Seperti yang diungkapkan oleh Elang kemarin bahwa Damian memang dosen sekaligus ketua program studinya yang belum lama ini dilantik. Tentu saja ia mengenal baik dan selalu bertemu dengannya di kampus setiap kali ada jam kuliah ataupun sekadar saat datang mencari Pak Januar—dosen pembimbing skripsinya.
Setelah kejadian kemarin malam, Damian tetap bertekat untuk tetap pergi ke kampus karena hari ini adalah acara penting untuk menghadiri sebuah meeting tertutup yang akan dihadiri oleh banyak orang penting di bidang pendidikan di lingkup nasional. Dan sialnya hari ini ia yang menjadi salah satu narasumber yang akan aktif berbicara karena Damian sudah resmi menjadi ketua program studi baru sejak 3 bulan lalu.
Mengingat dengan luka lebam yang tak bisa hilang dalam satu malam tentu membuat penampilan Damian jadi tersorot. Pria itu selalu mendapatkan pertanyaan yang sama dari orang-orang yang melihatnya secara langsung. Namun beruntungnya ia masih memiliki sebuah alasan yang bisa dijadikan tameng untuk berlindung dari macam pertanyaan lagi.
"Terima kasih, kalau begitu saya pamit lebih dulu."
Setelah meeting baru selesai pun Damian orang yang paling utama untuk pergi meninggalkan tempat duduknya. Ia masih memiliki tanggungan yang belum di selesaikan di rumah, padahal nanti malam ia sudah harus membayar lunas apa yang telah dijanjikannya kemarin pada Bian.
Namun saat ia lebih dulu mampir ke ruang kaprodi tempatnya berada, Damian mendapati seorang laki-laki sedang duduk di kursi yang tak jauh dari sana. Sangat tak asing oleh kedua matanya sampai laki-laki itu mendongak ke arahnya karena sudah berjalan mendekat.
Laki-laki itu langsung bangkit dari duduknya dan bergegas membenarkan setelan bajunya sebelum menyapa sang dosen.
"Selamat siang, Pak Damian."
"Siang. Ada apa?"
"Saya ingin meminta tanda tangan basah bapak untuk laporan magang saya sebagai syarat konversi nilai mata kuliah semester ini, Pak," jelasnya.
Damian tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalan paham dan mengajaknya masuk ke ruang kaprodi kemudian.
Selama proses penandatangan berlangsung keduanya sama-sama diam dan hening untuk beberapa saat. Mereka berdua memang kompak untuk bersikap profesional satu sama lain, terlepas dari masalah yang sudah terjadi.
"Terima kasih banyak, Pak."
"Sama-sama."
"Kalau begitu saya permisi."
Tetap sabtu dan sopan seperti biasa, ia menyalami tangan Damian tanpa segan. Karena mau bagaimana pun itu sudah menjadi kewajiban tak tertulis bagi yang muda untuk yang lebih tua.
"Elang."
Sang empunya nama sontak menoleh dan kembali berbalik badan menghadap ke arah dosennya sekarang.
"Iya Pak?"
"Saya sudah bicara dengan Pak Januar soal bimbinganmu. Beliau bilang progres skripsimu belum juga mendekati finish? Ada kesulitan?"
Tidak biasa, namun Elang berusaha tenang atas pertanyaan dari Damian. Pria itu memang terkenal tegas dan juga disiplin soal pendidikan di kampus, oleh karena itu bentuk atensinya seperti tadii bukanlah hal yang aneh ataupun tiba-tiba.
"Tidak ada masalah yang serius, Pak. Hanya sedikit butuh waktu untuk menyelesaikannya."
"Kalau butuh bantuan cepat laporkan pada dosen pembimbingmu."
"Baik Pak."
Tidak ada lagi topik yang bisa dibahas, akhirnya Damian mempersilahkan "calon adik iparnya" itu untuk pergi dari ruangannya. Padahal awalnya ia berniat untuk mengajaknya bicara dengan santai, ujung-ujungnya malah terkesan kaku akibat topik yang dirasa sensitif bagi mahasiswa semester akhir tersebut.

KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep
RomanceBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...