Seperti kejadian pada saat bulan madu mereka, sekarang Qalbi sedang merajuk karena Qabil dengan seribu satu modusnya berhasil membujuk Qalbi untuk mandi bersama. Memang hari ini pria itu penuh cinta. Bagaimana tidak? Jarang-jarang seorang Qalbi dapat mengungkapkan cintanya secara terang-terangan, meski dipicu oleh rasa cemburu terhadap kelakuan Chava.
Mendekati Qalbi yang sedang duduk di sofa kamar mereka sambil menonton televisi, "kamu masih ngambek, Bii?" tanyanya hati-hati, kemudian mendudukkan diri tepat di sebelah istrinya itu.
Bersandar pada bahu lembut Qalbi, "salat Maghrib udah, salat Isya juga udah, eh kamunya masih ngambek aja," keluh Qabil, mendusel-duselkan rambutnya di leher jenjang Qalbi.
Tidak mendapat respon apa pun, Qabil memberanikan diri untuk membaringkan tubuhnya dengan kepalanya yang berbantalkan pangkuan Qalbi. Mematikan televisi di depan mereka, "maaf yah, Bii. Aku matiin tvnya dulu bentar. Kita perlu ngobrol," ujar Qabil terdengar penuh kelembutan.
Mengangkat tangannya, menyentuh wajah istrinya, membawanya untuk mendunduk dan menatapnya. "Iya? Maaf Bii, aku tadi fokus banget ke filmnya. Kamu ngomong apa?" ungkap Qalbi membuat Qabil mengusap wajahnya frustasi.
"Jadi, dari tadi kamu nggak respon aku karena fokus nonton, sampe nggak denger aku ngomong? Bukan karena kamu ngambek banget?" tanya Qabil penuh gebu.
Menatap Qabil dengan tatapan polosnya, "ngambek dikit, tapi ya udah," jawab Qalbi apa adanya.
Memeluk pinggang Qalbi, menenggelamkan wajahnya pada perut rata Qalbi, Qabil berteriak. Melepaskan pelukannya, "aku udah nyusun beberapa kalimat biar kamu berenti ngambekin aku, kamunya ternyata ... akh," gemas Qabil pada istrinya. Tidak urung, karena kegemasannya, dia sampai mendusel-duselkan kepalanya sedikit brutal pada tubuh bagian depan Qalbi.
Tertawa pelan, "aku mau dong dengerin bujukan kamu," goda Qalbi, memegang lembut kedua pipi Qabil, menghentikan gerakan kepalanya yang sudah ke sana ke mari.
Cemberut, tidak mau membuka mulut dan menuruti permintaan istrinya. "Ini kamu yang balik ngambekin aku, Bii?" tanya Qalbi, menekan kedua sisi bibir suaminya, hingga benda kenyal tersebut terlihat memoncong.
Mengambil kedua tangan istrinya untuk diciuminya secara bergantian, "dapat hadiah, nggak?" ucapnya, membuat Qalbi tersenyum pun mengangguk. Meletakkan kedua tangan istrinya di atas dadanya pun digenggamnya erat, "kali ini kamu harus dengerin aku, fokusnya ke aku, iya Bii?" pintanya kepada Qalbi sebelum memulai aksi bujuk membujuknya.
Menatap ke arah Qabil, "iya. Kan tvnya udah kamu matiin," jawab Qalbi yang selalu menampilkan senyum manis ketika memandang suaminya.
Berdehem, "selain mau bujukin kamu, aku juga mau supaya lain kali ketika aku mau mandi bareng sama kamu, kamu izinin aku, dan nggak ngambek-ngambek lagi sama aku," terus terang Qabil. Menghormati suaminya, meski tidak menyetujui ucapan tersebut, Qalbi diam hendak mendengar lanjutan penjelasannya.
"Kamu tau nggak, kalau mandi bersama adalah salah satu keromantisan yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada istrinya?" lanjut Qabil, Qalbi yang mendengarkan mengangkat satu alisnya, "dalilnya?"
Tersenyum penuh percaya diri, "diriwayatkan oleh Sayyidinah Aisyah radhiallahu'anhu, beliau berkata, dahulu aku mandi junub bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari satu bejana di mana tangan kami bergantian (mengambil air) di dalamnya. HR. Bukhari nomor 253 dan Muslim nomor 484. Kemudian, HR. Ibnu Hibban nomor 1118 mencantumkan riwayat tambahan yang berbunyi, sedangkan tangan kami saling bertemu (bersentuhan)," jelas Qabil, tidak melepaskan tatapannya pada manik mata istrinya.
Memainkan kedua alisnya, menggoda Qalbi, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan suri tauladan bagi kita ummatnya, jadi ... yang aku lakukan adalah mencontoh keromantisan Rasul kita kepada istrinya," lanjutnya, menjelaskan maksud dari penjelasan panjang lebarnya.
Berdehem pelan, "bukan hanya itu loh, Bii. Mau denger lagi?" pancingnya, dirinya sangat mengetahui bahwa Qalbi sangat suka mendegar penjelasannya mengenai pengetahuan yang baru atau pun yang sudah dirinya ketahui.
Qalbi menganggukkan kepala menyetujui, sedangkan Qabil bersorak kegirangan di dalam hati.
"Soal keromantisan Rasul kita kepada istrinya, sebenarnya ada banyak yah, Bii. Tapi, kali ini aku mau sebutin lima aja termasuk yang tadi." Menghela napas sebentar, "aku tau kamu jelas lebih tau. Jadi, anggap aja aku lagi stor hapalan sama kamu," ungkapnya, Qalbi menggeleng tidak menyetujui.
Qalbi baru saja hendak berucap, Qabil menutup mulut istrinya penuh kelembutan. "Aku aja yang bicara, kamu cukup dengerin aku, Bii."
Mengambil napas, sepertinya Qabil hendak memulai penjelasan panjangnya soal ini.
"Keromantisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada istrinya yang kedua adalah menempelkan mulut pada bekas makan dan minum istri. Hal ini diriwayatkan oleh Sayyidinah Aisyah radhiallahu'anhu, beliau berkata bahwa terkadang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam disuguhkan sebuah wadah (air) kepadanya, kemudian aku minum dari wadah itu sedangkan aku dalam keadaan haid. Lantas Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil wadah tersebut dan meletakkan mulutnya di bekas tempat minumku. Terkadang aku mengambil tulang (yang ada sedikit dagingnya) kemudian memakan bagian darinya, lantas Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengambilnya dan meletakkan mulutnya di bekas mulutku, HR. Ahmad nomor 24373."
"Kalo kata anak jaman sekarang yah, Bii. Indirect Kiss," canda Qabil untuk menyelingi penjelasannya yang sedikit serius itu.
"Keromantisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada istrinya yang ketiga adalah tiduran di pangkuan istri seperti apa yang aku lakukan sama kamu sekarang. Sayyidinah Aisyah radhiallahu'anhu meriwayatkan bahwa dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan kepalanya di pangkuanku kemudian membaca (Al-Qur'an) sedangkan aku dalam keadaan haid. HR. Abu Daud nomor 227, Bukhari nomor 288, Muslim nomor 454, Ahmad nomor 24442, dan Ibnu Majah nomor 626."
"Keromantisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada istrinya yang keempat adalah memanggil istri dengan panggilan khusus. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mempunyai panggilan khusus untuk Sayyidinah Aisyah radhiallahu'anhu sebagaimana yang disebutkan dalam banyak riwayat hadis, salah satunya dalam HR. Ibnu Majah nomor 2465, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil istrinya Sayyidinah Aisyah radhiallahu'anhu dengan panggilan 'humairah' yang artinya adalah putih kemerah-merahan."
Diam sebentar, "kalau panggilan aku ke kamu, Bii cukup kan?" tanyanya, mendongak menatap Qalbi yang masih setia membiarkan suaminya berbaring di pangkuannya.
Tersenyum lembut, "iya Bii sayang," ucapnya, menimbulkan semburat merah di wajah suaminya.
Berdehem menetralkan perasaan pun ekspresi wajahnya, "keromantisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang kelima kepada istrinya adalah ... kalau kata anak jaman sekarang ladies first, Bii. Anas bin Malik radhiallahu'anhu meriwayatkan dalam sebuah hadist perjalanan pulang dari penaklukan khaibar yang artinya, kami keluar menuju Madinah, Anas berkata, aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyiapkan tempat duduk Shafiyah di belakangnya dengan kain, kemudian ia duduk di dekat untanya dan memosisikan lututnya, lantas Shafiyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau hingga naik (ke unta). HR. Bukhari nomor 2679," ucapnya, melanjutkan penjelasannya.
"Jadi, Bii. Kalau aku bukain pintu, entah itu kamar, rumah, atau pun mobil, kamu nggak usah nggak enakan, orang aku lagi panen pahala dari meneladani kisah romantis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada istrinya."
Memandang lama ke arah suaminya, "mendengar penjelasan kamu, entah kenapa, aku makin jatuh cinta. Apa lagi kalau kamu hapalin QS An-nisa buat aku," ungkap Qalbi, meski terdengar enak di awal dan sulit di akhir, Qabil tetap berbinar menatap pujaan hatinya itu.
Bangkit dari posisi tidurnya, berbalik dan menjawil pelan ujung hidung istrinya, "apa sih yang nggak buat kamu, Bii? Hadiah, aman kan?" Menghela napas panjang, "kamu mau minta apa?" pasrah Qalbi.
Mendekat ke arahistrinya, berbisik di telinganya, "ini malam Jum'at, Sayang. Tau kan?"ungkapnya membuat Qalbi tersipu malu tiba-tiba.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bintang Senja
Espiritual[ ON GOING ] لا تحز ان الله ماعنا. Laa Tahzan Innallaha Ma'naa "Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (Q.S. At-taubah /9:40) *** Bukan kisah layaknya Adam dan Hawa, bukan juga cerita seperti Yusuf dan Zulaikha, apa lagi mengenai...
