Damian terus berkeliling mencari keberadaan Ester bersama dengan Samuel juga Clarissa yang entah pergi kemana. Tujuan mereka benar-benar tak menentu tanpa arah. Sudah lebih dari 2 jam mereka tak menemukan apapun yang dicarinya, bahkan sekadar petunjuknya saja tidak ada sama sekali. Hal tersebut jelas membuat Clarissa uring-uringan. Apalagi Damian yang tampak frustasi campur bingung. Di satu sisi ia mengkhawatirkan Ester, namun di sisi lain ia juga takut jika terjadi sesuatu dengan mereka—Ester dan anak yang dikandungnya itu tanpa sepengetahuan siapapun.
"Kita lapor polisi aja yuk, aku takut kenapa-napa sama Ester."
Nada putus asa mulai terdengar dari mulut Clarissa. Gadis itu benar-benar tak tahu lagi harus kemana ia pergi mencari.
"Belum 24 jam, gak bisa Sayang."
Tak menghiraukan keduanya, Damian justru sibuk dengan ponselnya saat ini untuk menghubungi seseorang yang sudah lama tidak ia temui.
"Cari seseorang untukku sekarang, bayaran akan berlipat setiap perjam sesuai berapa lama kau bisa menemukannya," kata Damian tegas pada seseorang di seberang teleponnya sekarang.
"Oke, aku kirim setelah ini."
Jika ditanya sepanik apa Clarissa sekarang ternyata tak lebih panik dengan yang dirasakan oleh Damian yang sebenarnya. Karena pria itu lebih takut dan juga pusing untuk menemukan Ester tanpa petunjuk sekarang ini. Bahkan ia sampai rela kembali berurusan dengan seseorang "teman" lamanya demi meminta bantuan untuk menemukan perempuan itu secepatnya.
"Sa, tolong kirim foto Ester ke nomorku sekarang."
"Dih ngapain? Penting banget sekarang—"
"Penting dan jangan banyak omong," potong Damian cepat.
Ia sudah tak ada waktu untuk menggubris segala kerepotan Clarissa yang sebenarnya tak ada impact apapun. Bahkan gadis itu hanya bisa mengomel dan terus menyalahkan dirinya saja tanpa bisa memberikan petunjuk sedikitpun sekarang. Dan mau tak mau akhirnya Clarissa memberikan foto milik Ester pada nomor Damian, sedangkan Samuel sendiri tengah berpikir untuk menebak seseorang yang dipanggil oleh sahabatnya barusan tanpa berani bertanya langsung. Lantaran ia takut merusak suasana menjadi semakin keruh, mengingat jika Damian sedang panik atau under pressure itu sangat rentan untuk marah besar bagi siapa saja yang mengusiknya.
Tak lama setelah ia mengirimkan sebuah foto pada temannya itu, Damian kembali buka suara untuk ditujukan pada mereka berdua sekarang.
"Kalian pulang aja, biar aku yang cari Ester lagi."
"Mana bisa gitu, aku juga mau ikut nyari Ester sampai ketemu," bantah Clarissa menolak mentah-mentah.
"Iya, Dam. Biar kita bantu cari juga, lagian masih jam 8. Gak masalah," timpal Samuel setelahnya.
Akhirnya Damian tak melarang, mereka bertiga yang mulanya sedang berada di depan sebuah market untuk beristirahat sembari berunding sejenak pun akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pencarian. Semua tempat yang sudah dilewatkan dan tujuan yang akan didatangi pun tertulis sistematis pada catatan di ponsel Clarissa.
"Tunggu tunggu."
Sebelum mereka masuk ke dalam mobil masing-masing, Clarissa mencegah dengan interupsinya barusan saat mendapatkan panggilan masuk. Kali ini bukan dari Elang lagi melainkan Vani—ibu Ester.
Baik Damian dan juga Samuel diam menyimak panggilan yang di loudspeaker itu dengan mendengarkan suaranya baik-baik.
"Bagaimana, Nak? Kamu udah ketemu sama Ester? Atau tau petunjuknya dimana dia sekarang?"
"Sayangnya belum, Tante. Ini saya lagi keliling ke semua tempat yang kemungkinan Ester datangi."
"Astaga, kemana dia pergi? Kenapa Ester tiba-tiba hilang kabar begini. Papanya terus uring-uringan daritadi, kami sangat khawatir dengan dia. Jadi tolong kabari kami jika kamu menemukan petunjuk atau Esternya langsung ya, Nak."

KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep
RomanceBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...