misaligned ~9

178 83 48
                                        

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

El merasa kepalanya sakit lagi. Nafasnya pendek-pendek, dan matanya menjadi sedikit berkunang. Ia memilih menepi setelah merasa tidak bisa mengontrol dirinya. Tangannya memegang gas motor sedikit lebih erat dari seharusnya.

Sepersekian detik El memilih melepas helmnya juga. Dadanya naik turun memompa oksigen yang hanya masuk sedikit-sedikit pada paru-parunya.

“Sialan,” maki El pada dirinya sendiri dengan berusaha mengatur nafas. Tangannya ikut gemetar. Sensasi itu akan menyerangnya setiap El berusaha menahan. Dan sekarang juga.

Dirinya memilih turun— membeli minum di minimarket. Tapi tiba-tiba suara motor nyaring lewat di depannya, El melihat seorang nenek yang membawa bunga kaget, keranjangnya hampir jatuh tapi bunganya sudah berhamburan.

Beberapa orang hanya melihat sejenak kemudian kembali sibuk pada kegiatannya. El yang posisinya tidak jauh dari nenek itu refleks berlari kecil. Ia berjongkok-memunguti bunga-bunga yang berserakan.

Nenek itu tertawa kecil. “Aduh, makasih ya nak.”

El mendongak dan mengukir senyum tipisnya. “Iya, sama-sama.” Ia berdiri dan menyerahkan bunga-bunga itu.

Sebelum dirinya sempat pamit, nenek itu mengambil satu ikat bunga yang masih utuh dari keranjangnya-menyelipkannya pada tangan El.

“Buat kamu,” katanya.

El mengangguk lagi. “Makasih.” Laki-laki ini membungkuk sejenak kemudian berjalan kearah motornya lagi dengan membawa seikat bunga itu.

Entah akan dia apakan.

Motornya mulai masuk ke area sekolah. Zeno tengah duduk di motor dengan sebuah permen diantara bibirnya. Ia tersenyum mengangkat satu alisnya. “Tumben.” Maksudnya, tumben El datang lebih siang dari biasanya.

“Tadi ada kejadian dulu,” tukas El. Dirinya mematikan mesin motornya. “Bantuin nenek-nenek yang bunganya jatuh,” sambungnya.

“Gimana?”

“Keranjang bunganya jatuh jadi gue bantuin.” El mengangkat bunga itu, mengulurkannya pada Zeno. “Nih, buat lo aja. Mumpung nggak ada yang liat.”

Zeno terkekeh kecil kemudian melempar sedotan permen itu ke arah El. Dua tangannya mengadah menerima bunga yang laki-laki itu berikan.

“Gue di kasih, terus—”

“Makanya punya cewek El. Masa gue yang di kasih beginian.”

“Sialan.” Dua remaja itu terkekeh. Bunga itu sudah berpindah pada tangan Zeno sekarang. “Nonchalant.”

“Yeleh, lo masih hutang penjelasan.”

“Aman, nanti kalau udah, gue jelasin.” El mengangkat dua alisnya. Senyumnya masih tersisa. “Gue duluan ya, mau nyiapin mental OSIS datang jam segini.”

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang