misaligned ~36

85 25 249
                                        

━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━

Pagi hari di hari Rabu memang tidak terlalu berkesan tidak terlalu berarti. Cahaya masuk dari celah tirai dengan warna yang tidak begitu hangat, jatuh pada lantai kamarnya mengenai karpet bundar dengan warna biru dan sebuah corak acak yang kontras. Masih sama seperti kemarin-kemarin yang tidak terlalu hidup.

Gadis yang berdiri di depan cermin itu tengah sedikit membenarkan letak dasinya. Rambutnya disisir pelan dengan sisir yang sesekali membawa sehelai dua helai yang jatuh dengan cara seharusnya. Senyum kecilnya terbit membuat lengkungan kecil matanya sedikit timbul. Sisir itu ia letakkan, beralih pada jepit rambut yang akan ia bawa turun untuk dipasangkan Ayahnya nanti.

Jepit rambut itu biasanya terlepas ketika ia tidur, kadang karena rambut licinnya yang terus menari hingga jepit itu mengendur dan jatuh karena tidak kencang. Ia duduk di ranjang di depan lemari, sepersekian detik sampai akhirnya bangkit dan keluar untuk turun. Langkahnya pelan seperti tengah menyesuaikan dirinya dengan sesuatu yang belum selesai di kepalanya.

Calla membuka pintu. Tidak sepenuhnya, hanya memperkirakan bahwa itu cukup untuk membuat dirinya keluar tanpa suara berlebihan. Pintunya ia biarkan terbuka— dengan yang cukup tadi tanpa berniat menutupnya sama sekali.

“Pagi Ayah,” sapanya. Seulas senyum Adrian berikan dibarengi suara tarikan nafas pelan. Tubuhnya bergeser sedikit ketika Calla mendekat.

“Pagi, Ly.” Tangan besar Adrian langsung meraih sesuatu pada genggaman putrinya. Anak gadis itu membungkuk sedikit, memberikan ruang agar Adrian leluasa menyematkan benda itu pada rambutnya. “Dah.” kepalanya mengangguk tipis.

Kursi di tempat yang paling dekat dengan Adrian ia tarik sedikit— cukup untuk diduduki. Adrian menyodorkan gelas dengan air putih yang baru saja dituangnya. Calla melirik sebentar sebelum Adrian hampir sibuk melanjutkan kegiatan makannya. “Yah?”

“Hem?” Sendok yang dipegangnya mengambang dengan Adrian yang menatap lekat Calla.

“Selatan... Ayah tau, Selatan?” Jemarinya menyentuh sisi gelas kemudian memutarnya tanpa arah. Pertanyaan itu keluar dengan suara pelan yang tidak ia perkirakan. Pria yang duduk dengan setelan rapi dan jas yang diletakkannya pada kursi itu tidak langsung menjawab. Ada jeda singkat di antara keduanya. Kecil tapi cukup.

“Kenapa?”

“Dia kenal Bunda, ya?” Dan di detik berikutnya pertanyaan itu akhirnya menggantung di udara, bersih dan tanpa tambahan apa-apa.

Air wajah Adrian masih terlihat biasa, hanya matanya yang berkeliling sedikit seperti tengah mempertimbangkan kalimat-kalimatnya nanti. “Kamu ketemu dia?”

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang