BS || 30

1 0 0
                                        

Memasak dan menghidangkan makan malam bersama, selama itu pula Qabil seakan enggan melunturkan senyumnya. Qalbi ditatapnya lekat, sampai-sampai menumpahkan beberapa bahan makanan dan menjatuhkan beberapa alat masak. Meski begitu, hanya senyuman penuh kesabaran yang dapat dilayangkan Qalbi kepada suami tercintanya.

Setelah semuanya sudah siap di meja makan, Qalbi mengambil piring, "mau makan apa, Mas?" tanyanya kepada Qabil yang sudah duduk manis di sebelahnya. Qabil menatap lauk pauk di depannya, "semua-muanya aja sayang," pintanya, mencuri pandang ke arah istrinya.

Setelah selesai mengambilkan nasi beserta lauk pauk untuk suaminya, Qalbi hendak mengambil juga, tetapi lengannya di tahan oleh Qabil. "Sepiring berdua, mau nggak, Bii?" tawarnya, mengangkat piring yang sudah penuh dengan makanan itu.

Menganggukkan kepala, melebarkan senyumnya, "bilang aja kalau mau aku suap Mas," goda Qalbi hendak meraih sepiring makanan yang sudah dia siapkan tadi dari tangan suaminya. Menjauhkan sepiring makanan tersebut, "kali ini aku yang suap," ucap Qabil yang entah kerasukan apa pada malam hari ini.

Memperbaiki posisi duduknya dan sedikit menyerong menghadap suaminya, "ya udah. Yok baca doa makan dulu," ujar Qalbi pun mengangkat tangannya menengadah untuk berdoa, Qabil mengikutinya.

Mengambil sesendok nasi beserta lauk pauknya, Qabil sudah siap menyuapi istrinya. Namun, melihat makanan tersebut yang masih mengepul panas, Qabil hendak meniupnya. "Jangan, Mas." Buru-buru, Qalbi menghentikannya.

Membuka mulut dan berencana melanjutkan ucapannya, Qalbi malah mendapati telunjuk suaminya membungkam bibirnya. "Suuut," katanya. "Dalam hadist riwayat Abu Daud dan At-Tirmidzi, dari Ibnu Abbas radhiallahu'anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam melarang mengembuskan nafas dan peniupan makanan atau minuman pada bejana," lanjutnya, menjelaskan tindakannya yang keliru.

"Aku baca dari webnya NU online, dari hadist ini beberapa ulama memiliki pendapat yang berbeda. Jumhur ulama berpendapat bahwa hukumnya makruh tanzih yang berkaitan dengan adab pun kebersihan. Sebagian ulama pula berpendapat larangan makruh ini berlaku dengan asumsi makan beramai-ramai dari satu bejana. Takutnya jika ada yang meniup makanan atau minuman tersebut, orang lain akan merasa jijik atau menduga masuknya kotoran pun penyakit di mulutnya ke wadah bersamaan dengan tiupannya."

Meletakkan piring berisi makanan tersebut ke atas meja, kemudian dia mengambil tangan istrinya untuk digenggamnya. "Di sana dikatakan pula, jika seseorang makan sendiri atau makan bersama keluarga atau muridnya, maka larangan yang dimaksud tidak berlaku. Alasannya karena orang yang makan bersama tidak akan merasa jijik dengan tindakan tersebut," tambahnya, begitu lembut memberikan penjelasan kepada istrinya.

"Dalilnya bisa dilihat pada Al-Munawi, Faidhul Qadir, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 1994M/1415H, juz VI, halaman 420. Kata Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam, melarang peniupan makanan karena mengisyaratkan ketergesa-gesaan, kerakusan dan kurang sabar. Al-Mahlab mengatakan bahwa letak larangan itu terdapat ketika seseorang makan bersama orang lain pada satu wajan. Jika seseorang makan sendiri atau bersama orang yang tidak menganggap kotor apa pun yang keluar dari dirinya, seperti istri, anak, bujang, dan muridnya, maka tidak masalah."

Menghela napas sebentar, "satu pendapat di dalam Mazhab Maliki menyatakan bahwa peniupan atas makanan tidak dimakruhkan bagi orang yang makan sendiri. Al-Amidi dari Mazhab Hambali mengatakan bahwa peniupan makanan tidak makruh bila makanan itu panas. Al-Mirdawi mengatakan bahwa, ini yang benar, tidak makruh jika ada keperluan mengonsumsinya saat itu," jelas Qabil kemudian.

"Meski begitu, mayoritas ulama menyarankan bagi orang yang bisa menunggu untuk menunggu, sedangkan bagi mereka yang berhajat bisa mempercepat pendinginan makanan dengan menggunakan alat bantu, kipas misalnya."

Mengakhiri penjelasannya, "tadi itu aku lupa, karena aku belum terbiasa mengamalkannya. Perlahan yah, Bii?" ungkap Qabil, menumbuhkan rasa haru di hati Qalbi. Mencium telapak tangan suaminya bolak balik, "terima kasih sudah mau belajar sejauh itu," ujar Qalbi merasa sangat bahagia atas perubahan suaminya, perlahan tapi pasti.

Tersenyum hangat, menatap wajah cantik istrinya sebentar, "sekarang makanannya udah lumayan hangat nih, Bii. Yok kita lanjut makannya, sebelum aku yang makan kamu," canda Qabil, membawa sesendok nasi beserta lauk pauknya ke depan mulut Qalbi.

Cukup lama mereka menikmati makan malam berdua, sebelum akhirnya Qabil berdiri di depan wastafel dan mencuci piring bekas masak maupun makan malam mereka.

Menengok ke belakang, menatap istrinya yang sudah duduk manis sambil memainkan ponselnya. "Bii?" panggilnya pelan. Tidak mengalihkan pandangan dari ponselnya, "iya?" jawab Qalbi. "Akunya di sini sayang, bukan di dalam ponselmu itu," ungkapnya, terdengar nada merajuk di sana.

Terkekeh pelan, meletakkan ponselnya di atas meja, menatap ke arah suaminya yang sudah kembali fokus pada cucian piringnya. "Ada apa, Mas? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Qalbi lemah lembut pun mendayu-dayu.

Sudah kepalang kesal, Qabil tidak menjawab pun tidak menengok sama sekali ke arah istrinya. Qalbi mendekat, berdiri di belakang, meletakkan dagunya di atas bahu kanan suaminya, "ada apa Mas Abi?" tanyanya sekali lagi.

Tersipu, berusaha keras menahan senyumannya, "jangan dekat-dekat aku, main aja sana sama ponsel kamu," ucapnya pundung, tetapi tidak mendorong Qalbi untuk menjauh dari tubuhnya, justru semakin mundur agar bisa menempel di tubuh kecil istrinya.

Menengok pun mendongakkan kepala, sehingga pipi kirinya hampir menempel pada leher suaminya, "kan Mas Abi yang nyuruh aku duduk aja. Katanya biar Mas Abi yang beresin semuanya," ucap Qalbi sesuai dengan faktanya, tetapi malah membuat suaminya itu semakin memperlihatkan ekspresi ngambeknya.

"Ya udah, balik lagi aja sana mainin ponsel kamu," ujarnya dengan nada ketus.

Qalbi tersenyum pun sedikit menahan tawa, menjauhkan kepalanya dari pundak Qabil, memberanikan diri melingkarkan kedua tangannya pada pinggang kokoh itu, menempelkan pipi kanannya di punggung lebar suaminya. "Aku tadi cuman lagi cek penjualan novel yang baru terbit, Mas Abiku Sayang."

Tersenyum lebar, salah tingkah, Qabil hampir saja menjatuhkan gelas di tangannya. "Gini aja tiap hari, Bii. Senang aku," ungkapnya yang dihadiahi cubitan kecil pada pinggangnya. "Itu mah maunya Mas Abi," ucap Qalbi hendak melepaskan pelukannya, tetapi Qabil dengan sigap menahannya.

Merasakan tangannya penuh dengan busa sabun, "Mas Abi," protes Qalbi. Terkekeh pelan, Qabil menukar posisi mereka, membiarkan dirinya yang memeluk Qalbi dari belakang, kemudian dengan hati-hati membasuh tangan istrinya itu.

Mengecup pipi istrinya, "Bii?" panggilnya. Berdehem, "iya, Mas?" jawab Qalbi. "Kamu mau punya anak berapa?" tanya Qabil tiba-tiba. "Kalo berdasarkan kemauan aku, dua cukup, Mas." Mengangguk anggukkan kepala mengerti, "aku sih maunya tiga, Bii. Kalo bisa, satu laki-laki, dua perempuan," ujar Qabil, masih terus membersihkan tangan istrinya di bawah guyuran air.

Membalikkan Qalbi, mengelap tangannya dengan tissue, "sebenarnya, aku mau perempuan semua. Cuman kasian, nggak ada yang bakal nerusin perusahaan. Jadi aku tetep butuh anak laki-laki, meski pun nanti kayaknya aku bakal cemburu terus," jelas Qabil penuh binar.

Dirasa tangannya sudah kering, Qalbi menangkup wajah suaminya, "sedikasihnya sama Allah yah Mas," ujar Qalbi mengingatkan. "Iya, Bii. Selain berdoa, kita juga harus berusaha. Makanya, yok Sayang," ajaknya, Qalbi tau arahnya ke mana.

Menggeleng-gelengkan kepalamelihat kelakuan suaminya, "itu mah maunya kamu," ungkap Qalbi. Mengecup bibiristrinya cukup singkat, "hukuman," ucapnya, dan tanpa dijelaskan Qalbi sudahmengerti. Baru saja hendak kembaliberbicara, suaminya itu sudah lebih dulu menggenggam tangannya pun menariknyamenuju kamar mereka. Ya sudah lah, biarkan keduanya memadu kasih, berusahamendapatkan buah hati.

Bintang SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang