BS || 24

10 0 0
                                        

"Bi, okey?" Qalbi yang tengah memoleskan skin care rutinnya malam itu, berbalik memandang ke arah suaminya. "Alhamdulillah, okey. Kenapa, Bi?"

Menghampiri istrinya, membalikkan badannya ke posisi semula, Qabil memeluk bahu istrinya dari belakang. "Bukannya perempuan itu sensitif terhadap permasalahan kehamilan, yah? Bi nggak apa-apa soal yang tadi?" tanyanya hati-hati, takut kalau-kalau pertanyaannya menyakiti hati wanitanya.

Menyelesaikan usapan pada wajahnya, dirinya menatap Qabil melalui pantulan cermin di depannya, "belum juga ada dua bulan, Bi. Nggak make sense dong kalau aku sakit hati," candanya sambil mengusap lengan Qabil yang melingkar lembut di bahunya. "Bener?" konfirmasi Qabil, menggesekkan wajahnya pada wajah istrinya.

"Biii! Serumnya belum kering," rengek Qalbi, menjauhkan wajah suaminya sesegera mungkin. "Jawab dulu. Beneran nggak sakit hati?" balas Qabil tidak kalah manja rengekannya. "Ya Allah, nggak Bi. Aku udah kebal soal ginian. Lupa kamu kalau istrimu ini hampir jadi perawan tua, hem?"

Berdiri dari duduknya, menghadap Qabil sambil melingkarkan kedua tangan mungilnya di pinggang berotot nan keras milik suaminya itu. "Waktu aku kecil, diomongin orang karena lahir dari keluarga miskin. Pas aku masuk sekolah, diomongin juga karena orang miskin kayak aku mimpinya ketinggian. Eh pas aku udah sukses, ternyata masih diomongin juga, katanya aku sombong makanya nggak nikah-nikah. Dikiranya aku merasa udah nggak perlu laki-laki."

Menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, "belum lulus, ditanyain kapan lulus. Udah lulus, ditanyain kapan kerja. Belum nikah, ditanyain kapan nikah. Udah nikah, ditanyain kapan punya anak. Kalau mau ngikutin apa mau orang-orang, capek Bi. Mereka banyak mulut soalnya," jelas Qalbi, memasang wajah cemberut yang terlihat menggemaskan.

"Nutup mulut mereka, nggak bakal bisa. Nutup telinga kita, percuma. Dengar sesekali, kemudian lakuin apa yang kita mau. Kita yang jalanin, bukan mereka. Kita yang ngerasain susahnya, mudahnya, sedihnya, bahagianya, jadi lakukan sesuai kemauan kita. Ikutin apa yang menurut kita membangun, lewatin apa yang menurut kita menjatuhkan." Menatap Qalbi dengan rasa bangga yang teramat sangat. Qabil mengangkat tangannya, mengelus surai istrinya, memajukan wajahnya, mengecup kening Qalbi dengan hikmad.

"Aku pernah baca dari suatu blog yang ditulis oleh Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA. Di dalam blog itu dituliskan bahwa, Imam Syafi'i berpetuah, barang siapa yang mengira ia akan selamat dari omongan orang-orang, sungguh ia adalah orang yang tidak waras. Sebab Allah pun tidak selamat dari omongan orang-orang. Ada yang mengatai-Nya tiga. Begitu pula Nabi Muhammad yang tidak selamat dari omongan orang-orang. Ada yang mengatai Beliau, tukang sihir dan orang gila."

"Jadi, anggaplah omongan orang-orang itu sebagai bongkahan batu-batu besar. Kita bakal rugi kalau bongkahan-bongkahan itu kita letakkan di atas pundak kita. Karena lama kelamaan, pundak kita bakal ambruk. Sebaliknya, kalau kita mau beruntung, tumpuk saja bongkahan-bongkahan itu di bawah telapak kaki kita. Karena kita akan semakin tinggi jika berpijak di atasnya."

Menatap suaminya penuh haru, "suami siapa sih ini? Pintarnya," ucapnya, mengelus lembut kedua sisi pipi suaminya dengan kedua telapak tangannya.

***

Mengalami trauma dengan meminta istrinya makan siang bersama di perusahaannya, hari ini dan mungkin seterusnya, jika Qabil ada kesempatan dia akan pulang ke rumah atau menyusul istrinya ke rumah sakit untuk makan bersama.

Melewati lorong demi lorong rumah sakit yang ramai, tidak ada satu pun yang berani menegurnya. Berbeda kondisi jika Qalbi berjalan bersamanya, jangankan manusia, rumput pun bergoyang menyapa dan mengiringi langkahnya.

"Mau jemput istri, Bro?" Untuk pertama kalinya, ada orang yang menyapanya, dan orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Sadewa, sepupunya sendiri. "Emang dia udah boleh pulang?" tanya Qabil, terlihat begitu antusias.

Bintang SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang