"Apa-apaan kamu, huh?" bentak Qabil seraya mendorong wanita dipangkuannya. "Sayang, aku bisa jelasin." Dia berdiri hendak menghampiri istrinya. Sementara Qalbi, ia berjalan dengan santainya memasuki ruangan suaminya, mengambil tangan suaminya untuk disalami seperti biasa, lalu berjalan menuju meja untuk meletakkan rantang makanan di sana.
"Luth, dia siapa?" tanya Qalbi kepada sekertaris merangkap sebagai asisten Qabil tersebut. "Klien Pak Boss, Nona." Qalbi menganggukkan kepala mengerti, lantas mendekati wanita tersebut. "Sayang," panggil Qabil merasa was-was dari tempatnya berdiri. "Kalau boleh tau, apa keperluan anda dengan suami saya di luar jam kerja?" Wanita tersebut menyeringai, "menurut lo gue mau apa?" ujarnya menantang.
"Mau menggoda suami saya. Sayangnya suami saya tidak tergoda. Benar begitu?" ungkap Qalbi dengan tenang. "Tau dari mana kalo dia ngga tergoda? Realitanya, gue berhasil duduk dipangkuannya," balas wanita itu tidak mau kalah. "Jaga ucapan anda Nona Anastasya! Jangan memaksa saya menghancurkan hidup anda saat ini juga," ujar Qabil cukup keras.
"Aku ngga suruh kamu ngomong," peringat Qalbi. Di dekat pintu, Luthfi berusaha keras menahan tawa. "Jangan kira saya tidak tahu bahwa bahkan sebelum suami saya menikahi saya, anda sudah seperti lintah darat yang mengejar dan menempeli suami saya secara paksa." Ini sisi baru Qalbi yang tentunya membuat Qabil terkesan sekaligus khawatir.
"Jika memang suami saya menginginkan anda, dia tidak akan mau dijodohkan dengan saya, dan pastinya memilih anda sebagai istrinya. Namun, tidak begitu bukan?" Anastasya terdiam, karena memang begitulah faktanya. "Berhenti menjatuhkan harga diri anda untuk lelaki yang bahkan tidak menghargai keberadaan anda. Anda berhak bahagia, meski bukan dengan lelaki yang anda inginkan," ujar Qalbi dengan tegas.
"Saya tidak akan beraksi berlebihan seperti perempuan kebanyakan. Karena saya menghormati suami saya dan menjaga martabatnya." Ungkapan Qalbi membuat dada Qabil menghangat. "Sama halnya bahwa saya masih menjaga perasaan anda sebagai sesama perempuan. Jadi, saya harap anda dapat melakukan hal yang sama." Tutup Qalbi dengan epiknya.
Anastasya hendak membalas perkataan Qalbi, tetapi Qabil lebih dulu membuka suara, "pergi sendiri atau diseret pergi?" Mendengar hal tersebut, Anastasya benar-benar merasa dipermalukan, sehingga dengan menghentakkan kakinya dia pergi dari sana. "Kalau begitu saya juga permisi Tuan dan Nona," pamit Luthfi.
"Lo ngga mau bantu jelasin?" tanya Qabil berusaha menahan Luthfi. " Saya rasa bukan ranah saya lagi Tuan," ejek Luthfi kemudian berlalu dari sana meninggalkan keduanya dengan pintu ruangan yang tertutup rapat.
Qalbi membawa dirinya untuk duduk pada sofa yang tersedia di sana. "Jadi makan siang atau ngga?" tanyanya dengan nada datar. "Hm?" karena memikirkan hal yang mungkin akan terjadi dengannya setelah ini, dia melamun sampai-sampai tidak mendengar istrinya berbicara. "Kalo ngga jadi, aku pulang."
Mendengar hal tersebut, Qabil tentu saja bergegas untuk duduk di dekat istrinya dan menahan istrinya agar tidak beranjak dari sana. "Mau sayang, aku udah kelaparan." Tanpa membalas perkataan Qabil, Qalbi melepaskan tangan Qabil dari lengannya, kemudian menyediakan makanan yang dibawanya di atas meja, yang berada tepat di hadapan mereka.
"Aku minta maaf," ujarnya tidak tahan didiamkan oleh istrinya. "Demi Allah Bi, aku ngga suka dia duduk dipangkuanku. Itu tadi mau langsung dorong, tapi kamu keburu datang dan liat." Qabil berusaha menjelaskan peristiwa naas tersebut kepada istrinya sambil berusaha menggapai lengannya.
"Jangan ganggu, bisa?" Suaranya lembut, tetapi yang terdengar ditelinga Qabil malah sebaliknya. "Marah banget, yah?" tanyanya dengan nada rendah. "Pasti marah banget," sendunya. "Nanti lagi dilanjutin, makan dulu. Laparkan?" Qalbi menyodorkan sepiring makanan di hadapan suaminya.
"Selesaiin dulu baru aku makan," ujar Qabil tidak mau mengambil makanan dari istrinya. "Tantrumnya tunda dulu. Jam istirahat dikit lagi selesai. Nanti kamu ngga sempat makan siang," bujuk Qalbi. "Aku bosnya, ngga papa." Dalam keadaan seperti ini, rupanya Qabil masih sempat memperlihatkan kesombongannya.
Qalbi menghela napas. Meletakkan makanan yang masih dipegangnya di atas meja, "aku ngga suka kamu bersentuhan dengan yang bukan mahram kamu," ungkap Qalbi. "Aku ngga marah, karena aku tau kamu ngga sengaja ngelakuinnya," ujarnya kemudian. "Tapi aku ngga rela kamu sentuhan sama wanita lain," ucapnya memandang ke sembarang arah, enggan menatap suaminya.
Bukannya merasa bersalah, Qabil malah terlihat senang. "Kamu cemburu?" tanyanya sambil memperlihatkan senyum lebarnya. "Istri mana yang ngga cemburu suaminya pangku-pangkuan sama wanita lain, aku tanya?" jawab Qalbi menggebu. "Ngga lagi sayang, itu yang terakhir. Aku janji. Maaf, yah." Meski senangnya bukan kepayang, Qabil berusaha menetralkan nada suaranya.
"Tapi aku ngga bisa lupa. Jadi, sampe aku abaiin itu, jangan sentuh-sentuh aku dulu." Rupanya Qabil terlalu senang dicemburui oleh istrinya, sampai lupa akibat dari kecemburuan seorang perempuan. "Ngga bisa gitu dong sayang. Aku udah biasa sentuh-sentuh kamu. Aku pasti merasa ada yang kurang setiap detiknya," sendunya.
"Ngga usah lebay. Udah selesaikan? Sekarang makan," titahnya. "Belum sayang. Kita belum mendapat kesepakatan terbaik," protes Qabil. "Makan atau aku tinggal pulang?" ujar Qalbi terdengar serius. "Suap tapi, iya?" Sudah dikasih hati malah minta jantung, ungkapan itulah yang cocok untuk menggambarkan sosok seorang Qabil saat ini.
***
Tengah malam buta, Qalbi baru sampai di depan kamarnya dan suaminya. Memang sedarinya dia di kantor suaminya, tiba-tiba saja ada pasien yang membutuhkannya. Hal tersebut tentu saja membuat seorang Qabil uring-uringan, ditinggal oleh istrinya bekerja rodi.
Mengendap-endap, dia membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Keadaan di dalam sana remang-remang, dirinya tebak bahwa suaminya sudah tidur di dalam selimut tebal mereka. Namun nyatanya, di sana suaminya tengah bersujud di hadapan Rabbnya. Tentu saja hal tersebut membuat hati Qalbi menghangat. Tidak mau mengganggu salat malam suaminya, dia bergegas menujur ke kamar mandi dan membersihkan diri.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," lirih Qabil di kedua salam dalam salatnya. Setelahnya dia berzikir kemudian berdoa kepada Yang Maha Kuasa, tanpa menyadari bahwa istrinya sudah berada di dalam ruangan yang sama dengan dirinya.
Beberapa menit kemudian, sebuah tangan lembut terulur di depannya. "Salim, Mas." Suara itu, suara yang dirinduinya seharian ini. Membuatnya bergegas mengambil tangan tersebut, kemudian menciumnya dan menarik pemiliknya masuk ke dalam pelukannya. "Rindu banget sama kamu," ungkapnya.
"Padahal belum boleh sentuh-sentuh," ucap perempuannya dengan nada bercanda. "Besok kita liburan, yuk" ajaknya tiba-tiba. Qalbi melepaskan pelukannya, "kenapa, hm?" tanyanya memandang tepat di depan mata tajam suaminya. Menarik kembali istrinya untuk memeluknya, "aku sadar selama kita menikah, masalah terus menghampiri. Aku mau istirahat sama kamu. Merilekskan diri sama kamu," ungkapnya.
"Terus kerjaan kita gimana?" tanya Qalbi dihadiahi pelukan erat oleh suaminya, karena gemas dengan kegilaan kerja istrinya (padahal dirinya juga gila kerja). "Kerjaanku ada Luthfi yang hendel. Terus soal kerjaan kamu, nanti aku yang izinin sama Sadewa," ujarnya tenang. "Aku ikut kamu aja," ucap Qalbi seraya menikmati pelukan suaminya.
"Kamu kapan sih selesai red day nya?" tanyanya. Qalbi mematung, kemudian dengan penuh usaha melepaskan pelukan suaminya. Mengagkat tangan, lalu mengelus kepala suaminya, "sabar yah? Dikit lagi," ujarnya kemudian tersenyum dan beranjak dari sana. "Lah, kok aku ditinggal," rengek Qabil pun ikut beranjak mengikuti istrinya menuju ranjang mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bintang Senja
Spirituale[ ON GOING ] لا تحز ان الله ماعنا. Laa Tahzan Innallaha Ma'naa "Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (Q.S. At-taubah /9:40) *** Bukan kisah layaknya Adam dan Hawa, bukan juga cerita seperti Yusuf dan Zulaikha, apa lagi mengenai...
