misaligned ~16

150 61 52
                                        

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

“Gue duluan ya Kal, makan yang bener,” pinta Zeno seraya membereskan buku-bukunya. Tangannya terangkat menepuk pelan kepala Calla kemudian berlalu, seolah tidak perlu tahu reaksi siswa yang masih di kelas atau bahkan reaksi Calla sendiri. Tasya di depan sana berbalik kemudian tertawa. Gadis itu berdiri menghampiri Calla.

“Gila tu anak, lo pasti salting banget, Kal.”

Calla menggeleng. “Nggak—”

“Bentar lagi aa Zeno bakal sibuk terus haduhh.” Tasya tertawa bersama Feli, kegiatan meledek Calla seperti kapan hari lalu. “Suruh makan yang bener tadi, kantin yuk.” Tasya mengangguk di sela senyumnya.

Felicia menarik tangan Calla membuatnya berdiri. “Udah ayok, iya iya nggak salting.” Gadis yang di tarik itu terkekeh kecil. Ketiganya berjalan beriringan, topik-topik kecil terlempar, kekehan, dan sedikit membicarakan orang yang menurut Tasya agak berbeda.

“Lo tau nggak si murid barunya?” Feli bertanya, kepalanya sedikit miring.

“Dengar, namanya Daka bukan?”

“Daka atau daki? Mukanya juga nggak beda jauh,” Tasya menyahut membuat Calla dan Feli tertawa. “Disana disana!” Gadis berambut pendek itu menunjukkan tempat duduk di bagian dekat kipas. Ketiganya menarik kursi hampir bersamaan.

Tapi Feli bangkit lagi. Gadis itu berjalan memesan makanan setelah bertanya apa-apa saja yang akan mereka makan. “Lo ngeh nggak si kalau tadi El, kaya... Nggak fokus gitu?” Tasya memulai topik, bukan Calla tergentnya, tapi Feli.

Gadis yang baru duduk itu mengernyit. “Lupa tanggal doang kali, mukanya biasa aja.”

“Nggak lupa tanggal doang astaga, map yang dia pegang gemeterannn.” Tasya menoleh ke arah Calla. “Lo perhatiin nggak tadi?”

Calla mengangguk. “Sedikit.”

“Tukan. Ah lo mah yang diliatin mukanya doang, terus sama otaknya bilang suruh lari terus peluk.”

Felicia terkekeh, tapi pikiran itu memang mampir di kepalanya.

Di tengah percakapan mereka, Calla mendongak kebelakang. Ada seseorang yang baru saja menyenggol kursinya. Tasya dan Feli mengikuti arah pandang Calla. Gadis itu diam sejenak.

“Eh, sorry,” biasnya. Setelahnya berlalu duduk di seberang meja mereka.

“Siapa si? Nggak pernah liat tau,” tanya Tasya sambil mengambil nampan makanan yang baru datang. “Makasi bude.” Tasya mengangguk tersenyum, pandangannya kembali beralih pada murid laki-laki di belakang Calla yang juga duduk membelakanginya.

“Temennya Daka kali.”

“Daki?” Tanya Calla pelan. Felicia tertawa sampai terbatuk. Tasya tersenyum menggeleng.

“Nggak lah, Daki dari mananya? Wong cakep gitu.” Gadis yang duduk di depan Calla mulai meniup makanannya.

Felicia menepuk pundak Calla. “Makan, nanti gue yang laporan ke aa Zeno kalau lo makannya nggak bener.”

Gadis ini menggeleng, bukan tidak ingin laporan itu yang Zeno dapat, tapi kenapa dengan tingkah mereka.

“Kal, menurut lo, Zeno itu gimana?”

Uhuk

Bukan Calla, Felicia yang tersedak. Tangannya buru-buru meraih es teh yang terhidang di depannya, menegakkan hingga sisa separuh. “Lah, lo kenapa njir?”

“Kaget ahahahaha..”

“Menurut aku Zeno baik si—”

“Tapi....?”

“Nggak tapi. Dia baik, keliatan tanggung jawab juga sama tugas yang di kasih ke dia.”

Tasya mengerlingkan matanya, senyumnya menyeringai. “Lo mulai suka yaa...”

“Ng—”

“Sipp yang udah distribusi bunga, kopi, dan segala macem,” Felicia ikut menimbrung. Sepertinya tersedak tadi adalah dari suapan terakhirnya. Gadis itu sudah selesai makan.

“Em maaf, ada yang liat El nggak?”

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

“Zeno, minta tolong map nya ditata yang rapih ya. Pointernya juga di benerin biar nanti nggak harus pindah-pindah slide dulu kalau di kelas.”

Zeno mengangguk. Meski hanya dua tangan, Zeno cukup cekatan menyusun kertas-kertas kemudian mengaitkannya pada map di atas meja. Dirinya juga mengatur slide pada posisi awal lagi seperti yang Selatan bilang tadi.

“Lo murid baru ya.. kak?”

“Iya, gue baru banget masuk hari ini. Sorry banget kalau terkesan nyuruh-nyuruh terus.” Laki-laki bermata lentik yang sedang sibuk di depan komputer itu menoleh-tersenyum kearah Zeno sebentar. Suara keyboard di tekan menjadi salah satu berisik diantara mereka.

“Aman aja kak, gue bantu.” Jempolnya terangkat. Zeno kembali sibuk dengan kertas-kertas itu. Sesekali matanya akan melirik kearah arloji di tangan kanannya. Rencananya ia akan mengajak gadis berjepit rambut itu pulang bersama.

Selatan berdiri sambil menarik kecil bagian bawah seragamnya. Bahunya di regangkan sejenak. Tangan laki-laki ini meraih salah atu map yang sudah selesai disusun oleh Zeno, membukanya, dan menerbitkan senyum pada bibirnya.

“Bagus. Kerjaan lo rapih gue suka.”

“Thanks kak. Ini lama ya?”

“Sampai anak OSIS ambil, mungkin.”

“Maksud gue, pulangnya kak. Gue ada janji.” Zeno berhenti dengan kegiatannya. Sebenernya dia belum ada janji, dia bahkan belum menawari gadis itu sama sekali.

“Kurang tau, tapi kayanya iya deh bakal lama.”

Pernyataan dari Selatan membuat Zeno menghembuskan nafasnya. Mungkin lain kali. Ia akhirnya kembali melanjutkan kegiatannya. “Gue belum jadi apa-apa udah sibuk ya.”

Selatan terkekeh. “Ya gini, gue aja baru masuk langsung sibuk,” Selatan menjeda.

“Kok bisa si?”

“Gue habis homeschooling.”

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

APASII BOSANN WHHAHAH
boring ahh gara' pikirannya kebagi-bagi
thanks udah bacaa walaupun gajelas bruh😉

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang