34. Berharga

2.7K 107 5
                                    

Di sepanjang perjalanan pulang menuju ke rumah orang tua Damian, Ester hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Wanita itu sengaja untuk mengabaikan suaminya tanpa menjawab apapun walau Damian bertanya.

"Beneran kamu gak mau beli apa-apa?" tawar Damian entah yang sudah ke berapa kali.

Akan tetapi respon yang ditunjukkan oleh Ester tetap sama, ia hanya diam dan enggan menoleh ke samping saat sang empu bertanya. Damian benar-benar dianggap angin lalu olehnya.

"Ester. Dari tadi kamu diem terus, masih marah cuman gara-gara kasur?"

Jelas saja Damian jadi tak fokus untuk menyetir, berulang kali ia menoleh ke samping kiri melihat istrinya tak berkutik sama sekali membuatnya bingung harus seperti apa sekarang. Sampai akhirnya Damian mengalah dan sengaja membiarkan istrinya terdiam lebih dulu.

Tak berapa lama mobil yang dikendarai tiba di pelataran rumah Dani, barulah Ester mulai sedikit luluh saat suaminya meminta untuk segera turun dari mobil. Tampak jelas jika keduanya sangat berlawanan dalam chemistry yang tak pernah tercipta dengan baik. Damian memang keras kepala, namun Ester lebih parah dari itu.

"Akhirnya dateng juga."

Sahara menyambut keduanya dengan senang hati. Bahkan saat mereka baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu, beliau sudah berjalan menghampiri karena sudah menunggunya sejak tadi.

"Papa kemana, Ma?" tanya putranya setelah bersalaman.

"Papamu masih makan. Ayo duduk dulu."

Wanita paruh baya itu lebih fokus dengan anak menantunya ketimbang Damian. Beliau langsung mengajak Ester pergi menuju ke ruang tengah dan menyuguhinya banyak camilan di sana. Sampai Damian heran sendiri, karena ibunya lebih excited dengan istrinya sampai mengabaikan keberadaan sang empu sendirian.

"Aku mau ke kamar dulu ya, Ma."

Sahara mengiyakan. Lantas beliau mengobrol dengan Ester begitu antusias tanpa mempedulikan Damian lagi. Bahkan tak sesekali pula tangannya yang terus mengusap lembut dan mengajak bicara calon cucunya ke arah perut Ester.

"Gimana kondisi kamu akhir-akhir ini? Apa mual-mual atau ngerasa yang lainnya?"

Pertanyaan Sahara barusan digelengi kepala oleh Ester. Perubahan mood nya seketika meningkat drastis karena diperlakukan seperti ini oleh ibu mertuanya sendiri.

"Syukurnya gak pernah tante. Sekali mual itu juga gara-gara gak suka sama aroma ikan aja. Selebihnya gak ada masalah."

"Kok panggil tante sih. Panggil mama aja, kan sekarang kamu anak mama juga, Nak."

Ester tersenyum kikuk dengan menganggukkan kepalanya ragu. Baginya ini belum hal yang biasa. Pantas jika ia masih perlu beradaptasi.

"Iya, Ma. Maaf."

"Ya udah gak papa. Yang penting kamu sama baby baik-baik aja, kalau ada keluhan atau pengen sesuatu bisa ngomong sama mama ya. Barangkali mama bisa penuhin."

Tak jauh berbeda dengan Vani, Ester benar-benar merasa disayang oleh Sahara. Dan beruntungnya itu dirasakannya dengan balance. Meskipun sang puan sudah melakukan kesalahan fatal sebelumnya.

Sedangkan di dalam kamarnya saat ini Damian tengah sibuk mengemasi beberapa barang yang ingin ia bawa ke rumahnya sendiri untuk keperluan pekerjaan, seperti beberapa buku hingga kemeja kesayangannya yang tertinggal di sana. Ruang kamar yang jarang sekali dijamah orang lain apalagi untuk ditempati tetap menjadi privasi Damian sendiri sampai saat ini. Seperti contohnya barang-barang penting dan berharga yang tak pernah disentuh orang lain kecuali ibunya. Itupun hanya saat ingin membersihkan karena Damian sudah lama tidak pulang dan menempati kamarnya.

One Night Sleep Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang