Berjalan beriringan memasuki kantor Qabil, hari ini entah kenapa suaminya itu mengizinkan Qalbi berkunjung ke kantornya dengan catatan dijemput olehnya di pintu masuk gedung tinggi tersebut.
Sebenarnya ini bukan kemauan Qalbi, mengingat hari ini dia sedang free dan rencananya ingin bersantai di rumah saja sambil menunggu Qabil pulang. Tidak bertanya lebih banyak kepada suaminya, Qalbi hanya mengikuti apa yang suaminya pinta.
Sepanjang perjalan mereka menuju ruangan Qabil, karyawan yang berlalu lalang menyapa keduanya dengan ramah, atau lebih tepatnya menyapa Qalbi. Mengingat peringai bosnya itu, mana mungkin mereka berani berbasa-basi.
Meski beberapa bulan terakhir, setelah Qabil resmi menikah, sikap laki-laki itu berubah seratus delapan puluh derajat lebih ramah dari sebelumnya. Namun, karyawannya masih trauma atas sikapnya selama ini.
Mendudukkan istrinya pada sofa yang ada di ruangannya, "kamu duduk di sini, nanti Luthfi datang bawain kamu cemilan," ucapnya, mencuri kecupan pada kening istrinya, kemudian kembali menduduki kursi kebesarannya, berkutat dengan sekumpulan berkas pun laptop di depannya.
Menatap Qabil penuh kebingungan, "kamu ngapain minta aku datang ke kantor kamu?" tanya Qalbi to the point. Menatap ke arah istrinya, "kamu nggak masuk kerja kan hari ini?" tidak menjawab tanya istrinya, Qabil justru balik bertanya.
Menganggukkan kepala, "iya. Nggak ada jadwal kontrol dan nggak ada jadwal operasi," jawab Qalbi sekenanya. "Ya udah, temenin aku kerja," ujar Qabil seenak jidat, kembali ke rutinitasnya bersama segudang pekerjaannya.
Belum selesai dengan keterkejutannya, Qalbi kembali mendengar suaminya buka suara, tetapi kali ini pria itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya. "Oh, iya. Manggil akunya jangan kamu dong, Bii. Nggak enak di dengernya," ungkapnya.
Tidak membiarkan istrinya menjawab pintanya, "coba panggilnya Mas gitu, seperti kamu manggil aku di depan keluarga kita," jelas Qabil yang memang tidak nyaman mendengar sang istri memanggilnya kamu dan kadang-kadang Bii juga.
Menghela napas pelan, "iya Mas Abi," ucapnya penuh kelembutan. Tersenyum lebar, "kalau aja aku nggak kerja Bii, udah masuk kamu dalam kungkunganku," ungkap Qabil cukup frontal, membuat Qalbi menatapnya penuh peringatan, tidak elak terlihat rona merah di pipinya.
Melihat ekspresi istrinya yang seperti itu, Qabil berencana kembali menggodanya, tetapi ketukan di pintu berhasil menghentikannya.
"Pagi Bu," sapanya kepada Qalbi, meletakkan barang bawaannya di atas meja yang ada di depan Qalbi. Tersenyum membalas sapaan Luthfi, "pagi, Luth. Cemilannya apa nggak kebanyakan, Luth?" ucapnya, menatap satu per satu makanan yang di letakkan oleh sekretaris sekaligus asisten suaminya itu.
Terkekeh pelan, "nggak tau tuh, Bu. Pak Boss yang nyuruh saya. Katanya mau ngurung Ibu di sini seharian penuh," ungkap Luthfi yang dihadiahi tatapan tajam oleh Qabil. "Keluar nggak lo!" geram Qabil, tetapi hanya dengan gerakan mulut, tidak mau jika istrinya mendengar, takut diomeli.
"Kalo gitu saya ke luar dulu, Bu. Silahkan dinikmati," ujarnya, jangan sampai gajinya dipotong oleh Qabil. "Terima kasih yah Luth," ucap Qalbi kembali melayangkan senyum ke arah Luthfi. Qabil panas dingin dibuatnya.
"Aman aja, Bu. Kalo Ibu butuh apa-apa, saya ada di luar." Sengaja ingin memanas-manasi bosnya, dia kembali berucap kemudian ngacir ke luar. "Jangan senyum begitu," rengek Qabil yang entah kapan sudah duduk di dekat Qalbi.
Menoleh ke arah suaminya, "astagfirullah," mengelus dadanya pelan. "Kamu bikin kaget aja deh," ungkapnya kemudian yang langsung dihadiahi kecupan singkat pada bibirnya.
Refleks menutup bibirnya dengan tangan kanannya, "kenapwa dwicium? Inwi kwantor kwamu loh Bwii," protes Qalbi yang terdengar tidak jelas.
"Hukuman karena kamu nggak manggil aku Mas," ungkap Qabil dengan santainya. Mengelus puncak kepala istrinya yang tertutup hijab, "yang anteng duduk di sini, hari ini temenin suamimu ini kerja yah Bii," pintanya sebelum kembali ke tempat duduknya semula.
Menghela napas panjang, Qalbi hanya bisa pasrah dengan kemauan suaminya, "untung sayang," gumamnya dan tidak dapat didengar oleh Qabil.
Melihat suaminya sudah kembali fokus pada kerjaannya, Qalbi pun mengambil telepon genggamnya berencana untuk memainkannya menghalau rasa bosan. Namun, baru saja dirinya membuka telepon pintar itu, sebuah pesan masuk mengalihkan atensinya.
Tanpa melihat ke arah suaminya, "Mas Abi?" panggilnya. Berdehem, "iya, Sayang?" jawab Qabil pun tidak menatap ke arah istrinya. Membaca pesan di ponselnya dengan seksama, "Chava berangkat ke luar negeri hari ini?" tanyanya.
Melihat ke arah istrinya, berusaha menelaah ekspresi pada wajah cantik itu, "iya, Sadewa bilangnya gitu. Kenapa? Dia bilang apa ke kamu? Macam-macam, nggak?" ucap Qabil disertai dengan runtutan pertanyaannya.
Menatap ke arah suaminya, "ini dia ngirimin aku pesan. Dia minta maaf dan pamit. Katanya dia nggak berani kalo minta maaf langsung. Jadi dia minta nomorku sama Kak Sadewa terus ngirimin aku pesan baru aja," jelas Qalbi sambil menggoyang-goyangkan ponselnya.
Qabil menyerngit, "Kak Sadewa? Udah dua kali loh aku denger kamu manggil Sadewa gitu," ungkapnya, terselip nada tidak suka di sana. Qalbi meringis, terus mengucapkan istigfar di dalam hati. Masalahnya bukan hal tersebut yang sedang mereka bahas, kenapa fokus suaminya malah ke situ?
"Masa panggil Pak, Mas. Kan lagi bukan di rumah sakit dan lagi nggak ngomongin kerjaan. Semua orang yang lebih tua dari aku juga aku penggil Kak kok, nggak cuman Kak Sadewa. Emang Mas mau aku panggil dengan panggilan yang sama kayak Mas?" ucap Qalbi berusaha begitu keras untuk menjelaskan kepada suaminya.
Berdecih, "Mas juga gitu? Big No!" tolak Qabil, tidak terbantahkan. Terkekeh pelan, "gemes banget suamiku," goda Qalbi, membuat Qabil salah tingkah seketika. "Kalo aja bukan di kantor, udah aku terkam kamu, Bii." Meringis, "ih ... seremnya," ungkap Qalbi bergidik ngeri.
***
Natasya mengamuk di kamarnya. Semua barang yang ada di dalam jangkauannya, dia lemparkan membentur ke dinding atau pun ke lantai. Kepergian Chava kembali ke luar Negeri memberikan sensasi kekalahan buatnya.
"Qabil itu punya gue!" teriaknya, urat-urat lehernya sampai bermunculan. "Udah cukup gue ngalah sama Chava dulu, masa gue harus ngalah lagi sama perempuan sok suci itu," ungkapnya, wajahnya memerah, dirinya terus melampiaskan amarahnya.
"Chava bodoh!" Natasya kembali berteriak, entah sudah berapa banyak makian dirinya lontarkan untuk Chava mau pun Qalbi. "Ngapain lo mesti balik? Gue belum puas manfaatin lo buat rusak hubungan Qabil sama jalang itu," ucapnya masih dengan meraung-raung.
Pintu kamarnya terbuka, terlihat Icha di sana selaku Tantenya. "Nggak ada gunanya kamu ngamuk-ngamuk begini, Tasya." Berjalan mendekat ke arah Natasya, "kamu teriak-teriak di sini, Qabil bermesraan dengan perempuan itu di sana," jelas Icha memperkeruh suasana hati Natasya, menambahkan kayu, semakin membakar kemarahan keponakannya itu.
Membawa keponakannya itu untuk duduk di atas ranjang, "kamu harus mikirin cara buat ambil kembali apa yang kamu punya. Dia itu orang baru, sedangkan kamu sudah lama bersama Qabil. Rela kamu Qabil diambil sama dia?" lanjutnya, tidak berhenti mengompor-ngompori perasaaan Natasya.
Mengelus bahu Natasya, "tenang aja, tante pasti bakal bantuin kamu," ucapnya, seakan menyemangati keponakannya melakukan kesalahan. Hal tersebut tentunya semakin menumbuhkan keinginan Natasya untuk merebut Qabil dari sisi Qalbi.
Mengepalkan tangannya, kilatan kesungguhan terpatri di matanya, "aku pasti bakal jadiin Qabil milikku seutuhnya dan secepatnya," ujar Natasya kepada dirinya sendiri. Icha yang berada di sampingnya, mengelus surai keponakannya seakan bangga.
Dua kata untuk mereka,sakit jiwa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bintang Senja
Spiritual[ ON GOING ] لا تحز ان الله ماعنا. Laa Tahzan Innallaha Ma'naa "Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (Q.S. At-taubah /9:40) *** Bukan kisah layaknya Adam dan Hawa, bukan juga cerita seperti Yusuf dan Zulaikha, apa lagi mengenai...
