Malam ini Qabil dan Qalbi memutuskan untuk bermalam di rumah Ahmad, setelah sibuk seharian membantu terlaksananya acara tujuh bulanan Ayra.
Sanak saudara mau pun tetangga sudah beranjak pulang sejak sore hari, begitu pula dengan halaman dan ruangan bekas acara yang telah dibereskan.
Kini, keluarga inti dari Ahmad maupun Ayyana tengah berkumpul menikmati kebersamaan. Berdehem, bermaksud memulai perbincangan, "jadi, kalian sudah memutuskan untuk tidak mengetahui jenis kelamin anak kalian sampai dia lahir?" tanya Rafael kepada cucu dan cucu menantunya—Ayra dan Arbhy.
Menganggukkan kepala, "iya, Kek. Ayra mau ngerasain surprise dari Dedek Bayi," ungkap Ayra, menjawab tanya Rafael. Mengerti akan keputusan cucunya, "sesuai dengan kemauan kalian saja. Mau cicitku itu laki-laki atau pun perempuan, yang penting cucuku sehat, cicitku lahir dengan selamat," ujarnya menyetujui.
Mengelus perut buncit istrinya pelan, "amiin ya rabbal 'alamin. Terima kasih atas doanya Kakek Buyut," ucap Arbhy, seakan-akan mewakili buah hatinya untuk berbicara.
Rafael terkekeh pelan, rona bahagia tergambar jelas di wajahnya. "Semoga Qabil dan Qalbi segera menyusul," lanjut Rafael, mengundang kekehan tertahan dari Sadewa dan Sagara. Melirik tajam ke arah kedua sepupunya itu, "amiin ya rabbal 'alamin. Doaian aja Kek," ujarnya singkat, ikut-ikutan mengelus perut rata istrinya.
"Ngapain diusap, Bang? Orang Dedek Bayinya belum ada," goda Sagara, menahan tawanya. "Setidaknya gue udah nabung, tinggal tunggu hasilnya. Dari pada lo, jangankan nikah, lulus kuliah aja belum," balas Qabil dengan kekesalan yang teramat kentara.
Menghentikan kedua cucunya dari perdebatan tidak berujung, Rafael melihat ke arah Sadewa dan Sagara, "Sadewa juga, jangan lama-lama jadi bujang. Semoga disegerakan jodohnya, biar bisa nyusul Qabil dan Ayra," ungkap Rafael. "Dan kamu, Sagara. Segera selesaikan studimu, baru kemudian bekerja di perusahaan, biar bisa menyusul jejak Abang dan Kakakmu," tambahnya. Kali ini Qabil yang terkekeh pun memberikan tatapan mengejek ke arah Sagara.
Merasa tidak terima, Sagara hendak membalas ucapan Kakeknya, Rayya—Ibunya segera membekap mulutnya, "kalo dibilangin sama orang tua itu nurut, jangan asyik membantah saja kamu," ucapnya mendelik garang ke arah Sagara.
Melepaskan tangan Rayya dari mulutnya, "aku cuman mau aminin loh, Mah. Soudzon aja sama anak sendiri,"cemberut Sagara, membuat mereka yang ada di sana terkekeh gemas akan tingkahnya.
Tersenyum tidak ikhlas, "doakan saja yang terbaik Kek," jawab Sadewa sekenanya.
Memberi kode berupa kedipan mata kepada Rayya, "kalo dalam beberapa bulan Sadewa belum bawa calonnya ke rumah Ray, jodohkan saja. Qabil noh, dulunya nolak, sekarang nempel banget, udah kayak perangko," saran Ayyana, Sadewa menghela napas panjang dibuatnya.
Menyetujui ide dari saudara iparnya tersebut, "rencananya begitu, An. Nanti minta tolong sama Qalbi deh buat cariin. Kalo bisa, yang bibit, bebet, bobotnya, percis kayak Qalbi," ujarnya pun memberi kode kepada Qalbi, yang dibalas Qalbi dengan senyuman hangat.
"Ayah sama Papamu juga bisa bantu loh, Dewa. Kebetulan anak rekan bisnis udah pada gadis," ucap Ahmad, ikut nimbrung di dalam perbincangan mereka. "Sering-sering aja kamu ikut meeting dan acara di kantor," tambah Arshaka, menimpali.
Melirik ke arah Sadewa, "asal nggak kayak Natasya aja," ungkap Sagara, sebelum menutup mulutnya rapat dengan kedua tangannya.
Sadewa sudah mengambil ancang-ancang untuk membuka mulut, hendak berbicara. Namun... "Qabil! Keluar kamu, Qabil!" teriak seorang wanita, mengalihkan atensi pun mengagetkan mereka semua. Segera, tidak menunggu waktu lama, Qabil diikuti yang lainnya beranjak dari tempat duduk mereka, menuju ke arah pintu di depan rumah.
Terlihat di sana, Icha tengah berdiri dengan tatapan penuh amarah. Memandang kedatangan Qabil, "bebaskan Natasya dari penjara! Apa salah dia sama kamu, huh?!" Icha kembali berteriak, selain Qabil, mereka hanya bisa menatap penuh tanya.
Terkekeh sinis, "bukan teriakan yang harusnya saya dapatkan, Tante. Tapi ucapan terima kasih," balas Qabil dengan penuh wibawa dan ketenangan. Hendak menghampiri Qabil, tetapi ditahan oleh satpam yang ada di halaman rumah itu, "kamu yang tidak tau terima kasih, Qabil!" amuknya.
"Perusahaan keluarga Natasya adalah investormu, kami ini anak-anak dari sahabat Kakekmu. Natasya sudah mengabdikan hidupnya padamu sedari kecil. Demi jalang itu, kamu tega membuat dia seperti ini. Berengsek kamu Qabil!" jelasnya, sambil menunjuk-nunjuk ke arah Qabil dan Qalbi.
Menatap tajam ke arah Icha, "jangan pernah menyebut istri saya dengan sebutan itu lagi, kalau Tante tidak ingin saya bisukan untuk selamanya," ancam Qabil, sambil menunjuk tegas ke arah Icha. Sedangkan Icha yang diancam demikian, berhenti memberontak, terdapat tatapan ketakutan dalam kilatan amarahnya.
Qabil terkekeh menakutkan kemudian, "mengabdi katamu? Menggoda saya lebih tepatnya. Dia yang harusnya Tante panggil jalang. Lagi pula, bukannya selama ini Tante tidak pernah benar-benar menyayanginya? Tante hanya menjadikannya ladang pemberi uang sebagai satu-satunya putri sah dari keluarga Hadikusuma," lanjutnya membeberkan kebenaran yang ada.
Mendengarkan fakta yang mentah-mentah Qabil ucapkan, Icha kembali memberontak. "Jangan bicara omong kosong kamu, Qabil! Malam itu, kamu sudah meniduri Natasya kan, makanya kamu memenjarakan dia untuk membungkamnya," ungkap Icha, keluarga Qabil yang ada di sana, terkejut bukan main, memberikan kilatan kebanggan pada tatapan Icha.
Berdecih, "saya sekuat tenaga tidak membeberkan aibnya, Tante sendiri yang membukanya. Seharusnya Tante tanya alasan dia dipenjara kepada polisi, agar tidak membuat malu di sini," santai Qabil, menghiraukan keheranan pun keterkejutan keluarganya.
Tertawa layaknya orang gila, "malu kamu bilang? Kamu yang harusnya malu! Kamu meniduri keponakanku, memfitnahnya, memenjarakannya, masih juga mau memfitnahku," geram Icha, berusaha melepaskan cekalan tangan satpam dari tangannya, ingin mendekat ke arah Qabil dan keluarganya.
Terkekeh, kemudian mengehela napas panjang, "demi tidur dengan saya, dia mencelakai orang lain agar istri saya menanganinya di rumah sakit, membiarkan saya datang ke pesta itu tanpa pendamping. Dia bahkan menyewa wanita penghibur untuk menjebak saya dengan obat perangsang. Sayangnya saya tidak tergoda, nyatanya malam itu saya tidur dengan istri saya sendiri, bukan dengannya, dan tidak akan pernah dengannya," jelas Qabil se jelas-jelasnya, mengundang tatapan tidak percaya dari keluarganya.
Jeda sebentar, "itu ide dari Tante bukan? Jadi, Natasya atau Tante yang harus saya penjarakan?" Qabil meneruskan ucapannya.
Tidak mampu mendengarkan segala fakta yang ada, jantung Rafael kambuh, bahkan Ayra mengeluhkan sakit di perutnya, sebelum akhirnya jatuh pingsan dalam pelukan suaminya.
Qalbi yang peka akan hal tersebut, segera memberikan pertolongan pertama pada Rafael, tidak lupa meminta Sadewa untuk memberikan pertolongan pertama pada Ayra. Sagara yang berdiri di sana, secepat mungkin menelepon ambulans. Baik Ahmad, Arshaka, Ayyana mau pun Rayya, dilanda kepanikan dan kekhawatiran.
Melihat keadaan menjadi kacau, Qabil semakin marah menatap Icha, "jika sampai terjadi sesuatu pada Kakek dan Adik saya, jangan harap Tante bisa melihat dunia ini lagi," ucap Qabil, yang selanjutnya meminta satpam untuk menyingkirkan Icha dari sana.
Mengambil ponselnya, menelepon Luthfi, "tidak perlu menunggu waktu yang tepat. Selesaikan rencana kita sesegera mungkin. Pastikan mereka tidak akan lagi mengganggu kehidupanku dan keluargaku. Berapapun bayarannya, berikan mereka ganjaran yang setimpal. Bukan hanya untukku, tetapi juga bagi mereka yang telah dirugikan oleh keduanya," perintah Qabil,tidak terbantahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bintang Senja
Spiritual[ ON GOING ] لا تحز ان الله ماعنا. Laa Tahzan Innallaha Ma'naa "Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (Q.S. At-taubah /9:40) *** Bukan kisah layaknya Adam dan Hawa, bukan juga cerita seperti Yusuf dan Zulaikha, apa lagi mengenai...
