"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Perasaan datang tanpa permisi, dan yang membuatnya perih adalah saat kita sadar, ia berlabuh— di tempat yang tak pernah dimaksudkan untuknya. _—
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
“Gue nggak masalah kok. Cuma, lain kali bilang aja.”
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
Zeno berlari kecil setelah memarkirkan motornya. Tasnya membentur-bentur punggung karena gerakannya membuat suara gesekan barang yang berada di dalamnya beradu saling bertabrakan. Langkahnya melambat, stabil dalam sedetik ketika tubuhnya tepat berdiri di samping seorang gadis dengan jepit rambut.
“Hai, Kal,” sapanya. Meski ada sesuatu kecil yang sedikit membuatnya berpikir dua kali lebih dulu, tadi. Tapi akhirnya keluar dengan nada seperti biasa seperti memang seharusnya. Gadis di sampingnya mendongak dengan menarik ujung bibirnya.
“Hai jugak, Zen.” Pegangan pada tali tasnya mengerat membuat Zeno yang memperhatikannya merasa aneh.
“Kenapa?”
“Enggak kenapa.” Setelah kalimat itu turun Zeno tidak bertanya lagi, tahu jika tidak semua hal harus diceritakan meski dirinya penasaran. Rambut Calla berayun membuat sebagian menempel pada pipinya.
Dan pertanyaan di kepala Zeno melintas begitu saja. “Gue liat Tasya kemarin kayak nggak mood.”
Calla berhenti mendadak hingga Zeno berhenti sedikit lebih di depannya. Anak laki-laki itu berdiri— tanpa berhadapan tapi cukup. “Gue nggak tau.”
“Gue nggak tau.”
Asing.
Entah menyimpan apa sampai Zeno bergeming karena pengakuan itu. Calla melanjutkan langkahnya tanpa Zeno. Bukan membeku, hanya belum sepenuhnya mengerti apa yang ia dengar. Netranya mengikuti langkah Calla yang bukan ragu tapi tidak sepenuhnya yakin.
Ada yang aneh.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
El di gedung kelasnya. Berdiri di luar kelas di bagian atas— berpegangan pada tembok pembatas yang sepinggangnya, memperhatikan aula, lapangan, dan interaksi Zeno dan dia. Yang lebih sedikit memberikan rasa lain yang memang seharusnya ada. Karena pilihannya.
Melirik arloji dan melihat, menunggu bel masuk yang akan berbunyi sekitar tiga menit lagi. Matanya beralih.
Sekali.
Dan lagi.
Hilang. Ketika pertama dan membuatnya harus memastikan lagi tapi hilang pada dan lagi. Matanya mengernyit merasa aneh dengan dirinya sendiri. Kepalanya memberikan lelucon yang tidak lucu membuat bahunya bergetar sekali tanpa ada tawa yang keluar.