BS || 32

2 0 0
                                        

Selepas menunaikan ibadah salat subuh, Qabil memutuskan untuk berbaring kembali di atas ranjang, dia pun membujuk Qalbi agar mau mengikuti keinginannya. Qalbi yang juga merasa cukup lelah, akhirnya pasrah saja terhadap kemauan suaminya.

Berbaring di atas lengan Qabil, masuk ke dalam pelukan hangatnya, "semalam ada yang nolak jadiin aku obatnya, eh tau-taunya bablas sampe nggak bisa bangun buat salat malam," singgung Qalbi kepada Qabil dengan niat bercanda.

Menjawil ujung hidung istrinya, "kamu yang maksa. Aku sebagai kumbang, kalau disuguhi madu semanis kamu, mana bisa nolak," ungkap Qabil. "Yaaa ... walau pun awalnya aku nolak," lanjutnya terdengar malu-malu.

Mengambil tangan Qabil untuk dikecupnya, "aku selalu siap buat Mas Abi jadiin obat," ujar Qalbi memberikan rasa tenang di hati dan pikiran suaminya. Memberi jarak untuknya dan istrinya, Qabil hendak memandang wajah indah nan cantik itu. "Maaf yah Sayang kalo aku ada kasar semalam," ujarnya, dengan satu tangannya yang bebas, mengelus surai istrinya.

"Kamu nggak marah, kan? Aku dijebak loh, Bii." Tersenyum menanggapi rengekan suaminya, "marah. Tapi marahnya bukan ke Mas Abi," ucap Qalbi, ikut memandang wajah rupawan Qabil dari dekat. "Aku marah sama orang yang udah jebak Mas Abi. Tega banget," sendu Qalbi, mengelus wajah suaminya, merasa prihatin.

Memegang tangan Qalbi yang masih berada di pipinya, "aku udah minta tolong sama Luthfi buat cari tau, Bii. Semoga segera ketahuan pelakunya," jelas Qabil yang diaminkan oleh Qalbi. "Tapi, Bii ... emang nggak apa-apa kalo aku nyentuh kamu karena efek dari obat perangsang? Nggak dosa kan?" tanya Qabil sampai mengerutkan alisnya.

Semakin melebarkan senyumannya, "sejujurnya, nggak ada dalil spesifik yang membahas langsung soal ini, Mas. Namun, ulama membahas hukumnya berdasar atas prinsip-prinsip syariat Islam. Hal ini berkaitan dengan niat, manfaat, dan dampak dari penggunaan obat tersebut," ungkap Qalbi memulai penjelasannya. Sedangkan Qabil yang berada di sampingnya, mendengarkan dengan hikmad.

Mengambil napas panjang, "selama obat ini aman dan halal, tidak mengandung bahan-bahan yang haram, alkohol misalnya. Kemudian, obat ini tidak menimbulkan mudarat dalam artian tidak membahayakan penggunanya. Pun atas dasar kebutuhan dengan tujuan menjaga keharmonisan dalam rumah tangga, maka ulama berpendapat hal ini sejalan dengan anjuran dalam Islam, yakni memperlakukan pasangan dengan baik," lanjut Qalbi, menjelaskan kepada suaminya sedikit demi sedikit.

Mengangguk-anggukan kepala sebagai tanda bahwa Qabil mengerti dengan penjelasan istrinya, "dari penjelasan kamu Bii, itu terdengar seperti hukum penggunaan. Gimana soal hukum berhubungan karena efek dari penggunaan obatnya?" dirinya pun menanyakan hal berikutnya, inti dari permasalahan yang ada.

Mengacak-ngacak rambut suaminya, suka mendengar pertanyaan dari prianya itu, "syarat utama dari sahnya hubungan suami istri adalah melakukannya dalam keadaan sadar," jawab Qalbi sekenanya.

Menatap suaminya intens, "semalam Mas Abi sadar kan berhubungan sama aku?" tanyanya kemudian. "sadar, Sayang. Aku sempoyongan karena nggak kuat nahan gejolak nafsuku sendiri," jawab Qabil buru-buru. "Lalu, apakah aku setuju melakukan hubungan bersama Mas Abi?" ucap Qalbi melanjutkan pertanyaannya. "Jangankan setuju, orang kamu yang maksa aku," ungkap Qabil masih saja malu-malu.

Terkekeh pelan, "merasa kepaksa, nggak?" tanya Qalbi untuk kesekian kalinya. Menggelengkan kepala, "nggak, Bii. Justru aku suka," ujar Qabil, tidak dapat menyembunyikan senyum kebahagiaannya.

Menghela napas, "selama kedua pasangan setuju, sadar dan tanpa pemaksaan, Insya Allah ... nggak apa-apa Mas Abi," jelas Qalbi sesuai dengan apa yang dirinya ketahui. "Bahkan kalo Mas Abi mau pake obat ku*t pun, nggak masalah sebenarnya."

Tercengang mendengar pernyataan yang ke luar dari mulut manis istrinya, "serius?" tanyanya, setengah tidak percaya.

Menganggukan kepala setengah menahan tawa, "pada fatwa Syabakah Islamiyah asuhan Syekh Abdullah Al-Faqih nomor 183499 yang meyatakan bahwa, tidak mengapa menggunakan obat tersebut (obat kuat), sebagai mana yang ditanyakan oleh si penanya, selama obat tersebut (obat kuat) tidak menimbulkan bahaya dan tidak mengandung bahan yang haram. Lemah syahwat dianggap penyakit dan dapat menghilangkan keharmonisan rumah tangga yang diperintahkan dijaga oleh syariat," jelas Qalbi dengan penuh kesabaran.

Baru saja Qabil hendak protes, Qalbi menutup mulutnya seketika dengan menempelkan jari telunjuknya di sana. "Secara medis, obat kuat ini harusnya jadi jalan terakhir. Karena bagaimana pun lemah syahwat itu bisa diobati dengan mengatur pola hidup sehat, salah satu contohnya adalah olahraga rutin untuk meningkatkan stamina."

Mengambil tangan istrinya, menjauhkannya dari bibirnya, "aku nggak butuh yah, Bii. Tanpa obat itu aja kamu udah mohon-mohon biar aku berenti," klarifikasi Qabil seketika. Mencubit pinggang suaminya pelan, "tau aku, Mas. Nggak usah diomongin juga, aku malu ..." ungkap Qalbi, sampai-sampai menyembunyikan wajahnya di dalam selimut.

Melebarkan senyumnya melihat tingkah istrinya, "jadi, beneran nggak dosa kan sayang?" goda Qabil, menarik-narik selimut yang masih menutupi kepala kecintaannya. "Allah yang maha mengetahui lagi bijak memutuskan Mas Abi. Lagian, Mas Abi kan dijebak. Secara logika, yang jebak lah yang salah," gemas Qalbi, dirinya masih enggan menyembulkan kepala.

"Ya udah, kalo gitu, liat dong wajah cantiknya, Bii." Qabil terus berusaha menyingkirkan selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya. Sekuat tenaga menahan selimut di atasnya, "janji dulu, Mas Abi nggak bakal godain aku," tawar Qalbi mengundang kekehan Qabil.

Mendengus kesal, "kan, Mas Abi mah gitu," rajuk Qalbi, semakin menenggelamkan dirinya di dalam selimut. Bukannya berusaha membujuk, Qabil malah mengeraskan tawanya, lepas begitu saja, menambah kesan bersinar pada wajah rupawannya.

***

Di dalam suatu ruangan, Luthfi memeriksa semua bukti yang telah dirinya dan orang kepercayaannya dapatkan beberapa hari ini. Tidak urung, Luthfi sampai geleng-geleng kepala tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Menatap ke arah orang kepercayaannya, "ini valid kan?" tanyanya, berusaha meyakinkan diri.

Pria tersebut menganggukkan kepala, "seperti yang lo liat," ucapnya cukup singkat dan padat. Menghela napas kasar, "nggak waras nih cewek," ungkap Luthfi sampai garuk-garuk kepala. Menggeser sebuah foto yang ada di atas meja, "orang yang ada di belakangnya lebih gila," ucapnya sambil memandangi orang yang ada di dalam foto tersebut.

Berdecih, "demi harta, orang bisa ngelakuin apa aja, bahkan sampai ngorbanin nyawa orang lain. Mereka nggak perduli, apa kah itu sahabat, keluarga, bahkan mungkin anak kandung sekali pun," jelas Luthfi tidak habis pikir dengan apa yang telah diperbuat orang-orang di dalam foto-foto yang berserakan di atas meja panjang di depannya.

"Padahal yah, kalo dipikir-pikir, suaminya juga kaya," lanjut Luthfi. Pria itu menepuk bahu Luthfi pelan, "namanya juga manusia, Bro. Nggak pernah merasa cukup dengan apa yang ada, cenderung serakah," ujarnya membeberkan fakta yang ada.

"Berarti, ibunya dibunuh sama nih orang, terus dia ditawari kasih sayang padahal aslinya malah mau nguras harta bapaknya?" tanya Luthfi. "Dari bukti yang ada, kita bisa narik kesimpulan kayak gitu," jawab pria tersebut, membenarkan apa yang telah Luthfi asumsikan.

Menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, "gue mau kasian, tapi kelakuan mereka sama aja," ungkap Luthfi, sekali lagi dirinya menghembuskan napas kasar. "Mau gimana lagi kalo udah salah asuh," tambah pria itu, mengikuti jejak Luhfi pun menghela napas kasar.

"Ya udah, Bro. Makasihkarena mau bantuin gue berkali-kali. Seperti biasa, honor lo entar gue tf,"ujar Luthfi sekaligus pamitan dengan pria tadi, berhubung semua bukti pun sudahlengkap di dalam laptopnya, tinggal melaporkannya kepada Qabil.

Bintang SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang