"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
YAYYY sebenernya chap ini yang paling aku tunggu' bangettt wkwkwk, karna bakalan ada sesuatu yang 'uwaaaa' gituuu yang naik kapan KALEL smaa TATAN, yok yok di baca pelan' yokk😋
enjoy your reading bubbb
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
Koridor kelas sepuluh sepi karena jam pelajaran kedua sudah di mulai hampir sepuluh menit lalu. Hanya ada suara angin dan sepatu beberapa anak yang masih punya kepentingan di luar kelas. Calla membawa dua buah buku paket dengan judul besar pada sampul bukunya. KIMIA.
Langkahnya berbelok sampai sebuah tangan besar lebih dulu menahan pundaknya.
Duk
Buku itu jatuh setelah menabrak bagian ulu hati laki-laki di depannya. “Maaf.” Tapi tubuhnya lebih refleks mundur dengan kepala menunduk, kakinya akhirnya tertekuk untuk meraih buku yang jatuh di dekat sepatu hitam itu.
“Enggak—”
“Aw—” Gadis berjepit rambut ini berdesis sebelum setelahnya mendongak. El tengah setengah membungkuk hingga kepala mereka akhirnya berbenturan. Jarak itu dekat untuk sebuah tatapan dua detik sebelum El mundur lebih dulu.
Setelah menumpuk kembali bukunya, Calla menegak. Langkahnya hampir berlanjut hingga El lebih dulu mengehentikannya.
“Kal.” Bahu itu di tahan sebentar saat matanya menatap Calla kemudian menatap tangannya lagi. Ia melepaskannya pelan, bukan sesuatu yang spontan, lebih seperti sadar bagaimana seharusnya.
“Iya?”
Jeda aneh menghampiri keduanya. El yang menatap tapi lebih seperti mencacat sesuatu yang ia lihat di depannya dan Calla yang lebih sering membuang pandangan setiap setelah menangkap El yang masih menatapnya. Bibir itu terbuka, menata, menyusun sesuatu yang akan keluar.
“Lo berubah ya,” ucap El, lebih seperti penyataan yang ia tangkap yang membuat Calla memiringkan kepalanya sedetik sebelum kalimat El kembali menyusul, “jadi— susah di temuin.”
“Emang nyariin?” Calla mendongak memaku tatapannya pada El yang bergeming. Laki-laki itu belum menjawabnya atau mungkin tidak. Dua kata dengan kemungkinan yang akan bergeser jauh. “Bukannya kamu yang lebih sering ngilang?”
Kata itu jatuh dengan nada seperti orang yang benar-benar bertanya tapi dengan makna sebuah tuduhan yang bisa dibuktikan kebenarannya.
“Jadi kalau gue diem sedikit, lo langsung sadar?” El memutar balik pertanyaan membuat Calla menaikkan alisnya.