Setelah selesai menangani pun mengurus segala keperluan Rafael, Qalbi kemudian menyusul suaminya untuk melihat perkembangan kondisi Ayra dan kandungannya. Sesuai informasi yang dirinya terima dari Ibu Mertuanya, saat ini dia baru saja sampai di ruang tunggu ruang bersalin.
Melihat kedatangan Qalbi, Ayyana dengan sigap berdiri, menghampiri menantunya, "bagaimana keadaan Kakek, Sayang?" tanyanya dengan raut wajah penuh rasa khawatir. "Sudah stabil, Bunda."
Mengelus bahu mertuanya, kemudian menuntunnya untuk duduk pada tempatnya semula, "Bunda tenang aja, Kakek kuat kok. Tante Rayya dan Om Shaka pun Kak Sadewa selalu ada di sampingnya. Di sini, Ayra lagi butuh dukungan Bunda," jelas Qalbi, memeluk Ayyana.
Menganggukkan kepala menyetujui perkataan Qalbi, "Ayra harus melahirkan malam ini. Padahal kandungannya belum cukup umur," ungkap Ayyana, menghela napas panjang. "Doakan saja yang terbaik, Bunda." Ahmad tiba-tiba menghampiri keduanya, mengambil alih istrinya dari pelukan menantunya.
"Terima kasih Sayang," ujar Ahmad kepada Qalbi. "Bunda biar sama Ayah. Kamu urusin suami kamu tuh," pinta Ahmad, sambil menatap ke arah Qabil yang tengah duduk di lantai sambil menangis sesegukan.
"Orang yang lalu lalang pasti bingung, ini suaminya yang mana. Bukannya nenangin Adek Iparnya, malah dia yang perlu ditenangin," omel Ahmad, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah jagoannya.
Menghela napas panjang, Qalbi hanya bisa tersenyum tipis, merasa tidak enak hati dengan Ahmad atas tingkah luar biasa suaminya. "Mas Abi?" panggil Qalbi lembut, menepuk-nepuk bahu Qabil. Mendongak, "sayang," rengek Qabil, memeluk pinggang ramping Qalbi, menyandarkan kepalanya di perut rata istrinya.
"Astagfirullah, Bang. Ingat umur, Bang. Nggak pantes, masa." Sagara yang tadinya berdiri di sana sambil menertawakan kelakuan dua orang laki-laki itu, kini merasa jengah dengan tingkah laku salah satunya.
Menatap tajam ke arah Sagara, "bilang aja kalau lo iri, Bocil. Jangan kira gue nggak nyadar lo ketawa ketiwi dari tadi di situ, yah. Kalau nganggur, tuh urusin Kakak Ipar lo," omel Qabil garang, meski air matanya masih saja terus berjatuhan.
"Adek Ipar lo itu, Bang. Lagian pake marah-marah segala. Hapus dulu air mata sama ingus lo tuh, udah meleleh ke mana-mana. Jijik napa Kakak Ipar," balas Sagara, kemudian mengompor-ngompori Qalbi.
Merasa tidak terima, Qabil hendak menimpali omongan Sagara, namun Qalbi mencegahnya. "Udah, Mas. Sama anak kecil kok nggak mau ngalah. Ayo berdiri," ucap Qalbi seringan bulu. Merasa dirinya dibela, Sagara memberikan tatapan mengejek ke arah Qabil.
Qabil hendak mengadu, tetapi lagi dan lagi Qalbi mendahuluinya. "Sagara, Kakak minta tolong dong, bantuin Arbhy berdiri," pinta Qalbi, kali ini Qabil yang tersenyum penuh kemenangan. Mendengus, "baik Kakak Ipar. Apa sih yang nggak buat Kakak Ipar," ucap Sagara, sengaja ingin memanas-manasi Qabil.
Tidak berselang lama, seorang dokter wanita ke luar dari ruangan tersebut. Bergegas mereka berkumpul di depannya, "bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Arbhy buru-buru. "Sejauh ini kondisinya sudah stabil, jadi sepertinya tidak diperlukan operasi dalam menanganinya," jelas dokter tersebut cukup singkat.
"Memangnya anak saya memungkinkan untuk melahirkan secara normal, Dok?" tanya Ayyana kemudian. "Syukur Alhamdulillah, dari serangkaian pemeriksaan, hasilnya memungkinkan Bu. Bagaimana pun ini permintaan dan kesanggupan pasien," ungkap sang dokter, mengulas senyum tipis.
Memahami kecemasan keluarga suaminya, "tenang aja. Bun. Ayra pasti tau yang terbaik untuk dirinya. Sekiranya dia rasa dirinya mampu, kenapa kita tidak memberikannya kesempatan. Toh, Dokter juga sudah mengatakan bahwa Ayra memungkinkan untuk lahiran secara normal," ucap Qalbi penuh akan ketenangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bintang Senja
Espiritual[ ON GOING ] لا تحز ان الله ماعنا. Laa Tahzan Innallaha Ma'naa "Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (Q.S. At-taubah /9:40) *** Bukan kisah layaknya Adam dan Hawa, bukan juga cerita seperti Yusuf dan Zulaikha, apa lagi mengenai...
