"Memang salah jika aku bertanya soal calon cucuku? Dia keturunanku juga, Yan."
Tanpa ingin menjawab, Damian langsung mematikan ponselnya cepat. Ia juga sudah muak dengan omong kosongnya yang selalu membuat kesabarannya diuji. Bahkan ia sudah berulang kali memblokir nomor asing yang memang terindikasi milik orang tersebut, namun nyatanya ia selalu diusik dan terus diganggu dengan banyak nomor baru yang masuk.
"Permisi Tuan."
Lamunannya buyar ketika seorang perempuan dari staff butik datang menghampiri.
"Kenapa?"
"Nyonya sudah mencoba banyak gaun, apa Tuan tidak ingin mencoba setelan tuxedo nya juga?"
"Dia sudah menentukan pilihannya?"
"Sudah Tuan. Mari ikut saya."
Damian mengangguk dan pergi mengikutinya menemui Ester. Sejenak ia sudah lupa dengan apa yang sudah membuatnya kesal baru tadi. Lebih baik ia fokus dengan apa yang akan dilakukannya setelah ini daripada harus meladenin orang yang sudah membuat hidupnya berantakan.
Dari tampak belakang Ester terlihat sangat cantik, dengan tubuh ramping dan dress yang elegant begitu anggun dikenakannya. Terlebih saat sang puan terus mematut dirinya di depan cermin, seakan ia sangat senang dengan pemandangan itu. Tanpa sadar Damian mengukir senyum manis di wajahnya, ia tak langsung datang mendekat untuk menghampirinya karena ia ingin memberikan ruang sejenak bagi Ester untuk menikmati pemandangan apa yang ia sukai itu.
Sampai tak lama kemudian Ester sadar dengan kehadiran Damian melalui pantulan cermin besar di sana. Sontak ia berbalik badan dan menatapnya heran karena pria itu tak mengatakan sepatah katapun lagi.
"Kenapa melihatku begitu? Aku tau aku cantik, stop melihatku dengan mata cabulmu itu," ujar Ester seakan angkuh padahal ia sedang menutupi salah tingkahnya.
Damian mengela napas panjang dan mengalihkan pandangannya sejenak karena Ester selalu saja menuduhnya yang tidak-tidak.
"Jangan bicara yang buruk-buruk, gak baik didengar anak kita."
Ester memutar bola matanya malas, selalu saja anak, anak, dan anak yang Damian ucapkan. Seakan dunianya hanya untuk diberikan pada anak yang bahkan belum berbentuk bayi itu.
"Kau selalu memikirkan anak terus, bagaimana dengan aku?" gumamnya pelan sembari berbalik badan lagi.
Damian tidak tuli, ia masih bisa mendengarnya dengan jelas meski sang puan tak mengungkapkan secara terang-terangan. Tanpa dititah langkahnya semakin mendekat, mengikis jarak di antaranya. Pria itu sekarang sudah berdiri tepat di belakang sang puan, ia mengulurkan kedua tangannya di sela tubuh Ester agar bisa memeluknya dari belakang.
Sontak saja Ester terkejut mendapatkan perlakuan tiba-tiba itu, karena tadinya ia sedang sibuk membenarkan dress bawahnya yang menggembung tak sempurna sampai melihat kedua tangan kekar hinggap melingkari perutnya.
"Damian!"
"Sama anak sendiri kok cemburu sih?" ujar Damian sebelum Ester mengomel.
Sang empu meletakkan dagunya di atas bahu kanan Ester, kedua tangannya yang menganggur pun tak tinggal diam untuk mengusap lembut perut calon istrinya yang masih datar.
"Gak usah ngaco! Lepasin sekarang."
Ester berusaha untuk berontak dengan melepas paksa tangan Damian. Namun sayang, pria itu sama sekali tak memiliki niatan untuk mengendurkan pelukannya apalagi sampai melepaskan sekarang. Justru yang ada ia berbisik pelan di telinga kanannya sampai Ester bergidik.
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep
RomansaBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...
