17. Tanggung jawab (III)

8.8K 193 0
                                        

"Lain kali kalau ketemu gak usah pakai parfum segala. Baunya bikin kepala pusing," protes Damian dengan menjarak jauh membuat Samuel refleks mencium aroma tubuhnya sendiri.

"Perasaan biasa aja deh, lagian ini juga parfum lama gak pernah ganti varian. Dan kau juga udah terbiasa dengan baunya, kenapa sekarang tiba-tiba?"

"Itu dulu bukan sekarang."

Samuel berdecak dengan menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi.

"Yang hamil siapa, yang cerewet siapa," gumam Samuel pelan.

Mendengar itu Damian langsung kepikiran lagi soal Ester. Ia mulai sadar dan mengaitkan semua rasa aneh yang dialaminya akhir-akhir ini.

"Astaga, apa karena ini?" monolognya saat menduga jika semua yang dirasakan oleh tubuhnya belakang ini dikarenakan oleh Ester yang sedang hamil anaknya? Bisa saja.

"Ya udah lah, mukamu udah kayak mayat hidup, pucet banget Dam. Sekarang istirahat aja dulu. Nanti bisa cari Ester lagi."

Kini gantian Damian menghela napas panjang dan menggelengkan kepala setelahnya.

"Gak bisa. Sebelum dia ketemu aku gak bisa tenang, Sam."

"Sejak kapan?"

Pria itu menoleh ke arah Samuel yang kini juga sedang melihatnya.

"Maksudnya kapan?"

"Ya sejak kapan jadi peduli dengan perempuan? Apalagi dengan Ester yang notabenenya orang asing bagimu?"

"Dia hamil anakku kalau kau lupa," tegas Damian.

Samuel terdiam sejenak karena tertegun mendengarnya.

"Hanya karena itu?"

"Hanya kau bilang?"

Damian seakan tak terima karena Samuel terkesan menyepelekan masalah tersebut.

"Sorry, maksudku gak biasa kau bisa empati dan overthinking begini soal perempuan. Ya okelah alasannya karena dia hamil anakmu, tapi-"

"Gak ada tapi, Ester akan jadi pusat fokusku sekarang. Dan kau juga tau kalau aku gak pernah main-main dengan ucapanku. Jadi jangan tanyakan lagi atas jawaban yang kau sendiri tau sejak di apartement ku waktu itu," selatnya.

"Oke, aku gak akan bahas soal itu lagi. Tapi gimana dengan Ramor?"

"Kenapa?"

"Apa harus dia? Setelah kejadian 8 tahun silam, kau masih percaya dengan dia?"

"Siapa bilang? Aku hanya butuh bantuannya. Dengan banyak kenalan dan latar belakangnya itu mempermudahku menemukan apa yang kucari."

"Tapi menurutku juga resiko, Dam. Dia bisa aja memanfaatkan situasi ini dengan akal bulusnya yang mata duitan itu."

"Terus kenapa? Aku gak semiskin itu, Sam. Selama tali ada di tanganku, semua kendalinya bisa kuatur."

Samuel menghela napasnya kasar. Sulit sekali untuk memberitahu si kepala batu ini jika sudah memiliki keinginannya sendiri. Pendiriannya yang terkadang sembrono dari keputusan rasional, membuat Samuel geleng kepala.

"Awas aja kalau dia menjebakmu sampai berurusan dengan polisi lagi hanya karena nafsu mata duitannya gak terpenuhi. Aku peringatkan tanpa mau ikut campur."

Damian malah tersenyum tipis. Ia menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi dengan tatapan yang beralih ke lain arah.

"Bahkan Dito pernah kukalahkan. Apa lagi yang harus ditakutkan dari benalu darat seperti Ramor itu?"

One Night Sleep Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang