Memenuhi undangan makan malam bersama dari Chava, keduanya memakai setelan santai tetapi sopan memasuki sebuah restoran. "Pengantin baru kok nggak gandengan?" goda Sagara yang terlihat sedang menyesap sebatang rokok di sana.
"Matiin rokok lo," perintah Qabil tanpa membalas candaan Sagara. Tertawa pelan, "udah gue bilang jangan ngerokok, masih aja ngerokok. Teguran gue emang ketus, tapi masih ketusan Qabil kan?" ujar Sadewa yang membuat Sagara memutar bola mata malas.
Tidak urung, dia segera mematikan rokoknya, kemudian membuang puntungnya ke dalam asbak. "Jangan duduk dulu," larang Qabil pada istrinya. Mengangkat satu tangannya, "Mas!" panggilnya pada pelayanan yang berada tidak jauh dari mereka.
Mendatangi Qabil, "ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu sopan. "Tolong bersihin meja ini, Mas. Jendelanya dibuka, asbaknya singkirin aja," pintanya dan segera dilakukan oleh pelayan tersebut.
Setelah yakin bahwa meja di depannya bersih dari polusi yang ditimbulkan oleh Sagara, barulah Qabil mempersilahkan Qalbi untuk duduk.
"Wow!" Sagara bertepuk tangan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Pantes nggak gandengan, bukan tipe physical touch ternyata, tetapi act of service." Qabil hendak menjawab, tetapi dari arah belakangnya, Chava tiba-tiba muncul dan menyapa. "Eh, Kak Qabil udah datang."
Mendudukkan diri di antara Qabil dan Sadewa, "maaf yah nggak nyambut, gue tadi ke toilet dulu soalnya," ujarnya penuh akan basa-basi. "Nggak apa-apa, keberadaaan istri gue udah cukup," ungkap Qabil yang merasa bahwa Chava tidak menyadari kehadiran Qalbi di sana.
Tidak urung, Sagara berusaha keras menahan tawa. Sadewa yang berada di sebelahnya, memberi kode agar dirinya tidak serta merta menambah timbulnya rasa malu Chava.
"Ayra gimana? Mau datang?" tanya Sadewa mengalihkan pembicaraan. Merasa bahwa suaminya tidak akan menjawab pertanyaan tersebut, "mau kok, Kak. Cuman mungkin agak lambat," Qalbi angkat bicara dan berusaha menjawabnya.
"Wajar sih. Mood Bumil kan naik turun. Jadi, mungkin butuh waktu," ungkap Sadewa. "Lo kenapa sih? Tiba-tiba nanya, terus malah jawab sendiri. Kalau gitu, ngapain nanya?" ujar Sagara terdengar sedikit kesal, tetapi langsung menutup mulut kala Sadewa meliriknya dengan tajam.
Sagara seketika terdiam karena merasa diancam oleh Sadewa, sedangkan Qabil asyik memainkan telepon genggamnya sambil menggenggam tangan Qalbi. Sehingga, di meja itu hanya Sadewa dan Qalbi yang mengobrol, sesekali ditimpali oleh Chava, itu pun memperbincangkan mengenai dunia kesehatan.
Tidak berselang lama, datanglah Ayra bersama dengan Arbhy diikuti oleh Natasya. "Kalian bertiga datangnya janjian?" tanya Sagara, melepaskan belenggu mulutnya. "Ih, nggak. Kita tadi ketemu dia di depan," jawab Ayra terlihat begitu muak dengan kehadiran Natasya.
Tersenyum lembut, "karena semuanya udah datang, aku panggil pelayan yah buat sajiin makanannnya?" ujar Chava kemudian merealisasikan ucapannya untuk memanggil pelayanan dan memintanya menyajikan makanan mereka.
"Tapi, tadi gue cuman pesananin Kak Qabil, Kak Sadewa, Kak Natasya, Sagara sama Ayra. Soalnya gue cuman tau makanan kesukaan mereka, kalau dokter Qalbi sama Kak Arbhy, gue nggak tau. Maaf, yah. Kalian bisa mesen sendiri kan?" ungkap Chava.
Menarik ujung bibirnya, Qalbi tersenyum lembut. "Nggak perlu, aku bisa makan bareng Qabil." Melihat ke arah istrinya, "bener, Bi? Kamu nggak mau makan apa gitu?" tanya Qabil penuh perhatian, membuat Natasya kepanasan di depan sana.
Menganggukkan kepala, "iya. Pesenan atas nama kamu aja itu udah banyak loh," jawab Qalbi semakin mengembangkan senyumnya ketika melihat ke arah suaminya.
"Kamu mau makan yang udah dipesenin nggak, Ay?" Berbeda dengan respon Qalbi, Arbhy justru bertanya kepada Ayra terlebih dahulu, takut jika yang sudah dipesankan oleh Chava tidak sesuai selera ibu hamil itu saat ini.
Menggelengkan kepala, "nggak. Kamu aja yang makan boleh?" jawab Ayra, kemudian memohon kepada suaminya untuk mengganti menu yang hendak dimakannya. "Terus, kamu mau makan apa?" tanya Arbhy kemudian. Tersenyum girang, Ayra mengambil buku menu dan menunjukkannya kepada Arbhy apa yang saat ini dirinya inginkan sebagai menu makan malamnya.
"Lain kali jangan mesen duluan, biar kami aja yang mesen sendiri. Karena makanan favorit belum tentu makanan yang diinginkan saat ini," jelas Sadewa berusaha menasehati Chava. Chava menunduk, senyum lebarnya perlahan memudar, "maafin Chava yah, Chava nggak tau," ungkapnya sendu.
Memutar bola mata malas, "nggak apa-apa kali, Va. Mereka aja tuh yang lebay. Makan mah tinggal makan. Toh itu juga makanan kesukaan mereka kan?" Natasya angkat bicara. "Kita udah lama loh nggak kumpul gini, masa cuman gegara masalah sepele suasananya jadi canggung," singgung Natasya kemudian.
Melupakan masalah pesanan makanan, mereka kini makan malam sambil bernostalgia. Sagara, Sadewa, Natasya dan Chava yang dominan berbicara, sedangkan Ayra sibuk dengan makanannya dan Arbhy yang membantunya. Kalau Qabil jangan ditanya, menghadiri undangan Chava saja atas permintaan Qalbi semata.
Saat ini Qabil sedang mengupas udang. "Gue ingat banget dulu, meskipun Qabil suka banget makan udang, tapi dia bakal kupasin dan kasihin ke Chava dulu. Setelah Chava kenyang baru dia makan sisanya," ungkap Natasya yang sepertinya mencoba untuk memanas-manasi Qalbi.
Tersenyum malu-malu, "Kak Tasya ingat banget lagi," ujar Chava sambil melirik-lirik ke arah Qabil. Memberikan sepiring udang yang telah dikupasnya untuk Qalbi, "dimakan, Bi. Kalau mau lagi bilang, nanti aku kupasin buat kamu," katanya pada Qalbi.
Berdehem pelan, "dan Kak Qabil nggak pernah berubah yah. Selalu ngedahuluin orang yang dia sayang," ucap Chava menunduk lesu. "Sayangnya, saat ini, orang itu bukan lo," terus terang Natasya, begitu sengaja menyakiti hati Chava.
"Kayaknya emang nggak bakal lo," tambah Sagara, kemudian dia melihat ke arah Natasya, "apa lagi lo," lanjutnya dengan mimik julidnya.
Menghiraukan kesarkasan Sagara, Natasya beralih menatap Qalbi. "Kalo lo mau nyenengin perut Qabil, belajar deh dari Chava. Setau gue, dia selalu doyan makan kalo Chava yang masak," ungkap Natasya, belum menyerah untuk merusak suasana pada malam hari itu.
Meletakkan sendoknya pada piring di depannya, "ngapain?" kesal Ayra yang sedari tadi mendengar Natasya berusaha membuat kakak iparnya salah paham pada abangnya.
"Mau di dapur atau pun di kasur, Bang Qabil doyan banget tuh sama pelayanan Kak Qalbi," ujar Ayra. Tidak urung, semua orang yang ada di meja itu menghentikan aktivitas makannya, pun Qabil yang kini terbatuk-batuk dibuatnya.
Menghela napas panjang, "ya Allah, Ay. Omongannya dijaga, Sayang. Kamu lagi hamil loh, jangan vulgar-vulgar amat," peringat Arbhy sambil mengelus perut buncit Ayra penuh kasih sayang. Menyengir, "nggak lagi, Mas."
Berdehem pelan, "Alhamdulillah, apapun yang aku sajikan di meja makan, Mas Qabil lahap menyantapnya," jawab Qalbi, berusaha memberikan pengertian pada Natasya.
"Sebelumnya, terima kasih atas sarannya. Namun, kalau pun aku mau belajar masak buat Mas Qabil, ada baiknya sama Bunda. Toh melebihi siapa pun, nggak ada yang menandingi pengetahuan Bunda soal anaknya," lanjut Qalbi tegas nan lugas.
Tersenyum penuh keterpaksaan, "itu benar Kak Natasya. Gue juga dulunya belajar masak dari Bunda, makanya Kak Qabil doyan." Menghela napas kasar, "bisa berhenti bahas soal masa lalu, nggak?" pada akhirnya, Qabil membuka mulut untuk bicara.
Meminum segelas air, "nostalgia boleh, manas-manasin istri orang, no no yah," ucap Sagara dengan gelagat lucunya. Memukul kepala adiknya pelan, "anak kecil nggak usah ikutan urusan orang dewasa," peringat Sadewa membuat Sagara mencebikkan bibir kesal.
"Gue ngehargain Chava sebagai sahabat, sedangkan Natasya sebagai anak rekan bisnis gue. Bukan berarti gue bisa biarin kalian nggak ngehargain keberadaan istri gue." Kemarahan Qabil terlihat jelas pada mimik wajahnya.
"Lo berdua harus tau, kalau bukan Qalbi yang bujuk gue datang ke sini, gue nggak bakal mau," ungkap Qabil. Merasa bahwa suaminya sudah terbawa emosi, Qalbi berusaha menenangkannya dengan mengelus-ngelus punggung tangan Qabil yang sedang menggenggam tangannya.
"Gue jauhin kalian karena sikap kalian yang udah nggak mencerminkan seorang sahabat. Ingat, bahkan sebelum gue punya Qalbi, menyentuh seujung kuku pun tubuh kalian itu gue nggak. Eh, malah ngegatal duduk di pangkuan gue," sarkas Qabil memutar bola mata muak.
"Bukan gue yang berubah, tapi kalian."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bintang Senja
आध्यात्मिक[ ON GOING ] لا تحز ان الله ماعنا. Laa Tahzan Innallaha Ma'naa "Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (Q.S. At-taubah /9:40) *** Bukan kisah layaknya Adam dan Hawa, bukan juga cerita seperti Yusuf dan Zulaikha, apa lagi mengenai...
