"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
Motor El melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, menerobos hiruk pikuk yang mungkin beberapa menit kemudian bisa menjadi kemacetan panjang. Ia dengan lincah menggerakkan stang motornya menyalip sebagian pengendara yang menurutnya menghalangi jalan.
Laki-laki ini memutar. Rumah sakit berlawanan arah dengan sekolahnya, hanya demi gadis yang saat ini dirinya bahayakan.
El ingat jelas bagaimana perdebatan antara perasaan dan egonya. El tertahan. Saat Adrian mengalami kecelakaan, laki-laki tau persis bagaimana semua itu terjadi, bagaimana rencana itu tersusun, dan bagaimana dirinya bisa tau bahwa ternyata Adrian adalah ayah dari Calla.
“Sttt.”
Ia menepikan motornya ketika kepalanya terasa pusing. Entah sejak kapan masalahnya jadi runyam. Semua seperti tengah berbondong-bondong datang untuk menjatuhkannya.
Tangan itu menyentuh kepala yang nyerinya sudah sedikit berkurang. Tremor kecil tidak membuat El membuang waktunya lebih lama. Ia tetap melajukan motornya menuju sekolah.
Lingkungan itu sudah ramai tapi bukan karena ribut seperti kejadian kemarin. El turun dari motor dan langsung di sambut oleh Zeno yang menghampirinya di parkiran.
“Gue kira lo absen bro,” gumam Zeno sambil menepuk pelan pundak El.
“Lo sekelas sama Kalla kan? Gue titip absen buat dia.”
“Hah—” Zeno kaget tapi kalimatnya berhenti di ujung lidah karena El lebih dulu berlalu sebelum kalimatnya selesai. “EL!” Laki-laki itu berbalik. “Absen—”
“Ya, apapun terserah lo.”
“Lah, aneh banget bocah.” Laki-laki ini menggaruk rambutnya, merasa sedikit kesal dengan sikap sahabatnya itu. Zeno merogoh saku celananya meraih ponsel yang tersimpan di sana.
Berjalan menuju kelasnya. Sesuatu di beranda Instagram mencuri perhatian Zeno. Sebuah user dengan angka-angka tidak jelas dan tanpa foto profil memosting sebuah foto bocah laki-laki dengan wajah yang di coret-coret. Bocah itu terlihat kurus dengan warna kulit yang agak gelap.
Foto itu menuai banyak komentar, ada yang kasihan, ada yang menanyakan siapa orang dibalik foto itu.
“Apasih nggak jelas, kaya gitu aja rame—”
“ZEN!”
“APA?”
Gadis dengan seragam yang sama menghampirinya. “Lo tau Kalla nggak?”
“Absen.”
“Yahhh.” Bahu gadis itu sedikit melemas, senyumnya juga sedetik pudar. “Gue mau bilang makasih padahal sama mau ngasih titipan kue dari ibu.” Itu Tasya. Dia membawa serta Feli di sampingnya.
“Dia absen kenapa?” Kali ini Feli yang bertanya.
Zeno mengedikkan bahu. “Gue aja di kasih tau El.”
“Kak El?” Tasya memiringkan kepalanya, beda halnya dengan Feli yang entah berekpresi apa.
“Iya, tapi dia bilang absenin apapun. Gue rasa dia juga nggak tau Kalla kenapa, ah, atau mungkin dia emang dapet titipan pesan juga kaya dia ke gue.”
Tasya dan Feli saling pandang. Zeno melihat Feli yang sedikit meringis. “Eh gue duluan ke kelas ya.” Tasya kembali buka suara.
Zeno mengangguk saja ketika dua gadis itu berlalu. Sepertinya ia urung menuju kelasnya, dan sekarang langkahnya malah menuju kantin di dekat gerbang.
Walaupun belum waktu istirahat, kantin ini ramai. Ada yang makan ada juga yang sekedar duduk entah menunggu apa. Mungkin mereka sepertinya yang mau-mau saja tanpa ada tujuan.
Lima—sepuluh menit berlalu. Bosan dengan kegiatannya, Zeno akhirnya bangun dan merajut langkah menuju kelasnya. Di depannya ada gadis dengan ransel biru, rambutnya terikat. Seperti Calla. Tapi tidak ada jepit rambut di sisi kepalanya.
Langkah gadis itu pelan tapi bukan seperti santai, seperti nyawanya belum penuh sepenuhnya. Zeno menjaga langkahnya agar tidak mendahului.
Tapi gadis itu berbelok menuju kearah kamar mandi, membubarkan opini-opini yang baru Zeno buat. Ia berdecak. “Lagian Kalla absen.” Gumamnya pelan yang hampir seperti bisikan.
Bel masuk akan berbunyi lima menit lagi. Tepat ketika Zeno duduk dan sibuk dengan permennya, seorang gadis duduk di samping tempat duduknya. Itu Calla. Ekspresi wajah Zeno tidak bisa bohong kalau dia terkejut. Tapi Calla hanya memasang wajah datarnya.
“Kal?”
“Hem?” Gadis itu menoleh sejenak. Di telinganya terpasang earphone yang Zeno pikir terputar sebuah lagu disana, tapi benda itu hanya Calla pasang tanpa memutar apapun.
“Kata El, lo titip absen.” Zeno menghadap Calla sempurna.
“Aku ngerasa ada yang kurang, apa ya?” Calla mengetuk dagu seolah berfikir. Anak rambut gadis itu tertiup kipas dan turun kemudian menghalangi sedikit pandangannya. “Jepit rambut.” Lagi-lagi Calla sibuk. Gadis itu merogoh saku seragamnya, membuka tas nya, dan memeriksa laci mejanya. Tapi nihil.
“Kal?”
“Lo ada nggak?”
Mata bulat gadis itu berbinar tapi malah memunculkan kesan bingung dari lawan bicaranya. Zeno menggeleng, kembali menyimpan permen pada bungkusnya. Kegiatan itu teralihkan ketika Calla kembali memeriksa tas nya. Gadis itu seperti sangat berharap ada jepit rambut yang mungkin terselip di dalamnya.
“Lo sesuka itu sama jepit rambut?” Zeno bertanya. Kepalanya miring bertumpu pada tangan yang juga bertumpu pada mejanya. Detik berlalu, tapi Calla seolah enggan menjawab pertanyaan laki-laki ini. “Kalla--”
“Ketemu satu Zen.” Calla mengangkatnya, menyunggingkan senyumnya. Zeno juga. Walaupun ia merasa sikap Calla aneh, laki-laki ini tetep ikut tersenyum dengan tingkah lucu Calla. "Mau bantuin aku?"
“Hah? ...pasangin?”
Zeno sedikit mematung ketika Calla mengangguk cepat. Hanya sebentar, sepersekian detik sebelum kepala Calla agak menunduk dan jepitan itu kini berpindah di tangan Zeno. Ia mulai merapikan anak-anak rambut Calla dan menjepitnya perlahan. Setelahnya pandangan Zeno tidak lepas dari gadis itu. Senyum keduanya merekah bersamaan.
“Lo lucu banget ya ampun.”
Calla meraba bagian sisi kepalanya. Senyum yang terukir itu tak kunjung pudar. “Makasih Zen, aku dari dulu nggak bisa pakai jepit rambut sendiri,” ungkap Calla spontan.
“Iyaa? Jadi yang pakaikan siapa?”
“Bibi atau nggak aku lepas sama sekali.”
Zeno mengernyit. Nggak di lepas sama sekali?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.