37. APRICITY

7K 265 25
                                        

Langkah Anizhar terhenti saat melihat Amora yang tersenyum lebar. Wajah gadis itu tampak bersinar cerah, semakin cantik dengan senyum yang lebar dan mata berbentuk bulan sabit. Akan tetapi, alasan di balik senyum Amora bukanlah dirinya, melainkan seorang lelaki lain yang entah siapa dengan tidak sopan berani berbicara dengan Amora-perempuan yang telah menjadi miliknya.

Miliknya, huh?

Semakin lama Amora berinteraksi dengan lelaki asing itu, semakin dingin tatapan Anizhar. Dia membenci pemandangan ini. Amora tidak seharusnya memberikan tawa lebar kepada lelaki asing itu. Tawa itu, seharusnya hanya untuknya.

Tubuhnya otomatis bergerak mendekati mereka dengan aura tidak bersahabat. Tatapannya dingin, rahangnya mengeras dan jemarinya mengepal di sisi tubuhnya. Ia tidak bisa menahan rasa tidak nyaman yang semakin membuncah di dadanya.

Amora miliknya. Kata itu terus bergema dalam pikirannya, meskipun ia tak pernah benar-benar mengakuinya.

Senyum Amora terlalu lebar untuk seseorang yang bukan dirinya. Tawanya terlalu tulus untuk lelaki yang bahkan tidak ia kenal. Hal itu membuat darahnya mendidih, dan ada sesuatu dalam dirinya yang menolak keras kenyataan bahwa ada orang lain yang bisa membuat Amora begitu bahagia.

"Siapa lo?" tanya Anizhar dengan suara rendah yang penuh ancaman.

Amora menoleh, ekspresinya terkejut melihat Anizhar yang mendekat dengan wajah gelap. Aura di sekeliling tubuhnya sedingin angin tornado yang siap menghancurkan mereka berdua.

"Anizhar," panggil Amora pelan, masih terkejut merasakan aura yang tidak biasa dari Anizhar.

"Siapa dia, Amora?" tanya Anizhar sekali lagi dengan nada rendah tetapi penuh ancaman, tatapannya langsung tertuju pada lelaki asing yang berdiri di hadapan Amora.

Kontras dengan ekspresi Anizhar yang gelap. Lelaki asing itu justru tersenyum hangat dengan tangan yang terulur ramah ke arah Anizhar. "Gue Delvin. Sahabat Amora sejak kecil," ucapnya memperkenalkan diri sekaligus memberitahu hubungan dekat diantara mereka.

Anizhar menatap sekilas uluran tangan lelaki bernama Delvin tanpa minat. Alih-alih menyambut uluran tangan itu, Anizhar malah melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Amora. Memaksa wanita hamil itu untuk merapat lebih dekat dengan tubuhnya. "Gue Anizhar, suami Amora," balasnya dengan suara rendah, seolah menegaskan bahwa statusnya lebih tinggi daripada lelaki asing itu.

Ucapan Anizhar membuat Amora terkejut dalam rengkuhan lelaki itu. Ia tak menyangka Anizhar akan begitu blak-blakan.

Sementara Delvin hanya menatap Anizhar dengan senyum yang tak luntur. Tangannya yang sempat terulur ia tarik kembali dengan tenang. "Salam kenal, Anizhar. Lo beruntung bisa mendapatkan perempuan secantik Amora. Kalian pasangan yang serasi," ujarnya.

Rengkuhan Anizhar pada pinggang Amora semakin menguat. Sementara mata Anizhar menyipit, tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan Delvin yang terdengar tulu. Tetapi, alih-alih menanggapi, ia hanya mengangguk kecil, tetap mempertahankan tatapan tajamnya.

Amora merasa semakin tak nyaman berada dalam rengkuhan Anziahr. Tubuh hamilnya sedikit memberontak, mencoba melonggarkan cengkeraman Anizhar, meski sia-sia. Anizhar seolah menancapkan dirinya sebagai benteng kokoh yang tak bisa digoyahkan.

"Delvin, terima kasih sudah menyapa gue. Tapi, kayaknya kami harus pergi sekarang," ucap Amora akhirnya, berusaha mengakhiri suasana tidak nyaman di antara mereka bertiga.

Delvin tersenyum dan menatap Amora dengan lesung pipinya yang tampak. "Tentu, Mor. Gue harus lanjut belanja. Kapan-kapan kita bisa ketemu lagi dan tolong lebih perhatikan kesehatan kalian," tuturnya, mengarahkan pandangan pada perut Amora.

APRICITY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang