Samira Alexander, putri bungsu keluarga Alexander yang memulai debutnya satu tahun lalu sebagai model di Amerika. Hanya dalam kurun waktu yang singkat, Samira mampu kelayakannya di dunia modeling dan mendapatkan banyak cinta para penggemar. Kali ini gadis itu kembali ke tanah airnya untuk melakukan kerja sama dengan Grub Neswara untuk peluncuran koleksi fashion terbaru mereka. Itulah yang dapat Amora simpulkan setelah membaca berbagai macam artikel tentang sosok Samira yang dilaporkan sahabatnya.
Sira─gadis itu datang ke rumahnya dengan heboh membawa sebuah gosip. Diantara mereka berdua memang Sira lah yang paling tahu tentang segala gosip di Biantara dan tampaknya gosip kali ini cukup privat. Ditambah kali ini gadis itu menyebutkan bawah Samira memiliki hubungan dalam dengan Anizhar dan Varga.
Hah, Amora mendekus. Memang apa urusannya?
Awalnya Amora tidak ingin peduli. Akan tetapi, saat mendengar secara keseluruhan cerita, Amora pun tak ayal merasa penasaran. Sahabatnya itu juga berkata seperti ini, "gue baru kali ini lihat Varga semarah itu, Mor! Bahkan lakik lo ngancem mau bunuh dia. Ngeri ga tuh!"
Amora masih ingat jelas kehebohan Sira mengatakan kalimat itu. Kalimat itu pula yang membuat Amora sadar bahwa permasalahan kali ini mungkin bukan hal yang biasa dan diceritakan dengan mudah.
Namun, dari seluruh artikel yang dia temukan tentang Samira Alexander, tidak ada satu pun yang membahas tentang hubungan dengan keluarga Shailendra. Kalau begitu, bukan kah seharusnya mereka tidak saling mengenal?
Atau
Ada sesuatu yang telah ditutupi sejak lama.
Amora menggeleng beberapa kali, kehidupan orang kaya sungguh sulit dipahami. Mirip seperti di beberapa drama yang pernah dia tonton. Bagi orang rendahan seperti dia, semua orang kaya yang ada di dunia ini menyimpan banyak hal misterius.
Tak!
"Jangan terlalu banyak berpikir!" tegur Anizhar.
Amora mendongak, mengusap dahinya dengan bibir mengerucut. "Berisik!"
Anizhar menyandarkan tubuhnya pada lemari, menatap lekat Amora yang duduk di meja rias. "Berisik?" dia mencondongkan badannya ke arah Amora. "Bagaiman kalau kita ciuman agar tidak berisik, Mi Amor?" Sudut bibir kananya terangkat.
Amora refleks memundurkan kepalanya. Gadis itu menatap Anizhar tajam. "Apaan sih, Zhar. Hus! Hus!"
Anizhar tertawa membuat pesonanya naik di mata Amora. "Gue manusia, bukan binatang Amora."
Amora mendekus. Baginya, lelaki itu bukan manusia. Melainkan lebih seperti binatang buas ataupun iblis yang menyebalkan dan gemar mengganggu ketenangan Amora.
"Mau binatang atau iblis, sama aja," gumamnya pelan.
"Gue dengar."Anizhar kembali menegakkan tubuhnya. "Lo sebegitu ga sukanya sama gue? Padahal beberapa hari lalu lo menangis keras di dalam pelukan hangat gue."
Mengingat kejadian di pasar malam membuat pipi Amora memerah malu. Dia sangat kesal karena Anizhar justru terus-menerus membahas tentang adegan yang harus dia musnahkan.
Anizhar merasa terhibur melihat perubahan ekspresi Amora yang mulai memerah. "Amora, lo tahu kan, gue selalu ada buat lo?" ucapnya dengan nada lebih serius, walau senyum tipis masih terpampang di wajahnya. "Kalau lo kenapa-kenapa anak gue bisa bahaya," lanjutnya.
Amora mendengus, Anizhar tetaplah Anizhar. "Lo selalu ada buat gangguin gue." Dia berdiri dari kursi, memutuskan untuk menjauh dari Anizhar sebelum lelaki itu bisa menggoda lebih jauh. Tapi baru beberapa langkah, Anizhar menarik pergelangan tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
APRICITY
Novela Juvenil"Lo hamil tapi gak tahu siapa ayahnya. Bahkan lo ga mikir gimana lo bisa hamil. Kalau ga tolol apa namanya, bego?" ──── Amora Keylani, gadis beruntung yang memperoleh beasiswa prestasi di Biantara High School. Hidupnya yang biasa-biasa saja membuat...
