TES OMBAK, SIAPA YANG MASIH SETIA NUNGGUIN ONS SIH? 😭
Kalau bukan karena komenan kalian di part sebelumnya, aku gak semaksa ini buat lanjut update lagi wkwkwk. So, enjoyyy!
~~~
Tangisan Ester sudah mereda, namun ia masih terdiam di tengah tubuhnya yang mulai menggigil. Balutan handuk yang menutupi bahunya tak cukup membantu sang puan yang sudah terlanjur kedinginan. Kini giliran Damian yang panik dan juga menyesal lantaran sudah melampiaskan amarahnya pada istri dan calon anaknya. Ia terus merutuki diri ketika melihat Ester terdiam dan enggan menjawab pertanyaannya.
"Masih dingin?" tanyanya sekali lagi.
Dan kesekian kalinya pula Ester terdiam hanya dengan menggelengkan kepala pelan. Sudah terlalu malas untuk bersuara membuatnya terdiam cukup lama. Damian nyaris frustasi karena tak bisa mengerti apa yang dibutuhkan ataupun diinginkan istrinya. Bahkan semua yang ia tanyakan selalu dijawab dengan gelengan kepala.
"Ester."
Wanita itu refleks memegangi perutnya lebih dulu saat Damian hendak menyentuhnya. Padahal maskud Damian ingin menangkup kedua tangannya, namun sang puan berpresepsi lain. Jelas saja pria itu mengamati pergerakannya, apakah Ester setakut itu dengannya sekarang?
"Kamu kenapa? Perutnya sakit?"
"Aku mau tidur."
Alih-alih menjawab pertanyaannya, Ester mengalihkan topik dengan beralasan tidur untuk segera menghindari banyak pertanyaan lagi. Daripada terus berada dalam situasi yang canggung, lebih baik ia memilih menghindari suaminya dengan pergi tidur.
"Minum susunya dulu ya? Bibi bilang kamu belum makan apapun tadi."
Damian juga tak ingin hilang akal, karena tahu jika Ester sengaja menghindarinya maka ia yang berusaha untuk mencari jalan tengah.
"Gak pengen."
"Sedikit."
"Gak mau—"
"Ester!"
Sang puan langsung terdiam lantaran Damian yang memotong penolakannya. Raut wajahnya yang semula datar perlahan berubah "siaga". Setiap kali mendapati suaminya bersuara tinggi.
"Minum sedikit apa susahnya? Sekarang kamu gak sendirian, di perutmu ada makhluk hidup juga. Jadi jangan egois," lanjut Damian.
Bukan bermaksud ingin marah, hanya saja Damian bersikap tegas dan memberi pengertian agar istrinya bisa paham.
"Kenapa jadi kau yang marah?"
"Aku gak marah. Aku khawatir dengan kalian."
Ester tersenyum kecut. Setiap kali "menyerang", Damian selalu mengandalkan alasan itu. Dan itu yang dimaksud adalah anak yang dikandungnya, bukan karena alasan dirinya. Dan entah sejak kapan Ester merasa jika itu menyebalkan baginya.
"Basi."
Perempuan itu langsung merebahkan diri dengan membelakangi suaminya tanpa berniat untuk mendengarkan apalagi menjawabnya lagi. Kondisi tubuh dan perasaannya sudah berantakan hari ini. Tenaganya terlalu minus untuk Damian yang dominan.
"Ester."
Kini suaranya melunak. Ia memahami jika istrinya mudah mood swing lantaran sedang hamil. Bahkan saat tidak pun Ester adalah orang yang sensitif dengan dirinya apalagi saat hamil seperti ini?
"Aku minta maaf untuk hari ini. Jangan siksa anak kita—"
"Kau hanya peduli dengan anak ini kan? Kalau gitu minta maaf sama dia, bukan denganku," potong Ester cepat tanpa membalikkan tubuh menghadap Damian sedikit pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep
RomanceBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...
