misaligned ~29

82 27 74
                                        

━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━

Angin sore yang sejak tadi terasa panas kini hanya menjadi sebuah sisa pada ujung rambut Tasya. Pintu rumahnya dibuka dengan dorongan kecil dari pundaknya.

Tidak dikunci.

Seperti biasanya.

“Udah pulang?” Suara dari dalam terdengar datar. Tasya tidak langsung menjawab. Ia melepas sepatunya asal di dekat rak— tidak benar-benar merapikannya. Tasnya ia jatuhkan pelan pada kursi di ruang tamu, tubuhnya kemudian ikut menyusul duduk bersandar di sampingnya.

“Iya.”

Selesai.

Tidak ada lanjutan. Hanya suara dari televisi yang masih berisik dengan menampilkan acara yang tidak benar-benar ditonton.

Tangan itu meraih gelas, menjangkau wadah air lalu menuangkan isinya kedalam sana. Ia mengangkatnya bukan untuk diminum. Hanya memutarnya sedikit, memperhatikan air yang bergerak seirama dengan gerakan memutarnya.

Gadis berambut pendek ini bangkit dengan langkah yang akan membawanya pada ruangannya. Kamar. Sesuatu yang ia tuang di dalam gelas akhirnya ia tenggak setengah sebelum setelahnya ia ajak menuju kamar.

Pintu di tutup pelan membuat suasana sunyi seketika singgah. Lampu kamarnya belum menyala.

Langit di luar sana sudah hampir berganti warna. Sisa jingga masih menerobos masuk lewat jendelanya yang tidak benar-benar tertutup. Tapi cahayanya tidak cukup untuk menerangi isi kamarnya sekarang.

Bunyi duk dari gelas yang ia letakkan di atas nakas sedikit mengambil perhatiannya. Suara itu terlalu keras untuk ukuran hanya sekedar menaruhnya.

Tasya tidak langsung masuk lebih dalam. Tasnya jatuh dari pundak yang melemas karena ia bersandar sejenak pada pintu. Kepalanya menunduk. Nafasnya terasa berat untuk sebentar.

Tangannya terangkat menyentuh perlahan bagian dadanya sendiri. Bukan sesak.

Bukan juga sakit.

Hanya... rasa tidak nyaman.

Tasya beranjak — mendorong dirinya menjauh dari pintu dengan berjalan pelan kearah kasur. Ia duduk dengan kepala menunduk. Sebagian rambutnya jatuh membuat beberapa diantaranya menempel pada wajahnya. Kedua tangan di samping tubuhnya bertumpu dengan jari-jari yang menekannya tanpa sadar.

Bayangan itu muncul lagi.

Cara laki-laki itu berdiri. Caranya menahan bahu gadis itu. Cara ia menunduk seolah tengah memastikan sesuatu. Itu terlalu dekat.

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang