PLAK!
Suara tamparan keras mendarat mulus untuk menyapu pipi kiri Ester. Bian sudah meradang, wajahnya yang penuh akan amarah itu tak terbendung lagi saat ini. Setelah mengetahui fakta jika putri sulungnya itu sedang hamil sekarang membuat emosinya membumbung. Tentu saja Bian marah besar, fakta yang sengaja disembunyikan oleh Ester berhasil membuatnya darah tinggi.
"PAPA!"
Vani langsung memeluk putrinya erat, Elang yang semula ada di ruang makan pun langsung berlarian menuju ke ruang tengah setelah mendengar kegaduhan itu untuk menengahi Bian agar tidak lagi menampar kakaknya. Mereka semua shock, kecuali Ester. Meski ini adalah pertama kalinya ia mendapat pukulan fisik dari ayahnya selama 25 tahun ia hidup, perempuan itu sudah bersiap diri dan yakin jika hal tersebut akan terjadi. Dan ternyata memang benar.
"Pa, jangan main tangan sama perempuan. Apalagi sama cece, dia anak papa loh," kata Elang yang tak terima.
Ia tahu jika kakaknya memang salah, salah besar. Namun ia juga tak bisa terima jika Ester harus mendapat tamparan keras seperti tadi.
"Diem kamu. Ini urusan papa sama Ester!"
Seakan tak peduli dengan semua ucapan Elang yang berusaha menengahi, Bian tetap gelap mata. Tak ada yang bisa menghentikan emosinya saat ini kecuali dirinya sendiri. Ester sudah menangis tersedu-sedu di pelukan Vani, rasa sakit di pipinya tak sebanding dengan kenyataan yang harus dihadapinya sekarang. Tangannya sampai tremor dan deru napasnya tersengal-sengal sampai membuat dadanya sesak.
"Sejak kapan kamu sembunyikan kehamilanmu itu?" tanya Bian tegas tanpa berniat untuk menurunkan intonasinya itu.
"Jawab, gak usah nangis!"
Bagaimana bisa ia tidak menangis jika Bian sendiri sudah menyentaknya penuh intimidasi seperti itu? Tentulah Ester ketakutan.
"Jawab aja, Nak. Pelan-pelan," bisik Vani tanpa menghentikan usapan tangannya pada tubuh sang puan. Beliau berusaha untuk mendampingi rasa takut dan gugup putrinya sebisa mungkin, meski jauh sebenarnya beliau juga sama shock dan terkejutnya.
"Kemarin."
Akhirnya satu kata itu berhasil terungkap di sela tangisannya yang sedikit mereda.
"Siapa ayahnya?"
Kali ini Ester terdiam cukup lama. Antara bimbang dan takut untuk menyatakan yang sebenarnya.
"Jawab papa, siapa ayah dari bayi itu?" ulang Bian membuat Ester semakin terdesak.
Vani tak sampai hati melihat putri satu-satunya itu sekarang, beliau juga turut berkaca-kaca berusaha menahan tangis yang mendesak ingin luruh.
"Maaf Pa."
"Papa tanya siapa ayah dari bayi itu, bukan permintaan maafmu, Ester Fanderick!"
Sebenarnya bukan tanpa alasan ia tak mengatakan yang sejujurnya, ia hanya takut jika menyebutkan nama Damian justru membuat keadaan semakin rumit apabila pria itu tidak mau bertanggung jawab padanya. Mengingat jika kejadian one night stand waktu itu dilakukan dengan tidak terpaksa alias sama-sama mau, yang mana itu berarti juga kesalahannya sendiri.
"Atau jangan-jangan pacarmu yang berandal itu?"
"Bukan Pa," bantahnya cepat. Karena memang hanya Diego yang selama ini pria yang dikenal oleh keluarganya. Tak ada yang lain.
"Kalau bukan dia siapa lagi?"
"Pa tenang dulu, kita bisa bicarain semua ini baik-baik kan. Gak perlu pake marah-marah."
"Diem kamu, Lang. Gak usah ikut campur."
"Kamu jujur sekarang atau papa yang akan cari pria berengsek itu sendiri?" lanjut Bian lagi karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Ester sampai sekarang.

KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep
RomanceBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...