu lo masak, lo mau tanggung jawab?]
[Dengerin deh, mor ga usah banyak tingkah. Gue ga mau si bayi terluka gara-gara ibunya ga becus ya!]
[Bawel]
Amora membalas pesan Anizhar dengan satu kalimat dongkol.
Tadi sewaktu hendak mengangkat bolu yang di kukus, Amora tanpa sengaja menyenggol dinding panci kukus yang panas membuat tangannya sedikit melepuh. Bibi Susi yang kebetulan mendengar teriakannya lantas melaporkan kejadian tadi kepada Anizhar. Tentunya membuat dia langsung mendapatkan pesan beruntun dari Anizhar. Bahkan lelaki itu menelpon Amora sebanyak 21 kali. Amora yang baru membuka hp nya pun lantas terkejut sekaligus merasa dongkol membaca pesan dari Anizhar yang menurutnya kelewatan.
Hanya masalah kecil dan Anizhar terlalu melebih-lebihkannya.
Bunyi notifikasi membuat Amora kembali melirik ponselnya.
Anizhar : Gue ga suka cewe bebal. Mulai hari ini jangan pergi ke dapur.
Tuh kan! Memang pemuda itu gemar sekali mengeluarkan ancaman menyebalkan. Siapa pula yang bebal? Amora hanya merasa bosan kalau hanya berdiam diri di rumah. Lagipula bukan urusannya memikirkan tipe perempuan idaman lelaki itu.
Anizhar sangat cerewet.
Amora mendekus, memblokir kontak Anizhar sehingga dia tidak perlu menerima pesan yang berpotensi membuat darahnya naik.
Jari jemari Amora beralih pada kontak Sira, perempuan itu mengetikkan beberapa pesan.
[Sira]
[P]
[Gue bosan, healing yuk!]
Tanpa menunggu lama, Sira mengirimkan balasan.
[Kebetulan gue juga mau ajak lo
ke suatu tempat, mor.]
[Kemana tuh?]
[Nonton lomba renang]
[Besok gue jemput dan kita langsung berangkat ya mor!]
[Hm ok deh]
Meski penasaran dan merasa heran karena tumben sekali temannya itu mau menonton pertandingan olahraga, Amora menyanggupinya. Gadis itu berjalan menuju lemari, memilih pakaian yang kira-kira akan dia gunakan besok.
KAMU SEDANG MEMBACA
APRICITY
Novela Juvenil"Lo hamil tapi gak tahu siapa ayahnya. Bahkan lo ga mikir gimana lo bisa hamil. Kalau ga tolol apa namanya, bego?" ──── Amora Keylani, gadis beruntung yang memperoleh beasiswa prestasi di Biantara High School. Hidupnya yang biasa-biasa saja membuat...
