Malam ini Qabil menghandiri pesta perayaan hari jadi pernikahan rekan bisnisnya. Namun, sangat disayangkan Qalbi tidak bisa ikut bersamanya karena harus melakukan operasi dadakan di rumah sakit tempatnya bekerja.
Di sana Qabil bertemu dengan ayah dan bundanya, "sendirian aja, Bil? Menantu Ayah ke mana?" tanya Ahmad bertujuan untuk menggoda anaknya, padahal dirinya sudah mengetahui soal pekerjaan dadakan menantunya.
Menyalami tangan ayah dan bundanya, "Sadewa tuh Yah, suka banget ngerebut istri aku tiba-tiba," jawab Qabil, pria dan wanita paruh baya itu terkekeh dibuatnya. Menepuk pundak putranya, "kasian banget anak Bunda. Yang sabar yah Sayang," ucap Ayana, masih terlihat cantik meski sudah bisa dikatakan berumur.
Asyik mengobrol dengan dua orang yang dicintainya, tiba-tiba Icha datang bersama suaminya—Bram. "Sudah ketemu sama yang punya acara, Mas?" tanya Bram kepada Ahmad. Ahmad menganggukkan kepala, "sudah Bram. Kamu sendiri?" jawab Ahmad kemudian kembali bertanya pada Bram.
"Sudah juga, Mas. Cuman saking banyaknya tamu yang datang, yang punya acara sampe pusing harus ngobrol sama siapa dulu. Jadi, saya tadi ngobrolnya sebentar saja, antri sama yang lain soalnya," ucap Bram sekaligus bercerita.
Ahmad hanya tersenyum menanggapi penjelasan Bram, mengingat apa yang dikatakan anak sahabat Papanya itu benar adanya.
"Loh, Bil. Sendirian aja? Istrimu mana?" tanya Icha, melihat ke arah Qabil yang memang sedang sendiri, tidak ada yang menggandeng tangannya mesra.
Qabil terlihat tidak berniat menjawab tanya dari Icha, membuat Ayana harus turun tangan dan berbicara untuknya. "Menantu saya sedang ada operasi dadakan, Jeng Icha." Menatap ke arah Qabil, bersiap mengeluarkan kejulitannya, "kan Tante udah bilang, beda profesi itu susah," ungkap Icha, Qabil tahu ke mana arahnya.
Menghela napas panjang, "beda profesi emang susah Tante, tapi beda keyakinan lebih susah," ujar Qabil terjeda. Kemudian dia kembali berucap, "dia yakin dan sayanya nggak, misalnya," sarkasnya, Ahmad dan Ayana yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Merasa diolok-olok oleh Qabil, Icha marah bukan main, "kamu tuh yah, kalo dibilangin nggak mau dengerin. Diapain kamu sama istrimu? Diguna-guna? Iya?" ujarnya semakin menjadi-jadi. "Mah," peringat Bram kepada istrinya.
"Aku bener loh, Pah. Masa cuman beberapa hari kenal langsung cinta se cinta-cintanya gitu?" ungkap Icha, tidak mau mendengar peringatan dari Bram. Tersenyum menanggapi kecurigaan Icha, "karena menantuku memang patut dicintai secepat dan sedalam itu Jeng Icha," ujar Ayana penuh dengan kelembutan.
Berdehem penuh wibawa, "sudah, nggak usah ngurusin urusan anak muda. Mending kita menikmati jamuan saja," lerai Ahmad, mengajak mereka semua untuk menyantap makanan dan minuman yang tersedia di atas meja.
"Ayah sama Bunda duluan aja, Qabil ke sana dulu, ketemu sama rekan bisnis yang lain," ucap Qabil sebelum berlalu pergi dari sana, tidak mau berurusan dengan Icha.
Di tengah perjalanannya menuju ke arah rekan-rekannya, Qabil menyempatkan diri mengambil segelas minuman bersoda yang dibawa ke sana ke mari oleh pelayan. Barulah kemudian Qabil melanjutkan langkahnya. Namun, belum saja mendekat, Natasya tiba-tiba bergabung di sana, membuatnya mengurungkan niat.
Dan di sini lah Qabil sekarang berada, duduk menikmati angin malam pun segelas soda yang tadi diambilnya, di atas balkon yang masih menyatu dengan ruangan tempat pesta berlangsung.
"Sendirian aja, Mas?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba datang entah dari mana. Menghela napas kasar, Qabil beranjak dari sana, berusaha menjauhkan diri dari wanita itu. Namun, baru saja selesai meletakkan gelas bekasnya di atas meja, dia merasakan sesuatu bergejolak dalam dirinya. Menengok ke arah wanita tadi, "kamu mau jebak saya?" tanyanya, geram sedikit lagi akan murka.
Wanita tersebut hendak menyentuh lengannya, Qabil lantas langsung menepisnya. Meski harus berjalan sempoyongan, dirinya tidak akan kalah dengan nafsunya. "Lo apain temen gue?" ujar Natasya, mendorong wanita tersebut menjauh dari Qabil.
Qabil tidak memperhatikan interaksi keduanya, yang dirinya tahu Natasya sempat bertengkar dengan wanita penggoda itu, sebelum akhirnya datang menolong Qabil untuk berjalan.
Suasana di dekat balkon memang sedikit sepi, karena mereka kebanyakan berkumpul di bagian selatan ruangan tersebut. "Lo nggak apa-apa, Bil?" tanya Natasya, meraih lengan Qabil, memastikan keadaannya. "Jangan sentuh, saya bisa jalan sendiri," ujar Qabil dengan geraman tertahan, berusaha melepas cekalan tangan Natasya.
Tidak mau menyerah, "setidaknya biarin gue bantuin lo jalan," paksa Natasya, meski Qabil terus berusaha menepisnya. "Lo mau ke mana sih?" tanya Natasya kemudian. "Pulang. Mau ketemu istri saya," jawab Qabil, kian tidak mampu menahan gejolak dalam dirinya.
"Ya udah, sini gue anterin," tawar Natasya, Qabil menggeleng keras menjawabnya. "Saya bisa sendiri," ujarnya. Namun, yang namanya Natasya Natasya itu benar-benar bebal. Dia terus menempeli Qabil bahkan sampe keluar dari hotel tempat acara dilaksanakan.
"Naik mobil gue aja. Gue setirin buat nemuin istri lo," ujarnya, bahkan menarik paksa Qabil menuju mobilnya. "Woi!" teriak Luthfi yang ternyata sudah dihubungi Qabil sebelumnya. "Lo mau bawa Bos gue ke mana?" tanyanya, setelah tiba di depan Qabil dan Natasya.
"Dia susah jalan, gue mau bantu buat anter dia pulang," jawab Natasya. "Prettt," kata Luthfi. Mengambil alih Qabil dari sokongan Natasya, "yang ada Bos gue lo gondol bawa ke kamar lo," tuduh Luthfi tanpa basa-basi.
"Nggak usah, nggak usah. Biar gue aja. Pulang lo sono," usir Luthfi pada Natasya, perempuan itu sampe mencak-mencak dibuatnya.
Melirik ke arah Qabil, "mau dibawa ke mana, Bos?" tanyanya. "Ke rumah sakit, istri gue ada di sana," jawab Qabil sudah setengah sadar. Tidak banyak protes, Luthfi langsung saja memasukkan Qabil ke dalam mobilnya dan mengantarkan pria itu kembali kepada wanitanya.
Berusaha menyadarkan dirinya, "lo harus selidiki," pinta Qabil kepada Luthfi. "Tenang aja, nanti gue selidiki. Sekarang yang harus lo pikirin diri lo. Tapi, jangan kasar-kasar yah sama Bu Bos, kasian soalnya," ujar Luthfi yang dihadiahi tatapan tajam oleh Qabil.
Sesampainya mereka di depan ruangan Qabil, tanpa mengetuk pintu, Luthfi langsung saja memasukkan Bosnya itu ke dalam sana. Untungnya, ada Qabil yang sedang bersiap untuk pulang pun menatap keduanya dengan tatapan penuh tanya.
Menyengir, "maaf Bu Bos, nggak sopan. Lagi gawat soalnya," jelas Luthfi kepada Qalbi. Menatap ke arah suaminya, "Mas Abi kenapa?" tanyanya, segera menghampiri suaminya. Membiarkan Qabil diambil alih oleh istrinya, "dicekokin obat perangsang Bu Bos," jawab Luthfi, membuat Qalbi beristigfar berulang kali.
Tidak mau mengganggu kegiatan keduanya, Luthfi segera pergi dari sana. "Jangan lupa pintunya dikunci Pak Boss!" teriaknya sebelum menutup pintu di depannya. Meringis, "nggak usah dengerin Luthfi, Bii. Aku minta tolong disuntikin obat penawarnya aja," pinta Qabil, mengepalkan tangannya, terus berusaha menahan nafsunya.
Menatap suaminya iba, menunjuk dirinya sendiri, "obat penawarnya kan ada di sini, Mas." Menggelengkan kepala, "aku nggak mau nyentuh kamu atas dasar pengaruh obat ini sayang," tolak Qabil, saking bergejolaknya, dia sampai mengeluarkan air mata.
Tersenyum lembut ke arah suaminya, "nggak apa-apa, Mas. Apa pun penyakitmu, aku selalu bersedia untuk menjadi obat bagimu," ungkap Qalbi. Beranjak untuk mengunci pintu sesuai saran Luthfi, "aku kunci pintu dulu yah," ujarnya. "Bii," lirih Qabil masih tidak terima dengan keputusan istrinya.
Setelah selesai menguncipintu, Qalbi kembali ke sisi suaminya, membantu Qabil bangkit, membawanyamenuju kamar yang ada di dalam ruangannya. "Sayang, aku nggak mau. Aku maunyentuh kamu dalam keadaan sadar. Pakai obat aja, yah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bintang Senja
Spiritual[ ON GOING ] لا تحز ان الله ماعنا. Laa Tahzan Innallaha Ma'naa "Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (Q.S. At-taubah /9:40) *** Bukan kisah layaknya Adam dan Hawa, bukan juga cerita seperti Yusuf dan Zulaikha, apa lagi mengenai...
