Di halaman belakang, Amora dengan sekop di tangan kanannya dan beberapa biji cabai di tangan kirinya tengah sibuk berkebun. Sejak bangun tidur tadi, tiba-tiba saja Amora merasa ingin berkebun, alhasil disinilah dirinya sekarang. Duduk dengan tangan yang kotor terkena tanah. Bahkan gadis itu tidak mempedulikan ujung dasternya yang ikut terkena tanah.
Setelah menjelajahi dapur, kebetulan sekali Amora menemukan cabai kering. Setelah direndam sebentar, Amora pun berniat untuk menanamnya di halaman belakang yang kebetulan memiliki lahan kosong. Nanti saat buahnya mulai tumbuh, Amora bisa langsung memetiknya dan tidak perlu repot-repot ke pasar. Memikirkan itu membuat hati Amora berbunga-bunga.
"Sayang!! Kamu dimana, Mi Amor!" Teriakan Anizhar dari dalam rumah mengalihkan fokus Amora.
"Di sini! Jangan teriak-teriak Anizhar!" omelnya, tanpa berhenti melakukan kegiatan berkebun.
Tidak lama kemudian, Anizhar muncul dengan penampilan yang sudah rapi dan wangi. Lelaki itu tampak menawan menggunakan jas dan aroma tubuhnya yang maskulin pun memenuhi rongga indra penciuman Amora. Raut wajahnya yang tadi penuh dengan kekhawatiran seketika tampak lebih rileks setelah melihat sosok istrinya yang tengah hamil sedang sibuk berkebun.
Anizhar berjongkok di samping Amora, mengamati wajah istrinya yang terlihat sangat serius. Semakin lama mengamati, Anizhar semakin menyadari kalau Amora memiliki fitur wajah yang indah. Pipinya lebih berisi dengan bola mata yang indah, saat sedang serius begini entah mengapa Anizhar merasa Amora-nya justru imut.
"Ish, Nizhar! Jangan colek-colek!" protes Amora saat pipinya di mainkan oleh Anizhar. Gadis itu menoleh dengan tampang garang yang justru menambah keimutannya di mata Anizhar.
"Lagi ngapain, sayang?"
"Nanam cabe," jawab Amora seadanya. Sejak momen kemarin sore, Anizhar semakin berani untuk memanggilnya dengan berbagai sebutan manis dan halus. Meski Amora tidak terbiasa dan merasa aneh, dia berusaha untuk bersikap biasa saja. Lagipula percuma untuk melarang pria keras kepala itu.
Semakin dilarang, Anizhar justru semakin berani.
"Ngapain lo nanam cabe, tinggal beli di supermarket kan bisa." Anizhar mengamati istrinya.
Amora spontan cemberut. "Mau aja, lagian kayaknya lebih seru memanen cabe sendiri daripada beli. Selain cabe gue juga mau nyoba nanem tomat, terong, sama kemangi," ucapnya antusias.
Anizhar mengulum senyum mendengar antusiasme Amora. Selama istrinya senang, dia tidak akan protes. "Nanti gue carikan macam-macam bibit tanaman. Asal jangan terlalu memaksakan diri. Gue gaji pelayan biar lo bisa lebih fokus sama Baby Boo."
"Iya-iya." Amora mendengus.
Setelah semuanya selesai, Amora kembali berdiri, gadis itu menatap bekas galiannya dengan ekspresi puas. "Gue mau mandi, jam berapa ini?"
Anizhar melirik arloji di pergelangan tangannya. "07:45. Siap-siap dulu gih, setelah sarapan gue antar ke tempat yoga."
Amora pun mengangguk, berjalan terlebih dahulu dengan Anizhar yang mengekorinya dari belakang.
Begitu masuk ke kamar mandi, Amora langsung melepas dasternya yang penuh noda tanah dan melemparkannya ke keranjang cucian. Air hangat yang mengalir dari shower membuat tubuhnya rileks setelah berkutat dengan tanah di halaman tadi. Saat tengah asik menikmati guyuran air, telinga Amora menangkap suara berisik dari luar. Gadis itu pun segera menuntaskan mandinya.
Begitu membuka pintu kamar mandi, pemandangan yang ia lihat adalah sosok Anizhar yang tengah sibuk dengan alat makan. Dahi Amora berkerut dalam. "Kenapa dibawa ke sini?"
Anizhar berbalik, ekspresinya langsung cerah saat melihat sosok Amora yang baru saja keluar dari kamar mandi dan berbau harum sabun. Lelaki itu berjalan mendekat dan meraih tangan Amora.
KAMU SEDANG MEMBACA
APRICITY
Teen Fiction"Lo hamil tapi gak tahu siapa ayahnya. Bahkan lo ga mikir gimana lo bisa hamil. Kalau ga tolol apa namanya, bego?" ──── Amora Keylani, gadis beruntung yang memperoleh beasiswa prestasi di Biantara High School. Hidupnya yang biasa-biasa saja membuat...
