awal

312 106 40
                                        

Ayam di pekarangan belakang panti berseru-seru dibarengi dengan mentari yang mulai naik—menghangat. Tapi itu bukan jam bangun tidur bagi anak yang sudah berlarian membawa tas hitamnya. Nafasnya tersengal-sengal, rambutnya basah berantakan dengan keringat menetes dari pelipisnya. Setelah jauh dan menopang tangan pada lututnya, anak dua belas tahun yang tengah membungkuk itu tersenyum lebar. Aksinya berhasil lagi.

Berjalan mendekati bagian samping panti, tepatnya pada kamar seseorang yang tidur bersamanya, anak laki-laki yang sudah ia anggap adiknya sendiri.

Tok tok tok

“Ja, buka jendelanya.”

Ia kembali mengetuk jendela. “Ja?” Anak itu masih setengah berbisik, takut-takut ada yang mendengarnya dan memergoki aksinya.

Lima.

Sepuluh menit.

Tak ada jawaban. Anak itu sempat melihat ke dalam tapi terhalang gorden biru yang warnanya mulai memudar. Tidak biasanya anak yang di panggil 'ja' itu membuatnya menunggu. Setelah sejenak berfikir, mungkin ia harus masuk lewat pintu depan dengan beralasan seperti biasanya? Atau menunggu sedikit lebih siang lagi?

Mungkin ibu Yana—pengurus panti tersebut akan curiga dengannya jika terus beralasan sama, atau mungkin akan lebih bahaya lagi jika anak panti yang melihatnya di tempatnya saat ini.

Anak laki-laki ini masih menunggu sambil sesekali mengetuk-ngetuk jendela tapi kemudian kepalanya sempurna menoleh, melihat mobil putih berhenti tepat di depan panti. Anak ini sedikit mundur tapi matanya masih dengan jelas menangkap bagaimana seorang pria dari dalam mobil mulai turun, berjalan dengan suara pantofel yang mengiringinya.

Pria itu masuk. Percakapan di dalam sama sekali tidak terdengar. Kepala anak ini memikirkan skenario-skenario yang mungkin saja terjadi.

Matahari naik lebih tinggi.

Ide di kepalanya bermunculan, terlebih saat mungkin hampir sepuluh menit tamu itu ada di dalam. Dirinya berjalan menuju pintu belakang yang semoga saja tidak dikunci.

Berjalan mengendap-endap hingga keberuntungan lagi-lagi berpihak padanya. Pintu itu tidak terkunci.

Tapi tunggu.

“Saya akan tetap kasih donasi ke panti, terimakasih sudah jaga anak saya, saya permisi.”

━━━━━━━━━ ✢   tbc   ✢ ━━━━━━━━━


haii👋🏻👋🏻
mett datang di ceritanya naa🙆🏻‍♀️
cerita' aku kemarin aku unpublished karnaa alurnya engga tauu hehe
yang sekarang aku usahain banget buat tamatt jadii aku pilih buat engga selingkuh naskah lagi kaya kemarin'

aku gaa maksa buat kalian vote atau komen tapi lebih baik lagii kalau kalian mau begituu💫
aku udah seneng kalian baca jugaaa
makasii yaa, enjoyyy (⁠ ⁠˘⁠ ⁠³⁠˘⁠)💖💖

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang