BS || 27

1 0 0
                                        

Duduk di kursi taman depan rumah sakit, Qalbi sedang menunggu Qabil datang menjemputnya. Mengeluarkan sebuah novel yang berjudul 'Arshy' dari tasnya, dia hendak melanjutkan bacaannya. Namun, Chava tiba-tiba datang dan duduk di dekatnya, membuat Qalbi mau tidak mau mengurungkan niatnya.

Menyodorkan segelas kopi ke arah Qalbi, "nunggu jemputan, Dok?" tanyanya, lebih seperti sebuah basa-basi. Menerima kopi pemberian Chava, "iya. Sekalian menghirup udara segar," jawab Qalbi ramah, melupakan kejadian di hari sebelumnya.

Meminum kopinya, memandang pepohonan rindang di pinggir jalan, "Kak Qabil sayang banget yah sama Dokter?" ucapnya, lebih ke ungkapan dari pada sebuah pertanyaan.

"Alhamdulillah. Walaupun hubungan kami berawal dari perjodohan, tetapi kami berhasil menumbuhkan rasa cinta kasih satu sama lain," jelas Qalbi tidak bermaksud apa-apa, hanya berusaha menjawab tanya dari Chava.

Menolehkan kepala, memandang ke arah Qalbi yang masih duduk tenang di sampingnya, "Dokter tau nggak kalau gue ada rasa sama Kak Qabil?" tanyanya tanpa memerdulikan perasaan Qalbi sebagai istri sah dari seorang Qabil Ahmad.

Tersenyum tipis, "tau," jawab Qalbi tidak terlihat emosi sama sekali. " Mas Qabil selalu cerita setiap kali kamu mengajaknya menghabiskan waktu berdua. Mas Qabil bahkan memperlihatkan isi pesan kamu dengannya padaku."

Tergelak kaget, "Dokter nggak marah?" herannya. Memandang Chava dengan penuh keteduhan, "kenapa harus marah ketika Mas Qabil bersikap jujur?" ujar Qalbi, tidak ada kegentaran dalam nada bicaranya.

"Dia selalu menolakmu dan nggak pernah membalas satupun pesanmu, tentu saja karena menghormatiku sebagai istri dan kecintaannya. Lantas, mengapa aku harus mencoreng kehormatannya demi kemarahanku padamu?"

Menghela napas panjang, "istri mana yang nggak merasa cemburu ketika suaminya digoda secara sembunyi-sembunyi atau pun secara terang-terangan seperti itu, hm?" tanya Qalbi dengan penuh kelembutan kepada Chava.

Mendengar pertanyaan sarkas dari Qalbi, Chava hanya bisa geleng-geleng kepala seakan berkata 'tidak ada istri yang seperti itu. Dan mungkin takkan pernah ada.'

Hening sebentar, hanya ada suara hiruk pikuk kendaraan berlalu lalang yang terdengar, tidak ada obrolan di antara mereka. Hingga, Qalbi kembali membuka suara. "Aku nggak mendatangimu karena memikirkan kehormatanku, kehormatan suamiku, dan tentu saja kehormatanmu. Bukan perkara yang mudah jika sudah menyangkut percobaan perselingkuhan."

Tidak urung, Chava menundukkan kepala, "tapi gue mencintainya. Mau itu dulu atau pun sekarang, gue selalu dan hanya mencintainya. Salah yah kalau gue berusaha berjuang mendapatkan cinta darinya? " ungkap Chava, mengecilkan suaranya.

Menggelengkan kepala dengan pemikiran sempit Chava. "Apakah dengan berusaha membuat aku dan Mas Qabil bertengkar adalah sesuatu yang benar?" tanya Qalbi membalas ungkapan Chava yang seperti orang sudah kehilangan akal karena cinta.

"Kamu tau apa itu takhbib?"

Melembutkan nada bicaranya, Qalbi berusaha menasehati Chava sebagai sesama perempuan.

"Merusak rumah tangga orang lain, itu yang disebut dengan takhbib. Dan takhbib adalah suatu pekerjaan yang menghasilkan dosa besar. Sadar atau nggak, kamu sedang mencoba melakukan takhbib."

Mengambil napas, berusaha menetralkan emosinya, mengalihkan pandangannya dari Chava.

"Menggoda suamiku lewat pesan-pesanmu, serta mengompor-ngomporiku lewat cerita mengenai masa lalumu dengan suamiku, itu lah bentuk dari kata takhbib. Dan kamu melakukan itu tempo hari."

Menutup bukunya, memasukkannya ke dalam tas, mengambil kopi yang sempat dia letakkan sebelumnya.

"Aku hanya ingin kamu tau, takhbib itu merugikanmu dan merugikan orang lain. Mencintai seseorang itu nggak salah, yang salah adalah ketika kamu berusaha mendapatkannya dengan menghalalkan segala cara."

Melihat mobil suaminya berhenti tidak jauh dari posisinya, Qalbi hendak beranjak pergi. Namun sebelumnya, dia memandang ke arah Chava sebentar, "melepaskan adalah puncak tertinggi dari mencintainya dan mencintai diri sendiri," ucapnya, kemudian berlalu pergi.

***

Membuka pintu mobil suaminya, duduk pada kursi samping pengemudi. "Takhbib?" tanya Qabil tiba-tiba. Memandang Qabil, bergegas mengambil ponselnya, "teleponnya belum kamu matiin?" kaget Qalbi melihat panggilan antara dirinya dan suaminya masih tersambung.

Memang mereka sempat teleponan sebelum Qalbi duduk di kursi taman tadi. Namun ternyata, setelah itu Qabil sama sekali tidak berniat mematikan sambungan telepon antara dia dan istrinya. Dan istrinya yang sama sekali tidak memperhatikan hal tersebut, hingga terjadilah momen ini, Qabil menguping pembicaraan antara Qalbi dan Chava secara tidak sengaja.

Melihat istrinya sudah siap untuk dibawa pulang ke rumah, Qabil melajukan mobilnya. "Kamu nggak mau jelasin ke aku apa itu takhbib?" goda Qabil sambil sesekali melirik ke arah istrinya. "Bukannya kamu tadi udah denger?" balas Qalbi lemah, sseakan kehilangan separuh energinya.

Terkekeh pelan, "aku mau denger langsung dari kamu," pinta Qabil.

Menghela napas panjang, "dari Jabir radhiallahu'anhu Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata 'aku telah melakukan begini dan begitu'. Iblis berkata, 'engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun.' Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, 'aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, 'sungguh hebat (setan) seperti engkau, HR. Muslim IV/2167 No. 2813," tidak urung Qalbi tetap membuka suara guna menjelaskan pada suaminya.

"Merusak rumah tangga seorang muslim disebut takhbib. Hal ini tentu saja merupakan dosa yang sangat besar. Selain ada ancaman khusus, tentu saja dilihat dari hadist tadi dapat diketahui bahwa dia sedang membantu Iblis dalam mensukseskan rencananya menyesatkan manusia."

Mengangguk-anggukan kepala mengerti, "secara nggak langsung kamu ngatain dia pengikut Iblis, Bii?" ungkap Qabil, berusaha menyembunyikan tawanya.

"Ya karena emang rusaknya rumah tangga dan perceraian itu sangat disukai Iblis dan itu yang dia harapkan bukan? Aku cuman peringatin dia buat berhenti ngelakuin itu, karena semua hal yang disukai Iblis tentu saja suatu dosa besar."

Menghadap ke arah suaminya, "nih, yah," ucapnya mengambil ancang-ancang untuk menjelaskan.

"Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, bukan bagian dari kami orang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita sehingga dia melawan suaminya, HR. Daud 2175 dan dishahihkan al-Albani."

"Kemudian, dalam kitab Mausu'ah Fiqiyyah 5/291 dijelaskan bahwa maksud dari merusak istri orang lain yaitu mengompor-ngompori untuk meminta cerai atau menyebabkannya, maka ia telah melakukan dosa yang sangat besar."

"Kemarin yang buat kamu marah, karena dia ngelakuin itu bukan?" ujarnya kepada suaminya penuh kelembutan pun penekanan.

"Aku nasehatin dia bukan cuman karena aku cemburu dan marah atas sikap dia ke kamu, tetapi juga berusaha narik dia dari merusak dirinya sendiri pun menjerumuskan dirinya atas nama cinta."

Mendengar pengakuan Qalbi, semburat merah di pipi Qabil perlahan bermunculan. "Berarti kamu cinta banget yah sama aku? Takut banget yah kehilangan aku?" tanyanya, memancing pengungkapan rasa dari Qalbi atasnya.

"Jelas lah, kamu kan suamiku, Bi. Orang yang bersama denganku berjanji untuk menunaikan ibadah terpanjang dalam hidup."

Menepikan mobilnya, tidak menunggu waktu lama, Qabil menarik Qalbi masuk ke dalam pelukannya. "Terima kasih karena sudah mencintaiku, mempercayaiku, dan mencemburuiku tanpa bertengkar denganku," ungkapnya, semakin mempererat pelukannya pada Qalbi.

"Kamu selalu berhasil membuatku merasa dihargai dan dihormati. Seperti kemarin dan saat ini, kamu mempertahankanku di sisimu tanpa banyak drama dengan calon-calon pelakor itu."

Membalas pelukan suaminya, "semua itu karena aku mencintaimu dan mencintai diriku sendiri," ungkap Qalbi.

Bintang SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang