misaligned ~27

84 31 93
                                        

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━


Kebayangkan jam istirahat digunakan siswa untuk mengisi perut mereka— lagi. Tasya, Feli, dan Calla sudah duduk tenang di salah satu meja persegi yang ada di kantin. Bau makanan, suara sendok yang beradu dengan gelas, dan teriakan ibu kantin seolah sudah menjadi background tetap.

Sebenernya hari ini tidak terlalu ramai tapi cukup berhasil menelan suara kecil yang tidak ingin di dengar orang lain. “Panas banget sumpah, gue mau beli es lagi. Kantin kenapa nggak pakai AC sih?”

“Coba dipikirkan secara logika.”

Tuk

Feli menjentik kecil kening Tasya yang rambut-rambutnya menempel di sana. Ia tahu Tasya sebentar lagi akan memasang wajah kesalnya. Bibirnya akan mengerucut kemudian membuang pandangannya. Gadis ini meraih bungkus camilan kemudian membukanya dengan tangan yang agak gemetar, entah karena lapar atau karena sesuatu yang belum sepenuhnya hilang dari kepalanya.

“Gue pesenin ya? Biar gue yang baik.”

Tasya berbalik sedikit. Zeno yang baru datang sudah berjalan kearah ibu kantin yang tengah sibuk. Ia menoleh kearah Feli.

“Jangan-jangan Lo mau di kasih es teh tawar lagi, Sya," Feli menyahut.

“Awas aja."

“Misi-misi oi, mau lewat.” Setelah meletakan segelas di atas meja, Zeno yang hampir mengangkat kakinya melewati bangku Tasya urung. Laki-laki itu menatap malas. “Geser dikit napa? Ini kantin bukan rumah nenek lo.”

“Trus, lo siapa?”

“Gue tamu kehormatan,” jawab Zeno santai. “Datang untuk menyelamatkan suasana.”

“Suasana? Yang ada gue makin panas sampai ke telinga-telinga.”

“Halah, minggir Kunti. Makasih kek.” Zeno mengguncangkan bahu Tasya membuatnya mau tidak mau bergeser. Ia mengambil tempat tepat di samping Calla yang tengah memutar-mutar sendok di atas piring. Gadis berjepit rambut itu tidak langsung menyapa. Matanya menyapu sekeliling kantin.

“Kal,” panggil Zeno tiba-tiba. “Lo makan dikit amat.”

“Laper dikit.”

“Laper dikit tapi mikir banyak ya?” Feli bergulir menatap Calla membuat senyum gadis berjepit rambut itu terukir.

“Daripada laper banyak mikirnya nggak ada—”

Tasya menggebrak meja. “Woi, gue kesindir ya!” bibirnya naik membuat Calla tertawa keras-keras. Dagu sebelah kanannya membuat lesung kecil. Terlihat kontras dengan matanya yang menyipit ketika tertawa.

Zeno menoleh, memaku tatapannya pada Calla. Tawa itu lebih lebar dari saat ia pertama melihatnya di kelas. Suara tawa itu mengalun lembut dengan ritme terputus-putus yang terdengar begitu pas. Telinganya memerah. Rasa itu memenuhi dirinya lagi.

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang