misaligned ~13

154 73 32
                                        

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

El dengan perlahan membantu ibunya kembali berbaring. Wanita paruh baya itu tersenyum kecil. "Makasih ya nak," ujarnya. Ruam-ruam di pipi dan hidungnya lebih memerah lagi daripada kemarin. El juga baru tahu kalau ibunya kemarin hanya berbaring seharian.

“Ibu sembuh ya?”

Yana mengangguk. Tangan gemetarnya terangkat mengusap pelan bahu El. “Ibu mau istirahat sebentar.”

“Iya.” El menarik selimut rumah sakit itu sampai sebatas perut. Tangannya mengusap pipi Yana yang kemerahan oleh ruam kemudian beranjak berdiri, membiarkan wanita itu istirahat seperti yang dimintanya.

Langkahnya membawanya pada ruangan ayah Calla. El mengintip sedikit kemudian memilih berlalu, mencari sesuatu yang bisa ia makan.

Gerakan El yang hendak duduk berbarengan dengan seorang gadis yang kini duduk di depannya. Gadis itu mendongak singkat kemudian kembali fokus pada ponselnya. Ia juga, merasa gadis itu tidak keberatan, dirinya juga memilih untuk itu. Tangannya terangkat membuat pelayan rumah makan itu menghampiri mereka.

“Mau pesan apa?” Pelayan itu membawa sebuah kertas dan pulpen, berniat mencatat apa-apa saja yang akan di pesan.

“Sate satu sama mie aja.” Gadis itu mendongak menatap ke arah El. “Minumnya air putih.”

“Mie nya?”

“Kuah.”

“Baik, di tunggu ya.” El mengangguk sebelum pelayan itu berlalu. Calla yang di depannya masih memperhatikan El lamat.

“Pesan apa?” Calla memastikan, dirinya bahkan melepas earphone yang tidak memutar apa-apa dari telinganya itu. “Sate?”

"Buat lo."

Calla ingin bertanya lebih banyak, seperti bagaimana El bisa tahu kalau sate adalah makanan favoritnya, atau jika kebetulan, kenapa pesanan mereka di bedakan.

“Karena kemarin gue liat lo beli,” tukas El. Calla mengedikkan bahu seperti tidak peduli tapi sudut bibirnya tidak bisa tidak berkedut. El menopang kepalanya pada telapak tangan, sikunya tepat di atas meja. “Ayah lo gimana?”

“Kemarin sempat drop, nggak tau kenapa.”

“Gue keluar bentar,” putus El. Dirinya berjalan keluar meninggalkan Calla yang bahkan belum menyahut. Earphonenya terpasang lagi tanpa memutar apapun. Ponselnya menyala, tapi gadis ini hanya menggeser-geser layarnya saja.

Tak lama setelah makanan itu datang, El juga datang dengan dua cup berlabel. Calla mendongak memperhatikan bagaimana El meletakan salah satu di hadapannya. El mulai mengunyah makanannya perlahan tanpa mengucap sepatah katapun.

Beberapa kali El mendongak memastikan jika Calla juga makan. Ia mengusap pelan ujung bibirnya dengan tisu. “Kal, di kelas lo ada yang minat kepanitiaan nggak ya?” tanya El membuka obrolan.

Calla mendongak. “Kurang tau.”

“Udah mau ganti ketua.”

Calla melepas earphonenya, meletakkan ponselnya. Keduanya sikunya kemudian bertumpu pada meja. “Nyalon?”

“Di calonin.”

“Dih,” Calla mencibir. El terkekeh melihat perubahan ekspresi wajah gadis di depannya.

“Besok sosialisasi sekalian survey, lo juga boleh kalau minat—” El menjeda, laki-laki ini meraih gelas dan meminumnya. “Biar pikiran lo nggak negatif terus,” imbuhnya. Ia berdehem pelan.

“Keliatan ya?”

“Keliatan.”

“Nggak deh,” putus Calla akhirnya. El mengangguk saja melanjutkan kegiatan makannya. “Ibu kamu, gimana?”

“Baik, tapi ruam di mukanya nambah.” Keadaan pertama berbanding terbalik. Wanita paruh baya itu bahkan sudah tidak bisa berjalan jauh.

El selesai dengan kegiatannya, Calla juga. Minggu ini Calla berencana menghabiskan waktunya di rumah sakit, menemani ayahnya yang masih terpejam dalam tidur panjangnya.

“Zeno cocok si.”

Calla menoleh kemudian mengernyit kecil mendengar kalimat El. “Cocok apa?”

El berdehem singkat. “Ikut organisasi, dia kalau lagi serius keliatan.” Alis gadis di depan El sedikit terangkat seperti baru saja menemukan fakta menarik, sebentar sebelum kepalanya mengangguk tanda setuju. “Zeno itu tipe yang banyak omong tapi tugasnya beres terus—” El menenggak air di gelasnya. “Orang-orang yang di pimpin dia biasanya bener.”

El yang tidak mendapat tanggapan menyandarkan tubuhnya pada tembok. “Keliatan aja,” sahutnya. Calla mengangguk, tapi pikirannya beralih pada kalimat El sebelumnya. “Sayang juga kalau nggak dimanfaatin.”

“Dimanfaatin?”

Ia mengangguk. “Iya potensinya, bukan orangnya.” Laki-laki bermata sipit ini terkekeh.

Calla mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat. “Dia emang suka serius gitu ya?”

“Kadang, tapi kalau dia bilang dia serius berarti beneran.” El melipat bibirnya, tangannya bersedekap. “Makanya, cocok.”

Hening menghampiri keduanya.

Calla memilih berdiri lebih dulu. El yang mendongak menatapnya menyahut pelan. “Biar gue aja yang bayar.”

“Makasih, gue bayar sendiri aja,” jawab Calla. Gadis ini masih cukup sadar dengan dirinya dan El menghargai keputusan Calla. “Makasih kopinya juga.” Menganggukkan kepalanya, El kemudian ikut beranjak. Keduanya berjalan beriringan.

Tangan kanan Calla membawa cup kopi, keduanya tangannya di pangku di depan tubuhnya. Sesekali gadis ini akan tersenyum kepada siapa-siapa yang memberikan senyumnya.

“El.”

“Mhn?”

Calla berhenti di dekat pembatas lantai empat. Tangannya berpegangan, kepalanya mendongak ke arah laki-laki di sampingnya. “Kamu sama Zeno beda banget.”

El tertawa dengan pengakuan Calla, tapi dia tidak benar-benar faham letak perbedaannya dengan Zeno yang Calla maksud. “Beda apa?”

“Kalian sama-sama bisa serius, tapi menurut aku, kalian nggak bisa disatuin.”

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang