"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
“El, lo liat sesuatu nggak?”
El mengernyit, gerakan kakinya yang akan naik keatas motor itu terhenti sejenak. “Mau gue tebak?” El menyeringai kecil. Tangannya meraih helm yang tergantung pada gas motornya.
“Coba.” Zeno terkekeh.
“Bunganya lo kasih Kalla,” El menyahut dan Zeno tertawa keras mendengarnya. Tangannya bergerak memakai helm kemudian menaikkan bagian kacanya. “Cowok nggak modal.” El geleng-geleng.
“Rezeki itu, lagian lo kasih begituan ke gue.” Zeno juga mulai menaiki motornya. Ledekan Tasya dan Feli tadi masih berputar di kepalanya. Cocok.
“Lo ketara banget lagi naksirnya.”
“Bodo ah. Nongki nggak?”
“Yah. Gue kabarin nanti.” El melajukan motornya menjauh dari area sekolah. Dirinya sudah beberapa hari tidak mengunjungi ibunya di rumah sakit dan sekarang El memilih pergi kerumah sakit.
Di sisi lain, Calla baru saja selesai membayar makanan yang dia beli. Badannya membungkuk sejenak, bibirnya menyunggingkan senyum. “Makasi,” ujarnya sebelum setelahnya berlalu. Langkahnya ringan seperti baru menemukan nafasnya lagi. Ayahnya membaik.
Di seberang sana Calla melihat seseorang yang tidak asing. Itu El. Ia tengah melihat ke arah Calla juga, dan Calla melambaikan tangannya. Gadis ini seperti lupa kata-katanya kemarin.
“El—” laki-laki seperti hendak berlalu tapi urung setelah ia memanggilnya. Netra Calla berkeliling memastikan Tidak ada kendaraan yang akan lewat. Ia berlari kecil menghampiri El yang diam berdiri dengan botol mineral di tangannya. “Hai.” Calla melambai lagi.
El mengernyit, bibirnya berkedut singkat melihat tingkah gadis dengan jepit rambut itu. “Ngapain?” tanya El.
“Beli makan, kamu mau kemana?” Calla mendongak memperhatikan El yang mengalihkan pandangannya.
“Mau ke rumah sakit.”
Alis Calla tertaut. “Ngapain? Ada yang sakit?”
El mengangguk. Dirinya mulai berjalan ke arah motor yang ia letakkan di samping minimarket. Calla membuntuti di belakangnya. “Mau kemana—”
“Mau ikut, ayah baikan,” sahut Calla cepat. Gadis ini masih sibuk dengan sekitarnya hingga Tidak sadar El tersenyum kecil kearahnya.
“Kok ikut.”
“Ya ikut, nggak boleh?”
“Kan gue nggak jelasin.”
Calla berhenti, El juga. Keduanya saling pandang sejenak. “Udah nggak penting.”