43. Euforia

4.8K 101 7
                                        

JUJUR BANGET INI MAH, SEBELUM AKU NULIS PART INI AKU BENERAN BACA ULANG DARI PART 1 😭

So, please stay and wait patiently here!

[One Night Sleep]

Ester menggeliat pelan saat merasakan perutnya yang terasa berat karena sebuah tangan kekar yang melingkarinya. Entah sejak kapan, ia baru menyadari kala baru saja membuka mata. Hembusan napas hangat juga terasa dari belakang lehernya. Sudah dapat dipastikan dengan jelas jika pelaku tersebut adalah suaminya sendiri, Damian.

Karena saking eratnya pelukan itu, sang puan jadi kesulitan untuk bergerak bebas apalagi meloloskan diri. Usahanya yang payah tak mengusik ketenangan bawah sadar Damian yang masih terlelap.

"Damm-"

"Sebentar," potong Damian lirih dengan suara seraknya.

Tak melepaskan pelukannya, pria itu justru memosisikan dirinya agar semakin nyaman di sisi sang puan. Dalam keheningan, keduanya saling diam tanpa pergerakan apapun. Bahkan Ester yang mulanya ingin beranjak dari tempat tidur jadi urung karena tertahan oleh suaminya. Apalagi posisinya yang tadinya membelakangi jadi berhadapan setelah Damian menarik tubuh istrinya mendekat.

Ester mulai melunak dengan di dalam hati meminta maaf soal Diego serta gelas kaca yg melukai pipi Damian tempo hari. Dalam diam ia menatap wajah Damian lamat-lamat dengan sendu. Plester bening yang menutupi pipi kanan sang empu membuat wanita itu merasa bersalah.

Cukup lama dengan posisi tersebut, Damian akhirnya mengernyitkan dahinya sebelum benar-benar membuka mata. Pemandangan pertama yang ia tatap begitu tampak indah saat ini. Meski belum sepenuhnya takluk tapi ia sudah berhasil memilikinya sekarang.

Refleks Ester membuang pandangan ke lain arah. Seakan biasa saja, ia mengabaikan tatapan sang suami dengan napas yang menderu hangat.

"Selamat pagi," ucap pria itu dengan suara seraknya. Tak lupa belaian lembut di surai rambut istrinya menjadi pengiring sapaan hangat tersebut.

"Heemm."

Hanya deheman pelan sebagai jawaban dari keramahan Damian pagi ini. Untuk beberapa detik keduanya saling memandang. Tak dapat dipungkiri jika Damian merasakan jantungnya berdebar cepat. Dan ternyata itu juga terjadi pada Ester saat ini. Namun keduanya sama-sama gengsi untuk mengutarakan apa yang akhir-akhir ini sudah mengusik keduanya.

"Aku mau mandi, awas."

Ester berusaha melepaskan diri dari dekapan sang suami dengan sedikit deg-degan.

Bagaimana tidak?

Wajah di antara keduanya begitu dekat, hembusan napas Damian yang lembut beberapa kali membuat Ester harus menahan diri agar tidak salah tingkah.

Pada akhirnya Damian membiarkan istrinya untuk berlalu pergi begitu saja. Ia sendiri juga tampak kikuk dengan ingatan kemarin. Ingatan. Kemarin.

Jika dipikir ia juga merasa geli, ternyata sikapnya segenit itu pada Ester. Apalagi kalimat manis yang sama sekali tidak terpikirkan olehnya untuk terucap, semua terjadi begitu spontan.

Ini semua hanya karena anak.
Kurang lebih begitulah yang selalu ditekankan Damian pada dirinya sendiri.

Kepalanya menoleh ke samping dan mendapati jam dinding nyaris menunjukkan pukul 7 pagi. Lantas ia menghela napas panjang dan bangkit dari tidurnya untuk segera bersiap.

Jangan lupakan sebuah fakta penting jika Damian Margajasa adalah seorang dosen. Ia tak mungkin mengabaikan kewajiban pekerjaannya itu, meski harus terbagi fokus dengan kondisi saat ini.

One Night Sleep Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang