misaligned ~35

79 21 154
                                        

━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━

Kamar El masih sama. Rapi tapi terasa terlalu rapi sampai seperti sesuatu dari sana begitu enggan untuk bergeser dari yang sudah menjadi tempatnya. Dinding abu-abu pucat memantulkan cahaya lampu yang agak lebih redup dari lampu kebanyakan membuat suasananya dingin tanpa harus gelap. Sprei warna putih terbentang tanpa lipatan bahkan sekedar pada bagian ujung-ujung seolah seperti belum benar-benar terpakai.

Meja kayu di samping tempat tidur bersih. Di permukaannya terdapat sebuah laptop menyala dengan pemiliknya yang duduk pada kursi swivel gelap di hadapannya. Beberapa barang kecil di susun dengan jarak yang terlihat presisi seperti seolah punya jarak yang sudah ditentukan. Tidak banyak yang bisa dilihat di kamar laki-laki ini tapi justru membuat yang terlalu sedikit itu terasa penuh dengan sesuatu yang tidak pernah keluar dengan baik.

Lampu meja menyala. Layar laptop terbuka di hadapan El tanpa sedikitpun keinginan memindahkan kursor yang hanya terus berkedip di halaman awal. Punggungnya bersandar dengan salah satu tangannya berada di mouse dan sebagian lainnya menyangga di dagu.

Kosong.

Atau seharusnya.

Tapi kepalanya memutar banyak kejadian acak yang entah perlu atau hanya sekedar harus ia ingat. Suara Calla siang tadi sedikit mengalihkan pandangannya dari kursor laptop yang berkedip— turun menatap lantai seperti sebuah kaset yang akan memutar sebuah cuplikan gambar.

Cara lo ngomong, nyebelin ya.

Sudut bibir itu tertarik naik dengan baik, dengan kepalanya yang meminta untuk itu. Nafasnya ia tarik cepat sebelum kemudian mendongak dengan sedikit memutar-mutarkan kursinya.

“Nyebelin,” ulangnya pelan seperti sedang mencoba kata yang baru ia ucapkan, dengan suaranya, dengan nada seorang gadis yang menjadi contohnya. Salah satu alisnya terangkat sampai ia sadar sedang melakukan apa.

Tidak ada yang menjawabnya.

El tertawa kecil dengan kepala menggeleng beberapa kali. Dadanya sempat merasa ringan sampai pada sebuah kata yang rasanya asing ikut hadir pada kepalanya.

Lo.

Satu kata itu muncul lagi— berbeda dan asing. Bukan karena tidak pernah mendengarnya karena bahkan ia menggunakan kata itu hampir setiap harinya, tapi karena kata itu keluar dari seorang gadis yang terlihat hancur saat kata itu akhirnya harus keluar. El melirik kosong kearah layar, tangannya bergerak mengetuk meja hingga menimbulkan suara yang tertata.

“Lo, ya...” kalimat itu menggantung karena kata berikutnya tidak ikut keluar.

Kursor masih berkedip dan ingatannya ikut berbelok seolah setiap kedipan yang ia perhatikan akan membawanya pada gambar-gambar yang berbeda pula.

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang