"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
BRAKK
El menggeleng kecil kemudian bergeser dari posisinya. Spion motornya patah setelah dirinya jatuh bersamaan dengan kuda besi itu. Laki-laki ini terisak pelan meredam laju nafasnya yang kian memburu.
Tangan kirinya berdarah karena sempat terhimpit trotoar dan gas motornya sendiri. “Tolol banget,” desis pelan itu bersamaan dengan gerimis yang mulai jatuh.
El mencoba berdiri dengan sisa tenaganya. Mengangkat motornya lagi dengan sesekali meringis kecil karena luka tangannya, hanya luka kecil. Ibunya mungkin lebih kesakitan lagi. Gerimis yang jatuh semakin banyak seperti seolah sedang membersamai laki-laki ini akan kalutnya.
Ia harus cepat. Sudah hampir dua jam sejak pesan dari rumah sakit masuk ke dalam ponselnya. Sudah ulangan yang entah hingga membuatnya jatuh dari motor.
Tangan kiri El meneteskan air yang keruh, bercampur dengan kentalnya cairan merah dari sana. Tapi apa pedulinya. Ia tetap melajukan motor itu dengan tergesa seperti melupakan kejadian yang baru menimpanya tadi.
Setelah memarkir sedikit asal, El melepas jaketnya. Setengah badanya basah karena hujan deras tapi seluruh pikirannya hanya tertuju pada Yana dengan bagaimana kondisinya saat ini.
Kaki jenjangnya hampir melewati pintu hingga seruan seseorang mengehentikan langkahnya. Tangannya berayun.
“Lo basah, nggak bisa masuk seenaknya,” mata lentik itu sesekali menyipit seiring gerakan mulutnya yang berbicara di balik masker. El mengangkat sebelah alisnya. Tangannya di tahan ketika dirinya hampir melangkah lagi. “Tunggu, gue ambil ganti.”
Dengan tergesa, laki-laki dengan pakaian putih-putih itu meninggalkan El yang diam menepi. Pikiran kalutnya sejenak teralih dengan langkah buru-buru dia yang datang dengan setelan pakaian di tangannya. Pakaian rumah sakit tentu saja.
Kedua tangan El menengadah tapi sedetik kemudian laki-laki di depannya menarik kembali. Dia memperhatikan tangan El yang basah dengan luka kebiruan. “Ta—”
“Nggak usah ribet. Thanks.”
Nafasnya berhembus kemudian menyerahkan pakaian itu. Setelah mengganti pakaiannya, langkah El langsung membawanya pada ruangan Yana. Laki-laki ini mengintip sebentar.
“El.” Tubuhnya berbalik. Nada seorang dokter yang memanggilnya kini membuat dadanya terasa semakin sempit.
Hening. El masih menunggu dokter yang terlihat masih menimbang kata-katanya sejenak. “Saya perlu menjelaskan kondisi ibu kamu sekarang.”
Tubuh laki-laki ini menegang. Tangan kirinya yang terluka ikut mengepal—menekan lukanya lebih keras lagi.
“Kondisinya menurun sejak beberapa jam terakhir,” dokter itu menjeda. Pandangannya beralih pada ruangan Yana yang tertutup rapat. “Peradangannya semakin berat.”
“Y-yang di paru-paru?” Suaranya gemetar.
“Iya. Karena peradangannya yang semakin parah, cairan di paru-parunya semakin banyak, itu penyebab beliau tadi sempat sesak nafas... Lagi.”
El bungkam. Otak yang biasanya selalu bisa diandalkan kini masih mencerna setiap-setiap kata yang terdengar telinganya. Kalimatnya berputar, berantakan hingga laki-laki ini hanya menyimpulkan jika kondisi ibunya semakin parah.
“Alat bantu pernafasan hampir tidak berfungsi karena kondisi tubuh ibu kamu.”
“Maksudnya?” Tidak. El tidak sebodoh itu untuk tau bagaimana jelasnya. Dirinya hanya berharap telinganya sedikit bermasalah dengan apa yang ia dengar.
“Kondisinya kritis.”
Kritis.
Lagi-lagi El merutuki kepalanya yang sekarang mengulang kalimat mengerikan itu. Ia menunduk sebentar sebelum sesuatu terlintas cepat di kepalanya. “Masih ke-ah, ada, kemungkinan sadar, kan?”
Dokter itu terlihat berfikir. Tangannya berpangku di depan tubuhnya kemudian mengangguk kecil. “Kami masih melakukan semua yang bisa di lakukan,” katanya perlahan. “Tapi penyakit autoimun yang sudah menyerang organ seperti ini memang agak sulit di kendalikan.”
El menoleh kearah ruangan Yana kemudian menunduk. “Kamu bisa menemaninya, ada kemungkinan beliau masih bisa merespon suara orang terdekat.”
Ia mengangkat wajahnya kemudian mengangguk. Dokter itu menepuk bahu El—tersenyum kemudian merajut langkah meninggalkan El yang bahunya merosot seketika.
Tubuhnya terduduk di kursi besi rumah sakit. Tangan kirinya bengkak dan terdapat noda darah basah karena sempat ia tekan. Koridor yang tadi sempat terasa tegang sekarang kosong. Seperti dingin yang kini memeluknya.
Bagian mana yang ia tidak mengerti?
Kekosongan itu membuat El mencerna dengan baik kata-kata yang sejak tadi hanya berulang. Ia mendongak, bimbang antara akan masuk atau menunggu saja seperti yang dirinya lakukan sekarang.
“Kemungkinan beliau masih bisa merespon suara orang terdekat.”
El mendorong pintunya perlahan. Melangkah dengan hati-hati kemudian dirinya memilih berdiri di ujung brankar, dekat dengan kaki wanita paruh baya itu. Ia menahan nafas ketika melihat dada Yana naik turun. Badannya terlihat jauh lebih kurus dari terakhir El menjenguknya bersama Calla. Ah gadis itu.
Bahu Yana naik turun meski sudah dibantu alat pernafasan, ia masih terlihat kesusahan. Bahunya akan terlihat naik ketika mengambil nafas.
“Kondisinya kritis.”
“Ibu sembuh ya?” Matanya berkedip sekaligus membawa turun cairan bening dari sana. “Gue penasaran banget reaksi Vano kalau liat ibu.”
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
gila banget, padahal sehari bisa selesai tapi malesnya nauzubillah bangett, tapi ga apa deh eh eh ada yang di tandain, penasaran gaa👀 enjoy guyss, tungguin next chapter okeyy —naa🙆🏻♀️