"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
“Menurut kalian, OSIS itu buat siapa?”
Sang moderator tersenyum ketika mengarahkan pertanyaan pada tiga pasang kandidat yang duduk tenang pada kursi di aula. Bagian paling depan yang lebih tinggi. Mirip seperti panggung dengan kerangka yang tidak terlalu mendetail tapi cukup untuk disebut panggung sederhana.
Zeno yang duduk tenang mengambil mic hampir bersamaan dengan tiga pasangan lainnya. Ia menunduk— menoleh sebentar takut-takut ada yang menyelanya. Berdehem pelan sebelum mic itu benar-benar ia nyalakan. “OSIS itu diadakan untuk seluruh siswa, biar sekolah nggak membosankan.”
Beberapa ada yang menganggukkan kepalanya membuat Zeno sebagai kandidat ketua OSIS itu tersenyum.
“OSIS itu wadah buat semua suara, termasuk mereka yang jarang kelihatan.”
Moderator beralih dari Zeno menjadi pada El. Kandidat nomor dua dengan El yang dicalonkan menjadi ketua OSIS oleh beberapa guru. Kandidat nomor tiga mengambil mic juga tapi kemudian ia serahkan pada rekan di sampingnya— Selatan.
“OSIS itu bukan cuma untuk yang aktif, tapi yang memang mau menjalankanya dengan benar.”
Beberapa orang bertepuk tangan. Sebagian mengangguk setuju, sebagian lagi hanya tersenyum tipis.
Lapangan siang ini tidak sepenuhnya tenang, lebih seperti penuh yang terarah. Hawa panas dari matahari dan dari kursi-kursi yang penuh hampir menjadi satu-satunya rasa yang tetap. Suara bisik-bisik dari siswa bercampur dengan suara panitia yang sesekali membenarkan barisan atau sekedar mengatur tempat duduk.
Di depan, tiga pasang kandidat duduk.
Zeno dengan kandidat di sampingnya sebagai wakil. El dengan kandidat di sampingnya. Dan kandidat ketiga dengan Selatan sebagai wakilnya.
“Selanjutnya,” suara moderator terdengar lagi di mic, “kita akan masuk ke sesi tanya jawab pertanyaan yang akan di bacakan masing-masing perwakilan kelas,” sambungnya. Beberapa siswa terlihat lebih fokus, terlihat dari duduk mereka yang agak menegak. Beberapa masih santai tapi dengan pandangan yang lurus pada masing-masing pasangan kandidat di depan.
Salah satu perwakilan kelas berdiri dengan mic di tangannya yang agak gemetar. Seorang gadis dari kelas yang sama dengan El dan Selatan.
“Kalau program kalian gagal, apa yang akan kalian lakukan?”
Beberapa siswa menyoraki pertanyaan itu seperti bom yang akan meledak jika jawaban salah satu kandidat kurang memuaskan. Lagi-lagi Zeno mengambil mic-nya lebih dulu. “Kita akan evaluasi dan kita bakal bikin acara yang lebih seru lagi. Yang penting, jalan dulu.”