24. Keputusan

2.9K 114 0
                                    

Flashback>>

Seperti yang sudah dikatakannya tadi siang, Damian kembali ke rumah orang tuanya. Ia kembali mencoba dan melakukan apapun sampai rela berlutut di depan kedua orang tuanya secara langsung demi meluluhkan hati mereka sekarang. Ia sudah berusaha sebisa mungkin dan ingin semuanya segera terselesaikan, dan dengan cara ini adalah alternatif untuk mempercepat ia sampai pada tujuan.

"Aku mohon, Pa, Ma. Kali ini aja aku minta sama kalian, aku akan selesaikan semuanya tapi tolong bantu aku untuk menemui orang tuanya."

Kepalanya tertunduk dengan kedua kaki yang berlutut di hadapan Dani maupun Sahara saat ini tidak dilakukan sebentar, namun sudah hampir setengah jam sampai membuat kaki sang empunya merasa kebas dan lemas.

"Iya aku tau karena udah lakuin kesalahan fatal, tapi itu harusnya aku yang tanggung, Ma, Pa. Bukan anakku. Dia gak boleh sendirian, ibunya gak bisa aku abaikan juga. Terserah papa sama mama mau pukul aku sepuasnya, tapi izinin aku buat nikahin Ester dan tanggung jawab penuh atas mereka."

Suara Damian mulai terdengar gemetar. Napasnya pun seakan tercekat di setiap tarikannya yang terasa berat. Sungguh tak tahu lagi harus seperti apa ia memohon agar kedua orang tuanya itu bisa luluh.

"Kalau perlu aku akan sujud di kaki kalian sampai kalian izinin."

Sahara sontak menahan tubuh putranya yang benar-benar ingin melakukan aksinya sekarang. Beliau langsung memeluk erat tubuh pria 30 tahun tersebut dengan turut berlutut. Rasa sakit yang luar biasa dalam hatinya tentu tak mudah sembuh, mengetahui Damian sudah merusak harapannya di masa lalu sungguh meleburkan puncak tertinggi angannya sebagai seorang ibu. Tentu beliau kecewa dan sulit menerima ini.

"Maaf, Ma. Ampuni aku."

Sahara tak dapat mengatakan apapun selain hanya menangis dengan menepuk-nepuk punggung lebar putranya. Lidahnya benar-benar kelu meski untuk mengucapkan satu kata saja. Tak lama Damian juga turut menitihkan air matanya meski mulutnya tak bersuara. Mana tega ia melihat ibunya yang terus menangis sejak tadi siang karena ulahnya sendiri?

"Ini pertama dan terakhir, jangan pikir papa akan mudah lupakan soal ini. Karena ini semua hanya demi calon cucu papa."

Setelah mengatakan kalimatnya barusan, Dani langsung melenggang pergi untuk kembali masuk ke dalam kamarnya guna bersiap diri. Sedangkan Damian yang dapat mendengar jelas atas semua yang dibicarakan sontak tersenyum semringah dengan perasaan sangat lega. Pelukannya terhadap Sahara semakin mengerat dengan mengucapkan terima kasih berulang kali.

"Mama tau kamu berbeda dengan dia, tapi kenapa harus begini, Nak? Kami memang ingin kamu segera menikah dan memiliki keturunan, tapi bukan dengan cara ini."

Akhirnya setelah lama bungkam suara, Sahara kembali berucap. Dan kali ini sembari meleraikan pelukannya agar bisa melihat lekat ke arah Damian.

"Semua itu bukan rencanaku ataupun kami Ma, malam itu benar-benar kondisi yang rumit karena suatu hal. Kami berdua sulit untuk mengendalikannya."

Damian tak dapat membicarakan alasannya secara gamblang, ia masih ingin menghargai Ester agar tidak semua orang tahu jika perempuan itu mabuk.

"Bersiaplah, kita pergi ke rumahnya malam ini juga."

Pria itu mengangguk pelan dan membiarkan Sahara pergi meninggalkannya. Dalam hati ia lega, namun sebenarnya ia juga sangat menyesal karena sudah mengecewakan orang tuanya sejauh ini. Meski dirinya tak masalah sama sekali jika harus bertanggung jawab atas Ester, kekecewaan Sahara dengan Dani juga perlu dipikirkan. Karena bagi mereka semua itu bukan sekadar soal tanggung jawab, melainkan kegagalannya dalam menjaga kepercayaannya selama ini.

One Night Sleep Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang