Akhir-akhir ini, Qabil menghabiskan waktunya di rumah, di kantor, dan di rumah sakit tempat Qalbi bekerja. Dokter, perawat, karyawan rumah sakit lainnya, bahkan pasien, sudah banyak yang mengenalnya. Si CEO tampan milik dokter Qalbi kata mereka.
Seperti pada sore hari ini, dia datang dengan gagahnya, guna menjemput pujaan hatinya.
"Hai, Kak." Chava datang dari arah berlawanan darinya dan menyapa. "Belum balik, Va?" tanya Qabil, bermaksud basa-basi. "Baru datang malah, Kak. Lagi jadwal jaga di UGD," jawab Chava, penuh akan energi positif.
"Baru balik dari luar negeri, udah sibuk aja," canda Qabil. "Nggak sibuk-sibuk amat kok, Kak. Beda tuh sama istri Kakak, super sibuk pokoknya," balas Chava, semakin melebarkan senyumnya. Membalas senyuman Chava, "kalau dia, jangan ditanya. Aset rumah sakit kata Sadewa," ungkapnya, seakan-akan membanggakan istrinya.
Berdehem pelan, "mau jemput dokter Qalbi yah, Kak?" tanya Chava kemudian. "Iya. Operasinya udah beres kan?" jawab Qabil yang dilanjutkan dengan balas bertanya. "Setau gue, dia masuk ruang operasi lagi, Kak."
Menghela napas panjang, mengambil telepon genggamnya, "oh, iya. Dia ada ngirimin gue pesan, guenya nggak liat," ucapnya setelah memeriksa ruang obrolan dirinya dengan istrinya. "Mau nunggu sambil ngobrol sama gue nggak, Kak? Udah lumayan lama kita nggak ngobrol, kan?" tawar Chava, terdapat keraguan di dalamnya.
Tidak mengalihkan pandangannya dari telepon genggamnya, "kayaknya gue nggak bisa, gue masih ada kerjaan soalnya. Nanti gue balik lagi setelah operasi Qalbi selesai," ujar Qabil, memberikan guratan kekecewaan di wajah Chava.
"Makasih yah, Va. Gue balik dulu," pamit Qabil. Namun, belum jauh langkahnya, dia kembali mendatangi Chava yang masih berdiri memelas di tempatnya. "Kalau lo ketemu Qalbi, jangan bilang kalau gue udah sempet datang jemput dia," pesannya, kemudian berlalu pergi dengan langkah panjangnya.
***
Semenjak menikah, baik Qabil mau pun Qalbi, tidak pernah lagi membawa pekerjaan mereka pulang ke rumah. Kecuali jika pekerjaan itu memang tidak bisa ditunda. Sehingga, kegiatan mereka sepulang kerja adalah fokus beribadah pun melakukan hal-hal yang mereka suka.
Contohnya, seperti saat ini. Selepas menunaikan ibadah salat Isya, Qalbi mengambil novelnya, kemudian duduk pada sofa yang ada di kamar mereka. Tidak berselang lama, Qabil datang, membaringkan kepalanya di atas pangkuan istrinya, menyalakan tv menonton kartun kesayangannya, Si Spons Kuning berumah nanas.
"Bi?" panggilnya. Tidak mengalihkan pandangannya dari novel yang sedang dibacanya, Qalbi menjawab, "iya?" Merasa tidak diperhatikan, Qabil mengambil alih novel yang ada di tangan Qalbi, meletakkannya di atas meja. "Liat ke aku," pinta Qabil.
Tersenyum lembut, memandang suaminya dari atas, mengelus surainya yang sedikit basah, "ada yang mau kamu omongin?" tanya Qalbi setelahnya. Membiarkan satu tangan istrinya memainkan rambutnya, sedangkan satu tangan yang bertengger di dadanya, diambil untuk digenggamnya. "Aku mau ngobrol aja," ungkapnya.
Qalbi tidak membalas ucapan suaminya, seakan-akan memberikan ruang kepada suaminya untuk berbicara. "Tau Chava nggak?" Menatap lurus ke atas, melihat raut muka istrinya, takut-takut jikalau dirinya salah bicara.
"Dokter Chava?" ujar Qalbi memperjelas objek yang hendak dibicarakan oleh Qabil. Menganggukkan kepala, "kamu tau nggak kalau dia itu sahabat kecil aku?" lanjutnya, terdengar keraguan dari nada bicaranya.
"Iya, tau. Kamu dan Pak Sadewa pernah cerita kan?" jawab Qalbi, terlihat tenang nan teduh. Berdehem pelan, berusaha meredam kegugupannya, "kamu tau nggak?" lanjutnya, tidak elak dirinya sampai memilin-milin rambut Qalbi yang tergerai.
"Tau kalau kamu hari ini empat kali datang ke rumah sakit?" ujar Qalbi menebak apa yang hendak Qabil katakan. Namun, Qabil bukannya dapat menangkap maksud dari Qalbi, dirinya malah mengangkat satu alis penuh tanya, "huh?"
Menghela napas panjang, "pertama, kamu ngantar aku. Kedua, kamu datang makan siang bareng aku. Ketiga kamu jemput aku, tapi aku masih di ruang operasi. Keempat, kamu datang lagi jemput aku. Nggak capek kamu?" jelas Qalbi, tetapi penuh kelembutan dan kasih sayang.
Mengangkat kepalanya, berusaha mesejajarkannya dengan kepala Qalbi, tetapi dengan badan yang masih setengah berbaring, "kamu tau dari mana kalau aku sempat datang jemput kamu?" tanyanya penuh keheranan.
Gemas dengan kelakuan suaminya, Qalbi mencuri kecupan pada keningnya, "aku nggak sengaja dengar dokter Chava ngomong ke rekannya," ungkap Qalbi, sedangkan Qabil yang diperlakukan demikian, kembali berbaring karena merasakan lemas pada tulang-tulangnya, alias salah tingkah.
"Kalau aku beneran terima tawaran dia buat nunggu kamu sambil ngobrol sama dia, gimana? Ngobrolin masa indah bersama, misalnya. Kamu cemburu nggak, Bi?" Menghiraukan kebucinannya, Qabil kembali melayangkan pertanyaan kepada Qalbi.
Mengembangkan senyumnya, Qalbi tidak menjawab, justru balik bertanya kepada suaminya itu, "kamu terima nggak tawaran dia?" Qabil menggelengkan kepala menjawab tanya istrinya.
"Terus ngapain aku harus cemburu?"
Mengelus pipi suaminya lembut, "nggak ada kata jika dalam kamusku, Bi. Responku tergantung apa yang sudah terjadi. Caramu menolaknya adalah usahamu dalam menghargaiku sebagai istrimu dan menghargainya sebagai sahabat masa kecilmu," ungkap Qalbi menyiratkan rasa terima kasih atas sikap tegas suaminya terhadap wanita lain.
"Mengenai cemburu, cemburu adalah tabiat dan hakikat setiap perempuan. Bahkan laki-laki pun merasakannya bukan?" Menyetujui perkataan istrinya, Qabil mengangguk-anggukan kepala.
"Dalam bahasa arab, cemburu disebut juga ghairah. Sebagian ulama bahkan menegaskan bahwa tidak ada kemuliaan bagi orang yang tidak memiliki ghairah. Ini disebutkan dalam kitab Muhadarat Al-Adibba, jilid 2 halaman 255."
"Dikisahkan pula bahwa Aisyah cemburu kepada Khadijah yang bahkan sudah wafat jauh sebelum Rasulullah menikahinya. Kisah ini memberitahukan kepada kita bahwa cemburunya wanita sudah ada sejak zaman Nabi."
"Tidak hanya itu, Hawa yang pada dasarnya tahu bahwa kala itu dirinya lah satu-satunya wanita, tetap merasa cemburu ketika Nabi Adam telat pulang ke rumah dari biasanya. Atau Zulaikha yang cemburu kepada tanah, karena Nabi Yusuf yang senantiasa menunduk ketika berbicara dengannya."
"Meski begitu, terkadang karena perasaan cemburu ini, orang bisa berprilaku buruk. Oleh karenanya, aku sebagai seorang istri, harus punya cara dalam mengendalikan rasa cemburu itu. Meringankan rasa cemburuku kepadamu, agar rasa itu tidak melampaui batas, sehingga bisa berubah menjadi tuduhan tanpa dasar, menimbulkan perselisihan antara kita, atau bahkan menyakiti hati kamu."
"Selain berusaha mencari cara dalam mengendalikan rasa cemburuku, pun tidak boleh menyulut kecemburuan kamu sebagai suamiku. Contoh kecil memuji laki-laki lain di depan kamu."
Mengambil napas sebentar, "jadi, mari kita sama-sama meringankan rasa cemburu satu sama lainnya, yah?" lanjutnya, meminta dengan tulus kepada suaminya.
"Kebaikan apa yang sudah aku lakukan di masa lalu sampai-sampai Allah mengirimkan kamu buat aku, Bi?" Qalbi menggelengkan kepalanya, "nggak hanya ke kamu, kebaikan itu juga diberikan-Nya kepadaku," ucap Qalbi, Qabil kembali tersipu dibuatnya.
Membalikkan kepala ke arah perut rata istrirnya, membenamkan wajahnya di sana, pun kedua tangan kekarnya ikut melingkar pada pinggang kecil milik sang istri. "Akwu swayang bwanget samwa kamwu," ucapnya tidak jelas.
Terkekeh merasa geli dengan pergerakan bibir suaminya pada perutnya, "aku juga sayang banget sama kamu, Bi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bintang Senja
Spiritual[ ON GOING ] لا تحز ان الله ماعنا. Laa Tahzan Innallaha Ma'naa "Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (Q.S. At-taubah /9:40) *** Bukan kisah layaknya Adam dan Hawa, bukan juga cerita seperti Yusuf dan Zulaikha, apa lagi mengenai...
