BS || 36

2 0 0
                                        

Sepulangnya Qabil dari kantor, seperti kebiasaannya beberapa hari belakangan, dia mengajak Qalbi untuk berkunjung ke rumah Ayah Bundanya guna menjenguk bayi Ayra. Yah, buah hati pasangan Arbhy dan Ayra tersebut, setelah menjalani perawatan beberapa minggu di rumah sakit, akhirnya bisa dibawa pulang, dan sudah mendiami rumah keluarga Ahmad beberapa hari ini.

Memasuki kediaman kedua orang tuanya, mata Qabil langsung berbinar melihat seorang bayi perempuan bernama Aisyah Al-Farabi, begitu nyaman barbaring di dalam pelukan Ayyana.

Ayyana melihat ke arah putra dan menantunya, "sayangnya Nenek, lihat tuh siapa yang datang. Papa dan Mama Aisyah udah datang," ujarnya pada cucu pertamanya itu. Qabil melirik ke arah adiknya, "Bundanya belum bisa gendong, Bun?" singgungnya, membuat Ayra mendengus kesal, Arbhy yang ada di sebelahnya dengan sigap mengelus bahu istrinya.

Melirik sinis ke arah Qabil, "gayamu, Bil. Kamu sendiri juga belum bisa gendong," ungkap Ayyana, Qabil menghela napas panjang dibuatnya, sedangkan Ayra yang mendengarnya, tersenyum penuh kemenangan.

Qalbi yang juga berada di sana, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kakak beradik itu. Setelah mencium tangan Ayyana, dia mendudukkan diri di sebelahnya, diikuti oleh Qabil di sampingnya.

Menatap ke arah menantunya, "mau gendong, Sayang?" tanya Ayyana. Dengan penuh antusias, Qalbi mengangguk cepat, "boleh, Bun." Qalbi kemudian mengambil alih Aisyah dari gendongan Ayyana tanpa drama nggak bisa atau pun tangisan dari Aisyah.

Menatap putrinya, "Kak Qalbi belajar di mana gendong bayinya? Telaten banget. Bahkan dari awal Aisyah ke luar dari inkubator, Kak Qalbi udah bisa hendel," tanya Ayra penuh rasa penasaran.

Tersenyum hangat, "kalau kamu lupa, aku punya dua keponakan," jawab Qalbi cukup singkat. "Secara teori, aku paham bagaimana cara menggendong bayi dengan menimang, memeluk, menyangga perut bayi, bahkan penerapan metode kangguru. Namun, pada saat prakteknya, aku selalu berpikir negatif, takut menyakiti bayinya," lanjut Qalbi, menjelaskan bahwa dirinya pun tidak langsung bisa.

"Cuman, perlahan aku memberanikan diri. Dimulai dari belajar menggendong keponakanku. Yah, awalnya pasti kaku, tapi lama kelamaan udah nggak kok," jelas Qalbi. Ayra yang mendengarnya mengangguk-anggukan kepala, "itu yang aku rasakan, Kak. Udah belajar cara gendongnya, tapi aku takut nyakitin Aisyah," ungkap Ayra sendu.

"Nggak apa-apa, perlahan kamu pasti bisa. Iya kan, Bun?" ujar Qalbi, berusaha menenangkan adik iparnya. "Iya, Sayang. Bunda juga dulu nggak berani, cuman Nenek kalian banyak akalnya, jadi mau nggak mau Bunda harus berani," kata Ayyana setengah bercanda.

Menatap Aisyah yang sudah tertidur lelap, "tadi kamu nyebutin berbagai cara menggendong bayi, intip penjelasannya dong Bi," pinta Qabil dengan penuh harap. Tidak elak, Arbhy dan Ayra yang duduk di seberang mereka ikut mencondongkan diri, mengisyaratkan keinginan untuk mendengarkan penjelasan dari Qalbi.

Menatap ke arah Ayyana, "koreksi kalau salah yah, Bun." Terkekeh pelan, tidak urung, Ayyana tetap menganggukkan kepala menyetujui. Mencium pipi Aisyah sebentar, "cara menggendong bayi yang pertama adalah dengan menimang bayi," ujarnya memulai penjelasannya.

"Cara ini adalah cara yang paling banyak dilakukan kepada bayi yang baru lahir. Adapun langkah-langkah menimang bayi ini, yaitu menempatkan salah satu lengan di bawah leher dan kepala bayi, sedangkan tangan yang lain berada di bokongnya. Angkat bayi secara perlahan, kemudian sesuaikan posisinya hingga bayi dan yang menggendong merasa nyaman," jelas Qalbi sambil memperaktekkannya secara langsung dengan bantuan Aisyah.

Menepuk-nepuk bokong Aisyah yang sedikit menggeliat karena gerakannya, "perhatikan bahwa leher bayi harus berada di lengan bagian dalam atau lipatan lengan saat digendong," lanjutnya, sambil memperlihatkan posisi leher Aisyah di lengannya.

Bintang SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang