misaligned ~11

176 77 56
                                        

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

“Maksudnya—”

“Kaki lo udah sembuh?” El memotong. Kakinya kembali melangkah begitu juga Calla di sampingnya. Alis gadis itu sempat tertaut mendengar kalimat yang El ucapkan tadi. El menoleh ke samping, menampakkan Calla yang mengangguk. “Terapis kemarin langganan ayah,” sambungnya.

“Terapis?” Calla mendongak.

“Yang pijatin kaki lo, namanya mba Nanda.” El berhenti tepat di samping motornya, menyodorkan helm milik Calla yang tadi ia pinjam.

“Kamu yang panggil?” Calla membenarkan posisi tasnya kemudian menerima helm itu. Kening gadis ini masih terlipat sedari tadi.

“Tante Mila.”

“Bibi Mila. Kok—”

“Dulu beliau serumah sama gue.” El menaiki motornya. Laki-laki ini menyalakan mesin tapi tidak langsung menarik gas. Calla belum naik.

“Apasih El, kok muter-muter.” Calla menghentakkan kakinya membuat El terkekeh kecil.

“Udah naik, gue ada janji sama Zeno.”

Hampir sepanjang jalan Calla diam, seperti masih mencerna setiap-setiap yang El ucapkan tadi. Tangannya kini berpegangan pada sisi seragam laki-laki itu, keduanya. Gadis itu baru sadar sesuatu.

El melihat Calla dari spion yang seperti orang bingung itu memelankan laju motornya. “Lo kenapa?”

Calla menoleh juga pada spion. “Tadi Zeno ada kasih bunga, lupa.”

Mata keduanya bertemu sesaat. Hanya dari spion, tapi cukup membuat El lupa tangannya tengah memegang gas. “Kok bisa lupa?”

“Kayanya ketinggalan di tukang sate. Jangan bilang Zeno ya.. eh tapi, nggak mungkin bilang ya nggak?”

El terkekeh melihat jari telunjuk Calla yang di letakannya pada dagu. “Iya nggak bilang,” putus El. Calla jelas tidak tau jika El yang memberikannya pada seorang pemuda di dekat penjual sate. Gadis itu jelas tidak tau.

“Kamu aneh.”

“Iya.”

Calla tertawa. Ia turun dari motor El yang berhenti di depan pagar rumahnya. Berbeda sekali interaksi tadi pagi dan sore ini. “Thanks El.”

El mengangguk, keduanya saling hening sejenak sampai El menunjuk kepalanya. “Helm.”

“Astaga lupa.” Buru-buru Calla melepas benda yang terpasang di kepalanya- memberikannya pada El. “Haha.. thanks lagi.” Mengangguk kecil, El kemudian menarik gas pelan. “Hati-hati.”

Hati-hati.

Entah kenapa pesan Calla itu membuat El tersenyum di balik helmnya. Setiap hilang sebentar, kepalanya akan mengulang pesan itu kemudian senyumnya akan terukir lagi. El menggeleng. “Nggak waras.”

Setelah mengembalikan helm pada tempat sewa, El hanya pulang untuk mandi dan ganti baju kemudian membawa motornya pada warung kopi kecil di samping jalan. Zeno tengah duduk sambil bermain ponsel.

El mengangkat kakinya melewati kursi kayu panjang yang akan jadi tempat duduknya. “Tugas gue banyak banget,” ujarnya setelah duduk.

“Sama.” Zeno masih fokus pada ponselnya.

“Berarti nggak pulang malam?”

“Liat nanti deh, gue lagi males di rumah.”

“Kenapa deh, haha...”

Zeno mendongak. “Sialan lo, El.” Dirinya kemudian tertawa juga. Ponselnya ia letakkan setelah minuman yang ia pesan datang. “Lo tau Bu May, nggak?” Setelah tersenyum pada pegawai warung, Zeno mengambil segelas kemudian ia letakkan tepat di depannya. Matanya masih menatap ke arah El.

“Kenapa?”

“Gue di tandain jir.” Zeno tertawa, “Gara-gara penggaris dia gue umpetin biar nggak belajar MTK,” imbuhnya. Setelahnya tawa menghampiri keduanya.

“Sukurin.” El mengambil segalas juga, meniupnya pelan.

“Kasus kemarin gimana?”

El urung meminum air itu, dirinya mengedikkan bahu. “Gue masih jaga-jaga walaupun mereka kaya udah aja, nggak permasalahin lagi,” jawab El sekenanya. El juga tidak tau bagaimana kalau kasus itu dibahas lagi.

Zeno faham, dirinya mengangguk. Tangannya memutar-mutar sebuah roti yang di sediakan di tiap meja. Kepalanya miring. “Yang nyiptain kerupuk siapa ya?” Tapi sebentar kemudian Zeno kembali duduk tegak. Roti itu ia letakkan kembali pada tempatnya. “Menurut lo, Kalla mulai luluh nggak?”

El yang sedang minum berusaha tidak tersedak. Jelas sekali Zeno sedang menunggu jawabannya. “Ya nggak tau, lo yang dekat bambang.”

Zeno terkekeh tapi tetap tidak puas dengan jawaban yang di berikan El. “Menurut lo lagi, Kalla itu suka cowok yang gimana?” Jemari Zeno saling bertautan. Sikunya bertumpu pada meja. “Lo tau kan gue kalau suka orang nggak bakal setengah-setengah.”

Dirinya juga, bedanya ia memilih diam. El mengedikkan bahunya. Pikirannya malah beralih mengingat bagaimana Calla berpegangan pada sisi-sisi seragamnya. “Yang biasa aja, yang nggak maksa mungkin.” El mengambil sepotong roti di depannya. “Atau tergantung orangnya kali,” imbuh El.

Zeno menghembus nafas kasar. “Biasanya cewek nggak selama ini.” El menoleh menangkap bagaimana Zeno terlihat sedikit frustasi. “Gue tau kebanyakan orang nganggap gue nggak serius, tapi kalau sama dia beda.”

“Nggak ada yang bisa maksa perasan, Zen.” Setelahnya El terkekeh. “Lagian baru sebentar.” El beralih pada rotinya, mengunyahnya sepotong demi sepotong. Tapi, bagaimana kalau Zeno tau El sering dengan Calla?

“Iya santai, yang penting gue duluan.”

El mengernyit. “Make lo Zen. Lo harusnya ubah persepsi lo itu tentang pasangan, perjuangin cewek yang lo suka itu bukan lomba, bukan masalah dulu-duluan, tapi siapa yang paling keliatan mau buat berjuang.” Keningnya masih terlipat.

“Eh kenapa?” Zeno yang merasa heran El menentang keras-keras opininya, akhirnya memilih bertanya.

“Ya lo ubah pola pikir lo.” Karena dia bukan ajang perlombaan.

Zeno aneh menangkap bagaimana dada El terlihat naik turun mengatur nafas. “Iya-iya, lagian gue pengen serius kali ini.” Atau nyusahin diri sendiri.

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

DIKITTT?🙇🏻‍♀️

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang