"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Duh, akhir' ini banyak banget tugas Senin juga ada UTS jadinya sempat'an nulisnya, love buat kalian yang masi baca yaaa Enjoy your reading🌺💕 -naa🙆🏻♀️
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
“Jadi gitu teman-teman.” Nata tersenyum di depan kelas. Hening beberapa saat ketika orang-orang itu sempat saling pandang dan kemudian menoleh kearah El. Laki-laki itu melamun. Jika diperhatikan, tangannya terlihat gemetar. “El—”
Matanya bergulir karena kaget. El kemudian mengambil posisi di tengah. Tangannya menggenggam mic dengan logo organisasi menjadi background di bagian belakang. “Selain yang di jelasin kak Nata, tujuan utama organisasi itu buat ngebetuk kepemimpinan dan—” pikirannya berpindah, pandangannya berkeliling. “—dan... tanggung jawab,” sambungnya.
Beberapa anak terlihat antusias. Sebagian ada yang mencatat sebagian lagi ada yang hanya bermain ponsel. Radin melirik El sekilas ketika merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Kak.” Anak laki-laki di meja depan mengangkat tangannya. “Divisi humas itu apa?”
El menoleh ke arah Kevin yang memberikannya anggukan. “Divisi humas itu, komunikasi eksternal.” Anak itu terlihat mengernyit, merasa kurang puas dengan jawaban yang El berikan. Radin yang bersandar di tembok kelas bersedekap sambil memperhatikan El.
Laki-laki bermata sipit ini beralih pada pointer. Tombolnya sempat di tekan dua kali sebelum slidenya berpindah. Jarinya agak kaku. “Pelaksanaan pemilihan OSIS nanti di tanggal dua belas—”
Kevin yang melihat El menggeleng mulai maju mengambil alih. “Tanggal dua puluh satu di aula satu. Kita bakal ngadain debat kecil buat menentukan pilihan kalian kalau masih bingung guys,” imbuh Kevin- laki-laki berambut ikal. Dirinya sempat menoleh lagi kearah El yang memperhatikan.
“Selain di bagian ketua dan wakil ketua, teman-teman yang sudah mendaftar akan masuk bagian sekretaris, bendahara, dan seksi-seksi yang lain.”
Bisik-bisik kecil terdengar diantara siswa MIPA satu. Radin yang masih menjabat sebagai ketua OSIS itu mulai berkeliling kecil. Nona yang berada di belakang untuk dokumentasi juga beranjak.
“Buat yang minat bisa di tulis namanya di kertas dan di kumpulkan pada kami.”
Radin berhenti tepat di samping Calla. Gadis itu mendongak, Zeno yang berada di sebelah Calla juga ikut mendongak. “Kamu ikut ya, Zen.” Zeno menatap Calla sebentar. Gadis itu memberikan seulas senyum kecil tanda tidak ikut berkomentar.
“Kan katanya yang minat kak?”
“Kita survey juga, saya rasa kamu cocok.”
Sampai kegiatan sosialisasi itu selesai, El hanya menyimak, tersenyum dan mengangguk seperlunya. El dan Kevin berjalan beriringan keluar dari kelas. Laki-laki berambut ikal itu menepuk pundak El, membuatnya menoleh sebentar. “Lo sakit?”
“Nggak.”
Percakapan singkat itu berakhir pada ruangan OSIS. Radin setengah duduk di atas meja, tangannya masih bersedekap. Pandangannya bergulir dan berhenti ketika El dan Kevin masuk berbarengan.
“El.” Radin memincing. Nata mengambil alih map yang dibawa oleh El. Mereka memilih keluar menyisakan El dan Radin di ruangan mereka. “Lo bisa profesional dikit nggak? Jelek banget publik speaking lo tadi.”
Tangan El yang berada di sisi tubuhnya mulai mengepal pelan. “Sorry, gue juga nggak mau.”
“Ya terus kenapa lo kayak gitu? Lo nggak malu apa liat cara anak kelas ngeliatin lo tadi? Lo tuh kalau ada masalah di selesain dulu, nggak lo bawa ke sekolah. Mikir lah El, semua juga ada tempatnya.”
Buku jari El memutih karena kepalannya sendiri. Dirinya mengangguk spontan. “Siapin buat sosialisasi nanti. Nggak usah malu-maluin.” Radin beranjak, mendorong pintu ruangan kemudian berlalu.
Kaki jenjang El menyusuri lorong menuju kelasnya. Ponsel di sakunya beberapa kali bergetar tapi tertahan karena rasa takutnya, El belum membukanya. Laki-laki ini kembali ke kelas setelah semua orang turun ke kantin.
Pintunya di tutup pelan. Bunyi kecil dari sana terlalu keras untuk ruangan tertutup dan lenggang itu. El berdiri beberapa langkah dari pintu, tangannya gemetar lagi setelah tidak ada yang melihatnya.
Ia duduk di pojok ruangan. Setidaknya jika tiba-tiba ada yang masuk, dirinnya jadi bisa beralasan. Bunyi AC dan kipas menjadi backsoundnya. Detakan jam di atas papan tulis mulai menghitung berapa lama laki-laki ini bisa menahan.
Ponsel di sakunya akhirnya El keluarkan. Banyak notifikasi-notifikasi tidak penting selain sesuatu yang membuat tenggorokannya terasa tercekat. Dari rumah sakit. Matanya terpejam berharap sesuatu yang baik yang akan ia baca.
“Pasien atas nama Yana mengalami penurunan saturasi. Mohon keluarga---” El bergumam tidak jelas. Bahkan ia yakin dirinya tidak benar-benar mendengar kalimat apa setelah itu.
Salah. Harusnya El tidak membacanya. Kalimat menggantung itu malah terasa berulang di kepalanya. Semakin sering, semakin berat makna yang ia dapat.
Laki-laki ini menutup setengah wajahnya. Setengah menahan untuk mengatur nafasnya. Ponselnya ia letakkan terbalik. “Nggak sekarang.” El seolah tengah meminta di balik kalimat singkatannya.
Kakinya bergerak mendorong kursi di depannya. Suara decitannya memantul membuat kelas kosong itu sejenak penuh dengan apa yang El lakukan. Kepalanya ia letakkan diatas meja kemudian tertawa pelan. “Gue masih harus sosialisasi.”
Telapak tangan itu terangkat menutup seluruh wajahnya. Ada yang akan datang.
Sepersekian detik kemudian terdengar knop pintu diturunkan perlahan. Langkah kaki terdengar setelahnya. Ia rasa, orang yang baru datang itu sempat melihat atau bahkan memperhatikannya.
Suara kursi di geser, meja berdecit, kemudian hening. El membuka matanya. Orang itu meninggalkannya dengan pintu tertutup.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.