misaligned ~24

105 36 62
                                        

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

“Mau es cekek tauu,” tutur Tasya yang kini mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. Minggu siang di alun-alun menang panas. Untung mereka datang saat sebagian sudah pulang, tapi bukan berarti tidak sama ramainya.

“Nih minum.” Feli menyodorkan botol air mineral yang sejak tadi ia bawa. Isinya mungkin tinggal sepertiga, sisa gadis itu minum saat makan camilan tadi.

Tasya meraihnya. Gadis itu berjongkok sebentar untuk minum. Setelahnya gadis bercelana jeans itu kembali bangkit, menyerahkan botol itu lagi kepada Feli.

Angin siang belum benar-benar turun. Matahari juga belum terlalu tinggi, tapi panas seolah sangat menyukai tempat mereka sekarang. Ketiganya berhenti di bawah naungan atap. Bukan seperti halte, atau mungkin itu hanya tempat orang-orang berteduh.

Tasya masih sesekali bergumam tidak jelas.

“Gue sumpah ya, kalau Minggu depan kita nggak interaksi lagi, gue yang bakal nyamperin duluan!” Katanya sambil menendang kerikil kecil di dekat kakinya.

“Nyamperin kemana?” Feli memutar-mutar karet rambut di pergelangan tangannya. “Lo tau rumahnya?”

“Kan bisa nanya,” Tasya menjawab santai seolah hal itu adalah hal yang terlalu wajar.

“Nanya ke siapa?”

“Satpam sekolah?” Calla menimpali. Gadis dengan dress biru langit di bawah lutut bermotif bunga-bunga kecil itu mulai berjongkok, mendongak pada Tasya dan Feli yang masih berdiri.

“'Pak, kakak yang baik banget itu rumahnya dimana ya?' gitu?” Feli menyambung kalimatnya. Celana knitnya yang agak longgar mulai berayun terkena angin.

Calla terkekeh pelan membuat Tasya menunduk menatap kearahnya. “Apaan sih, Kal, lo ketawa mulu dari tadi,” Tasya protes tapi ujung bibirnya ikut terangkat.

Bahu Calla semakin bergetar setelah di protes. Rambutnya ikut berayun. “Ketawa doang padahal, lagian kocak.” Lengannya yang terlipat diatas lutut ikut bergetar sesekali.

“Justru itu! Lo nggak ngomong tapi nyindir!”

Feli terkekeh. “Emang spesialis dia,” tukasnya. Alisnya naik ketika gadis itu melihat Calla yang tertawa menatapnya.

Tasya memasang wajah sebal. Gadis itu mendengus tapi lebih seperti pura-pura. Tangannya yang sepat bersedekap, kini kembali turun. Lebih sering memainkan botol Feli yang ia ambil. “Tapi gue serius tau, jarang ada yang kayak gitu.” Nada suaranya lebih turun.

“Kayak gimana?” Kepala Feli agak menyentak. Tubuhnya kini bersandar pada tiang kayu, tangannya bersedekap. Wajah menyebalkannya kembali muncul.

“Ya... Ya gitu sih. Biasa aja tapi enak—”

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang