misaligned ~20

125 52 71
                                        

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

“YAYY PULANG!” seru Tasya yang berdiri setengah melompat. Tangan Feli refleks terangkat memukul pelan bagian belakang kepala gadis di sampingnya.

“Berisik toa.”

“Jahat.” Calla terkekeh melihat kelakuan dua gadis di samping mejanya. Netra Tasya beralih kemudian berjalan kearah Calla, gadis itu menggandeng sedikit menarik gadis ini. “Ayok, lo aja yang pulang sama gue,” ujarnya. Dagunya terangkat kearah Feli kemudian berpaling dengan cepat.

Felicia tersenyum miring, sedikit menganggap serius candaan Tasya. “Ya udah deh, gue tinggal beneran ya...” Ia berjalan lebih dulu di buntuti Tasya yang menggandeng Calla.

“Lii, gue bercanda ya!”

Gadis di atas motor itu terkekeh. Helmnya sedikit bergoyang.

“Gih, di tinggal beneran nanti kamu, Sya.”

“Eh, liat El—” Tasya menjeda. Pandangan ketiganya beralih pada sosok tinggi yang sudah berlalu cepat—lebih terburu-buru dari biasanya. Suara mesin motor menyahut, laki-laki itu hilang setelah berbelok keluar.

Feli tidak menampakkan ekspresi apapun sedangkan Calla tengah menembak apa yang terjadi pada laki-laki itu. Matanya mengerjap beberapa kali.

Kehadiran Zeno memecah keheningan diantara mereka. Nafasnya tersengal, matanya sesekali melirik arloji di tangan kanannya.

“Kal.” Bukan hanya Calla, ketiganya menoleh bersamaan. “Mau pulang bareng?”

Mulut gadis ini sempat terbuka tapi kemudian urung.

“Kal?”

Zeno yang merasa suara itu di belakangnya, berbalik. Keningnya terlipat.

“Aku pulang sama Manan.”

Tasya sudah mengenakan helm. Kedua gadis diatas motor itu hanya menyimak sambil sesekali berbisik kecil.

Zeno yang ingin bertanya mengurungkan niatnya. Laki-laki itu melihat bagaimana Manan menunggu Calla benar-benar duduk sebelum dirinya masuk pada kursi kemudi. Suara mesin menyala, kaca diturunkan perlahan. Gadis berjepit rambut di dalam melambaikan tangannya pada dua gadis di atas motor dan.. Zeno mungkin. Hening hingga mobil itu menghilang setelah gerbang masuk.

Zeno mengarahkan pandangan pada Tasya dan Feli yang sedang cekikikan. “Kalah cepet lo, Zen,” kata Tasya mengompori. Netra Zeno sempat membesar tanda dirinya kaget.

Felicia tertawa keras-keras. “Yah overthinking.”

“Yah, Kalla-nya pilih Manan.”

“Yah—”

“Diem nggak kalian?!” Tawa keras menyambar. “Manan siapanya sih?!”

“Hahah santai-santai, Manan anak supirnya doang kok,” Feli berujar sambil memundurkan motornya—membawanya keluar dari parkiran. Penyataan itu membuat Zeno bungkam sejenak tapi kemudian senyum terukir pada wajahnya.

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang